Pukul enam lewat sedikit, Costa sudah siap dengan pakaian kerjanya. Aroma kopi menuntunnya bergegas ke dapur. Saat tidur semalam, ia yakin bibirnya mengulas senyuman lebar sampai pagi. “Pagi, Sayang,” ia melingkarkan lengan ke pinggang Thalia dan mengecup pipinya. “Kamu bikin apa?” “Pagi, Mas. Nggak ada apa-apa, kulkasnya kosong,” sahut Thalia. Ia hanya memasak nasi dan menghangatkan sisa sup sebagai menu sarapan paginya. Sedangkan untuk Costa, ia menemukan roti dan selai kacang dalam lemari. Secangkir kopi pahit ikut terhidang di atas meja. Costa mengakui, belakangan ia lebih sering membeli makanan jadi yang tinggal dihangatkan sesampainya di rumah. “Calon Nyonya Arditya belum mandi?” Ia mengangkat alisnya mendapati Thalia masih mengenakan piyama semalam. Rambutnya dikuncir berantakan

