Irene mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya kemerahan yang berasal dari api yang menyala tertangkap iris matanya. Dia pandangi sekelilingnya begitu kedua matanya telah terbuka sempurna. “Lo udah sadar?” Seketika Irene menatap ke arah sumber suara. Sosok pria yang familiar baginya tengah duduk santai di dekat perapian. Irene berusaha untuk bangun, namun tak kuasa karena tubuhnya yang terasa begitu lemas. Menyadari ketidakberdayaan Irene, Reiki bergegas menghampiri sang gadis dan membantunya untuk duduk. “Kita ada dimana?” Tanya Irene bingung seraya kedua matanya masih bergulir menatap sekelilingnya yang tampak begitu asing baginya. Jelas dia tidak sedang berada di dalam sebuah ruangan. Tempatnya berada sekarang sangat gelap, pengap dan menyeramkan menurut Irene. “Kita ada di dalam gua.

