“Sejak kapan, Rik?” Lala menyeret putranya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Thalia, sudah lebih dahulu masuk kamarnya setelah sebelumnya mengempaskan pintu dengan kasar. Arik diam seperti tungku. Mulutnya terkunci rapat. Matanya memerah menatap lantai. “Arik, jawab!” bentak Lala seraya mengguncang bahu anaknya kuat-kuat. Arik lalu membuang muka memandang langit-langit. Tenggorokannya tersumbat. Ia tidak menyangka, perasaan yang telah ia simpan rapi bertahun-tahun lamanya, terbongkar di hadapan ibunya sendiri, hanya karena ia kurang berhati-hati menjaga mulutnya. Ia berkata dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan, “Sudah lama, Bu. Jauh sebelum Ibu menikah dengan Om Bima.” Lala terperenyak. Tungkainya lemas dan ia terduduk di pinggiran ranjang. “Semenjak kalian masih SMA?” tukasnya

