“b*****t lo, Rik!” Attar merenggut kerah kemeja Arik dan menerjangnya sebelum Arik menyadari apa yang sedang terjadi. “Berani-beraninya lo bicara kurang ajar sama Papa!” Ya, Attar memang menguping dari luar. Ia sampai mendiamkan panggilan telepon dari adiknya. Sudah lama ia ingin menghajar Arik, sejak sikap Arik yang suka petantang-petenteng bersama Risa dengan fasilitas pemberian ayahnya. Tidak jarang ayahnya tertegun melihat tagihan kartu kreditnya. Padahal, ibu Arik santun dan sederhana. Apalagi, ayahnya telah menganggap Arik seperti anaknya sendiri, bahkan sempat memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Bukan hanya itu yang menjadi sumber amarah Attar, tetapi juga ketika adiknya ikut dilibatkan sebagai tumbal. Seakan belum cukup segala pengorbanan ayahnya, dirinya, serta adiknya yang

