51. Pursuit of Happiness

3071 Kata

“Setelah kita menikah nanti, aku ingin kamu berhenti bekerja,” ucap Alarik sembari terus mengemudi. Pandangannya lurus ke depan, mengabaikan Thalia yang terus menangis. Wanita dengah air matanya adalah hal yang lumrah. Tega tidak tega, ia harus tega, tak akan luluh begitu saja. Biarlah ia disebut kepedean, terlalu dini membahas masa depan. Bila diterka, Bimantara juga tak akan keberatan dengan lamarannya. “Nggak bisa! Aku juga masih kuliah!” Thalia meradang. “Kenapa harus repot-repot menyelesaikan kuliahmu, jika hanya akan berakhir jadi ibu rumah tangga?” “Astaga! Picik sekali kamu, Mas!” seru Thalia tak percaya. Itu adalah tamparan besar tepat di wajahnya. Ia menolak Costa karena sayang dengan kariernya dan meminta pria itu menunggu sampai ia selesai wisuda. Ternyata, lelaki yang mema

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN