Costa mengantarkan Thalia ke bawah. Attar telah menunggu di depan lobi. Punggung Attar bersandar malas di samping SUV barunya. Raut mukanya datar. Attar memberi isyarat dengan kepalanya agar Thalia masuk terlebih dahulu. Thalia terbelalak memelototi mobil itu. “Bagaimana perkembangannya?” tanya Costa nyaris berbisik. “Belum sempat, Mas. Nanti saya bicarakan dengan Atha.” Costa mengangguk-angguk. “Kamu suka mobilnya?” Attar hanya merespons dengan menaikkan kedua ibu jarinya secara sembunyi-sembunyi. Senyumannya terkembang lebar. “Makasih banyak, Mas.” “Sama-sama.” “Tapi, Mas,” ia mendekatkan kepalanya pada Costa lalu berbisik mencoba peruntungan lain, “kalau nanti saya sukses membujuk Atha, tolong sekalian bayarin pajaknya, ya, Mas.” “Hah?!” Costa terperangah. Belum sempat ia melaya

