Meski matahari telah bersinar terang, sosok seorang gadis seolah tak terusik sedikit pun dengan hawa panas di dalam gubuknya. Dia masih tertidur lelap, mengabaikan hari mulai beranjak siang.
Irene bisa tidur senyenyak ini setelah merasa puas karena rencananya untuk menjahili Reiki sukses besar. Semalam Reiki tampak begitu menderita karena rasa gatal dan panas yang menyerang punggungnya.
Tidak ada niat lain di hati Irene melakukan itu selain hanya ingin membalas sedikit penderitaan yang dirasakannya karena ulah Reiki. Menurutnya sesekali pria seperti Reiki harus diberi pelajaran, pria egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan istrinya.
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Irene yang sedang berbaring nyaman di kursi, mulai terusik. Perlahan dia membuka matanya, mengerjapkannya untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang tertangkap iris matanya. Dia bangun dan merubah posisinya menjadi duduk. Merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal dan linu di beberapa bagian karena semalaman tidur di kursi yang keras.
Lagi, suara ketukan pintu itu terdengar. Irena pun berdiri dan melangkah gontai menuju pintu. Dia buka pintu itu tanpa ragu, dan tersenyum manis ketika melihat Bibi Brigida yang tengah berdiri di depan pintunya.
“Selamat siang, Nona,” ucap Bibi Brigida. Irene mengerutkan dahinya mendengar kata siang yang diucapkan Bibi Brigida, cepat-cepat dia melongokan kepalanya keluar dan dia pun terbelalak mendapati begitu terangnya di luar sana, bahkan sinar matahari bersinar begitu teriknya.
Dia menggaruk kepalanya setelah menyadari betapa lamanya dia tertidur. Betapa senangnya dia semalam karena berhasil membuat Reiki menderita, ya walaupun penderitaan pria itu belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaannya. Mungkin rasa senang itu berefek pada alam bawah sadarnya sehingga dia bisa tidur begitu nyenyaknya meskipun hawa di dalam gubuk begitu pengap dan panas.
“Selamat siang juga, Bibi,” sahut Irene disertai senyuman ramah yang tersungging di bibirnya.
Bibi Brigida mengulurkan sebuah plastik yang bisa Irene tebak apa isinya, tentu saja itu adalah makanan untuknya. Irene menerimanya tanpa ragu.
“Anda pasti sudah lapar.”
“Iya, sedikit.” Irene mengelus-elus perutnya yang memang terasa sedikit sakit karena kelaparan. Lalu dia mengintip ke dalam plastik dan sempat tertegun ketika melihat hanya ada satu bungkus nasi di dalamnya.
“Tuan Muda sudah makan, jadi bungkusan itu hanya untuk Nona.” Bibi Brigida menjelaskan seolah dia sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Irene saat ini.
“Oh begitu, jadi selama ini Reiki membawa makanan dari tempat Bibi ya?” Bibi Brigida mengangguk yang dibalas senyuman lebar oleh Irene.
Reiki merahasiakan darimana dia selalu mendapatkan makanan selama ini, tapi sekarang Irene sudah mengetahuinya. Kelak dia tidak perlu menahan lapar lagi jika Reiki terlambat pulang. Dia bisa pergi sendiri ke rumah Bibi Brigida untuk menumpang memasak mungkin jika dia rindu dengan masakan Indonesia. Selama di tempat itu, dia selalu memakan roti dan beberapa makanan khas di daerah itu. Jujur saja terkadang Irene tidak menyukainya, dia merindukan masakan Indonesia. Mungkin membuat nasi goreng tidak ada salahnya, pikir Irene.
“Bi, rumah Bibi di sebelah mana? Jika saya ingin menumpang memasak di dapur bibi, boleh?”
“Nona ingin memasak sendiri?” Kali ini Irene yang memberikan respon dengan anggukan kecilnya.
“Apa nona tidak menyukai masakan saya?”
“Bukan begitu, Bi. Masakan bibi sangat lezat. Hanya saja terkadang saya rindu masakan Indonesia. Jadi saya ingin memasak sendiri.”
“Oh iya, saya mengerti nona. Rumah saya cukup jauh, sekitar 2 km dari sini.” Irene ber-oh pendek mendengar penjelasan Bibi Brigida yang menunjukan letak rumahnya. Dia dengarkan dengan seksama ketika Bibi Brigida memberitahukan arah jalan mana saja yang harus dia tempuh menuju ke rumahnya dan Paman Benny. Sejauh ini Irene cukup memahaminya, dan dia memutuskan untuk mencoba pergi ke sana nanti.
“Apa nona membutuhkan yang lain?” Bibi Brigida telah selesai menjelaskan letak rumahnya. Irene menggeleng karena merasa tak membutuhkan apa pun lagi.
“Saya pamit dulu, Nona. Silakan mampir ke rumah saya nanti.”
“Pasti, Bi. Terima kasih.” Irene masih memasang senyum ramahnya seraya menatap punggung Bibi Brigida yang perlahan namun pasti mulai menjauh dari pandangannya.
Irene masuk ke dalam gubuk, menutup pintunya serapat mungkin kemudian melangkah menuju meja. Dia mendudukan dirinya di kursi, lalu mulai menyantap makanan yang dibawakan Bibi Brigida.
“Kenapa tadi gue gak nanyain soal si Mr. Gamer belagu itu sama Bibi Brigida?” Gumamnya, dia baru saja mengingat tentang Reiki yang sejak semalam belum juga kembali.
“Mungkin kulitnya makin parah, kan? Apa gue udah kelewatan ya?” Irena tak hentinya bergumam, memikirkan sekali lagi akibat perbuatannya yang mungkin saja benar-benar telah mencelakakan Reiki.
Tanpa sadar Irene beranjak bangun dari kursinya, dia tinggalkan makanannya yang baru dimakannya sedikit. Dia meraih pintu, namun dia jeda niatnya untuk membuka pintu ketika akal sehatnya kembali menguasai dirinya.
“Tunggu, ngapain gue khawatirin dia? Dia aja gak peduli sama gue. Lagian sesekali biar dia ngerasain apa itu namanya penderitaan. Biarin ajalah, gue gak peduli sama dia.” Dia kembali melangkah menuju kursi dan duduk santai lagi di sana. Menyantap makanannya dengan tenang hingga makanan itu tandas tak bersisa.
“Gue mau mandi dulu, terus jalan-jalan. Si Mr. Gamer belagu itu bilang di dekat sini ada laut kan? Gue mau ke sana aja.” Setelah mengambil keputusan itu, Irene meraih handuknya. Dia bersenandung kecil pergi menuju kakus untuk mandi. Dengan susah payah dia menimba air di sumur untuk mandinya. Dia harus melakukannya sendiri karena tak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong olehnya.
“Ahh,” ringisnya ketika telapak tangannya sedikit lecet karena tali timbaan yang terlalu kasar dan keras. Dia meniup-niup luka lecet yang perlahan mulai terasa perih.
“Huuh... sial, gue hidup udah kayak orang susah aja. Reiki b******k, ini semua gara-gara lo!” Teriaknya, meluapkan amarahnya. Dia tidak peduli jika ada orang yang mendengarnya dan menganggap dia gila karena bicara sendirian. Dia hanya berusaha meluapkan emosi yang terasa menyesakkan dadanya.
“Gue bener-bener benci sama dia, kenapa sih dia kejam banget sama gue?” Kedua mata indah Irene mulai berkaca-kaca, rasa sedih tiba-tiba menyerangnya. Seumur hidupnya inilah pengalaman pertamanya menjalani kehidupan semenyiksa ini. Biasanya dia hidup dengan berbagai kenyamanan.
Di rumahnya, orangtuanya begitu menyayanginya, memberikan cinta yang berlimpah untuknya. Di sekolahnya dulu pun tak jauh berbeda. Dia yang memiliki paras cantik, tubuh tinggi semampai dan kepintaran yang di atas rata-rata, membuat teman-temannya berlomba-lomba menawarkan persahabatan padanya. Sejauh ini Irene tidak pernah membeda-bedakan dalam pergaulan. Dia berteman dengan siapa pun di saat dia masih duduk di bangku sekolah. Sedikit berbeda setelah dia duduk di bangku kuliah. Kesibukannya sebagai model profesional membuatnya sering bolos. Dia juga tak terlalu mempedulikan tentang pertemanan lagi, alhasil di kampusnya dia tak memiliki banyak teman. Mungkin hanya Ririn satu-satunya teman baiknya di kampus.
Kendati demikian, dia bahagia dengan kehidupan di dunia pendidikannya. Hal serupa dia rasakan di dunia kerjanya. Dia selalu dimanjakan oleh semua staff apalagi oleh Ramses. Pria yang diam-diam disukainya itu selalu memperlakukannya dengan baik. Sangat jauh berbeda dengan Reiki yang justru menyiksanya seperti ini.
Irene tak peduli lagi dengan persyaratan yang diberikan Reiki padanya sebelum mereka menikah dulu. Pria maniak game itu meminta agar Irene jangan pernah membahas tentang perceraian. Setelah kejadian ini, Irene tak merasa tertarik untuk memenuhi persyaratan itu. Kelak jika hubungannya dengan Ramses berkembang ke jenjang yang lebih serius di luar pekerjaan, dia putuskan untuk bercerai dengan Reiki dan hidup bahagia bersama Ramses.
Irene tersenyum puas setelah pemikiran ini tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia hapus jejak-jejak air mata di wajahnya dengan punggung tangannya.
“Irene, lo harus kuat. Lo gak boleh cengeng. Lo harus sabar sampai lo punya kesempatan buat cerai sama Mr. Gamer belagu itu. Gue yakin pada akhirnya gue pasti akan terbebas dari si b******k itu,” gumamnya, menyemangati dirinya sendiri.
Mengabaikan rasa perih di tangannya, Irene kembali menimba air. Menjinjing ember yang telah penuh dengan air dengan perlahan, menuju kakus. Dia menggulirkan matanya melihat sekeliling sebelum masuk ke dalam kakus untuk melepas pakaiannya, dia tidak ingin melakukan kecerobohan yang sama seperti kemarin. Dia pun bergegas mandi setelah diyakininya tak ada siapa pun disana. Kali ini dia bisa melakukan aktivitas mandinya dengan tenang tanpa perlu khawatir ada orang yang mengintipnya.
Hanya 5 menit waktu yang dihabiskan Irene untuk mandi. Dia memakai pakaiannya dengan cepat, hanya pakaian santai mengingat dia akan berjalan-jalan di pinggir laut. Dia mengenakan celana jeans selutut, kaos tanpa lengan yang ditutupi sebuah kardigan tipis berwarna putih yang senada dengan kaosnya.
Langit di atas sana terlihat sedikit mendung, tak seterik tadi. Cuaca yang sangat mendukung sehingga Irene merasa keputusannya untuk berjalan-jalan hari ini merupakan keputusan yang sangat tepat.
Dia berjalan santai menuju ke arah laut yang pernah dijelaskan Reiki. Suara deburan ombak laut seketika membuat wajah Irene yang beberapa hari ini tampak muram, kini berubah 180 derajat menjadi berbinar senang. Dia tak sabar untuk melihat keindahan laut itu, dia pun berlari untuk mempersempit waktunya.
Dia ternganga dengan mulutnya yang terbuka lebar di kala hamparan laut luas kini terpampang jelas di depan matanya. Sayang... tak ada pasir putih yang bisa dia telusuri disana. Hanya terdapat beberapa batu karang berukuran raksasa yang memisahkan daratan dengan air laut.
Irene menatap sekeliling guna mencari spot yang pas untuk dia berdiri menikmati jernihnya air laut. Tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan seorang pria muda yang tengah mengikat beberapa perahu yang berjajar rapi di pinggir laut. Tanpa pikir panjang Irene menghampirinya.
“Buenas tardes, señorita,” sapa si pria yang sepertinya sama sekali tidak dimengerti oleh Irene. Dia membalasnya hanya dengan anggukan kepala dan senyumannya.
Kecanggungan pun terjadi, Irene kebingungan sendiri karena tak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan pria itu. Dia tidak mengerti bahasa Spanyol dan dia pun sangsi pria tersebut mengerti bahasa Inggris.
“Dia bilang selamat siang, kok lo gak balas sapaannya?” Irene terbelalak seketika, baru saja dia mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya. Secepat kilat dia berbalik badan, senyum sumringahnya hilang bagai hembusan angin ketika mendapati sosok Reiki sedang berdiri di hadapannya sekarang.
Irene menelisik keadaan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Dia mendengus ketika melihat senyuman yang tersungging di bibir Reiki. Pria itu tak terlihat tersiksa sedikit pun karena rasa gatal dan panas pada punggungnya, sangat berbeda dengan semalam.
“Lo udah baikan?” Tanya Irene dengan nada ketus pada suaranya. Entahlah dia hanya tidak puas melihat Reiki sudah baik-baik saja sekarang. Padahal harapannya dia ingin melihat Reiki setidaknya sengsara selama berhari-hari karena kulitnya yang gatal-gatal itu.
“Kayak yang lo liat, gue udah baikan kok,” sahut Reiki seraya dia rentangkan kedua tangannya ke samping. Irene memutar bola matanya malas. Entah mengapa rasa bahagianya tadi menguap begitu saja hanya karena keberadaan seorang Reiki. Irene semakin yakin bahwa keberadaan Reiki di dekatnya memang membuatnya tak nyaman.
“Lo keliatan gak suka denger gue baik-baik aja?” Sindir Reiki, dia tersenyum miring membuat Irene kembali memutar matanya sebal.
“Ya nggaklah, gue seneng kok denger lo udah baikan.”
“Masa? Kok gue gak percaya ya?” Irene mendelik tajam tak menahan sedikit pun kekesalan yang tengah dia rasakan.
“Lo emang gak pernah percaya kan sama gue? Lo selalu berpikiran negatif tentang gue. Terserah lo deh, gue gak peduli.” Irene melangkahkan kakinya menjauhi Reiki. Dia tidak tahan berlama-lama bicara dengan pria itu yang ujung-ujungnya akan membuatnya sakit hati.
“Ren, lo mau kemana?!” Reiki sedikit berteriak ketika melihat Irene berjalan mendekati salah satu perahu yang diikat di pinggir laut. Tanpa meminta izin dan dengan kurang ajarnya, Irene melepaskan ikatan tali pada perahu itu. Tanpa ragu dia menaiki perahu tersebut. Mendayungnya sehingga perahu itu mulai mengapung menjauh dari daratan.
“No te vayas, hoy habrá una tormenta!”
Reiki terbelalak mendengar teriakan si pria pemilik perahu. Kepanikan mendera Reiki saat itu juga, dia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Irene jika dia tidak secepatnya menghentikan kegilaan yang sedang dilakukannya.
Reiki berlari mengejar perahu Irene yang belum terlalu jauh dari daratan. Tak peduli meskipun pakaiannya basah kuyup karena dia harus menceburkan dirinya ke dalam air. Dia berenang cepat, menggapai perahu yang dinaiki Irene dan dengan usahanya sendiri dia naik ke atas perahu.
“Ngapain lo ikut-ikutan ke sini?” Tanya Irene, tak suka.
“Lo gila ya, ngapain lo naik perahu segala? Lo mau cari mati, cowok tadi bilang hari ini mau ada badai makanya dia ikat perahu-perahunya di pinggir laut. Lo liat sendiri gak ada satu pun nelayan disini kan? Cepet, kita harus balik ke daratan!” Reiki membentak Irene yang nyaris mencelakakan dirinya sendiri. Dia berusaha merebut dayung yang berada di tangan Irene. Tak disangka Irene mempertahankan dayung di tangannya dengan begitu gigihnya. Tak dia biarkan Reiki merebut dayung itu.
“Ren, sini dayungnya!” Bentak Reiki lagi.
“Jangan bentak gue. Lo penakut banget sih jadi cowok. Asal lo tahu gue ini udah sering ikutan olahraga dayung, gue udah ahli. Jadi lo gak usah khawatir.”
“Ini bukan masalah lo jago ngedayung perahu tapi bentar lagi mau ada badai. Lo ngerti, kan? Kita harus cepet balik ke daratan.”
“Lo kalau mau balik, balik aja sendiri. Biarin gue sendiri, lagian siapa yang suruh lo ikut-ikutan naik perahu ini?”
“Lo ngerti nggak sih situasinya?”
“Gue ngerti tapi kayak yang lo lihat, badainya belum dateng, kan? Lagian darimana cowok itu tahu mau ada badai? Langit cerah gini kok, masa ada badai?” Reiki memijit pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar kekeras kepalaan Irene. Istrinya ini memang pemberontak yang sulit sekali dikendalikan.
“Dia itu nelayan, Ren. Jadi dia udah hafal betul soal kondisi laut. Mungkin aja dia juga liat prakiraan cuaca di siaran berita. Lo lihat langit juga mulai mendung kan? Please... kita balik ya.” Kali ini Reiki mencoba membujuk istrinya dengan lembut. Tak ada bentakan apalagi teriakan. Reiki yang memang jarang tersenyum, mencoba menyunggingkan senyum seramah mungkin pada istrinya.
“Ren, sini kasih dayungnya ke gue.” Dia ulurkan tangan kanannya hendak mengambil dayung di tangan Irene. Dia tersentak dengan kedua matanya membulat sempurna ketika yang dia dapatkan justru tepisan kasar dari Irene.
“Gue cuma jalan-jalan bentar kok. Gak bakalan lama. Sebelum badainya datang, kita pasti udah balik ke daratan. Lo tenang aja.” Reiki mendesah lelah, dia gelengkan kepalanya.
“Ck... ya udah, terserah lo. Kalau ada apa-apa jangan nyalahin gue.”
“Gak bakalan ada apa-apa kok. Lo pengecut banget sih jadi cowok.” Reiki memundurkan tubuhnya agar membuat jarak sejauh mungkin dengan Irene. Sudah cukup, kesabarannya telah habis menghadapi istri keras kepalanya itu.
Irene tak main-main dengan ucapannya, dia terus mendayung perahu hingga perlahan namun pasti mereka semakin menjauh dari daratan. Irene mendayung dengan bersenandung riang, dia abaikan sepenuhnya tatapan tajam yang dilayangkan Reiki padanya. Sesekali dia menjulurkan lidahnya serta memasang pose wajah mengejek Reiki habis-habisan. Reiki tak merespon apa pun, dia tetap menatap tajam pada istrinya yang terlihat begitu riang hari ini.
Tanpa sadar perahu mereka sudah berada di tengah-tengah lautan, dan bencana itu pun datang tanpa diundang.
Petir saling menyambar di atas langit sana. Langit mendung itu perlahan semakin menghitam. Awan-awannya siap menjatuhkan air hujan yang pastinya akan turun begitu derasnya. Angin mulai berhembus kencang membuat air laut bergoyang hebat, ikut menggoyangkan perahu yang dinaiki sepasang pengantin baru itu.
“Lo lihat, kan? Sekarang lo percaya mau ada badai?” Irene mengabaikan sepenuhnya perkataan Reiki yang sarat dengan amarah yang sedang ditahannya. Irene bergegas mendayung perahu kembali ke daratan.
Namun, semuanya terlambat ketika air hujan mulai turun dengan derasnya. Angin berhembus semakin kencang menggoyangkan air laut. ombak-ombak besar tercipta dan siap menggulung apa pun yang berada di atas permukaan laut.
“Reiki!!” Teriak Irene, panik ketika perahu yang mereka naiki semakin bergoyang hebat bahkan nyaris terbalik. Reiki tak kalah paniknya, namun sebagai seorang pria sudah kewajibannya untuk melindungi istrinya. Dia berusaha bersikap tenang, meski sulit.
Dia memajukan tubuhnya mendekati Irene, merebut paksa dayung dari tangan Irene. Sekuat tenaga dia mencoba mendayung perahu mereka agar kembali ke daratan.
“Kyaaaaaaa!!” Teriak Irene seraya menutupi kedua telinganya dengan tangannya, di kala petir saling menyambar yang mencipatakan suara guntur yang memekakan telinga. Sambaran petir terasa begitu dekat dengan mereka. Irene ketakutan setengah mati, berbeda dengan Reiki yang mencoba bersikap tenang meski tak dipungkirinya jantungnya berdentum cepat karena takut.
“Rei, ombaknya. Ombaknya mau kesini!!” Irene berteriak histeris, matanya menangkap gulungan ombak besar yang mendekati mereka. Reiki semakin mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk mendayung perahu secepat mungkin.
Tentu saja usahanya sia-sia, kekuatan alam jauh lebih luar biasa dari tenaga yang dimiliki Reiki.
“Ren, pegangan yang kuat!!” Titah Reiki, yang untuk pertama kalinya langsung dituruti Irene tanpa penolakan. Dia mencengkram erat pinggiran perahu.
Hantaman ombak itu pun menggilas perahu mereka. Perahu seketika berbalik, menjatuhkan Irene dan Reiki ke dalam air laut dengan sekali terpaan.
Reiki mencoba berenang menyelamatkan diri. Berbanding terbalik dengan Irene yang meronta-ronta dengan paniknya di dalam air. Reiki berusaha menghampiri Irene, meraih tangannya lalu membawanya naik ke permukaan air.
“Ren, napas, Ren. Atur napas lo,” ucapnya seraya dia tepuk berulang kali wajah sang gadis yang sedang memejamkan kedua matanya.
Reiki panik bukan main, Irene tak mau membuka matanya, dia kehilangan kesadarannya.
Hujan masih turun begitu derasnya, namun beruntung ombak besar tak lagi mendatangi mereka. Jikalau ombak itu kembali datang, Reiki sangsi kali ini mereka akan selamat.
Dia kembali berenang dengan membawa Irene bersamanya. Ombak tadi telah menyeret mereka dari tengah lautan hingga mendekat ke daratan. Namun bukan daratan tempat mereka datang tadi, melainkan daratan dari pulau lain. Reiki tak punya pilihan selain membawa Irene secepatnya ke daratan tersebut.
Reiki terbatuk dengan hebatnya ketika akhirnya usahanya membuahkan hasil. Dia telah berhasil membawa Irene ke daratan asing yang tidak dikenalnya. Namun setidaknya mereka telah selamat karena berhasil keluar dari laut.
Meski tubuhnya terasa lelah karena sudah berenang melawan arus air laut disertai membawa tubuh Irene yang tidak bisa dikatakan ringan, dia tetap memangku tubuh Irene. Dia berlari menuju sebuah gua kecil yang cukup jauh dari air laut, setidaknya di tempat itu mereka bisa melindungi diri dari air hujan yang hingga detik ini masih deras mengguyur bumi.
“Ren, bangun. Ren!” Reiki mencoba membangunkan Irene dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Akan tetapi percuma karena si gadis masih betah memejamkan kedua matanya. Tak ada reaksi apa pun yang diberikan tubuh Irene, membuat Reiki semakin panik dibuatnya.
Dia letakan jari telunjuknya di depan lubang hidung Irene. Hembusan napas Irene masih terasa meskipun semakin lemah seiring berjalannya waktu.
Reiki belum pernah melakukan penyelamatan pertama pada seseorang yang tenggelam, tapi tak ada pilihan selain mencobanya. Dia mulai menekan-nekan d**a Irene, sesekali dia memberikan napas buatan pada Irene. Dia tak menyerah meskipun usahanya tak membuahkan hasil apa pun.
Terus dan terus dia menekan d**a Irene, memberikan napas buatan juga pada Irene tanpa henti.
“Ren, please... bangun. Buka mata lo,” gumamnya, tapi tubuh Irene belum memberikan respon apa pun. Kedua matanya masih terpejam erat, dan untuk pertama kalinya Reiki begitu ketakutan seperti ini. Dia takut tidak bisa menyelamatkan Irene dan kehilangan gadis itu untuk selamanya.