Saat ini Rara sudah berada di apartemennya. Tadi dia meminta izin pamit sebentar ke apartemen dengan alasan Nalen membutuhkan dirinya. Padahal anaknya aman bersama dengan bunda Inggit dan mamah Dita. Tentu saja Rara tidak sendiri, Dika selalu berada disampingnya. Dika yang posisinya tengah menonton televisi, jadi tidak fokus melihat pergerakan Rara yang mondar-mandir di hadapannya. "Ra," Dika menepuk sofa disebelahnya, "Duduk sini." Bak kucing penurut, Rara menuruti Dika dan duduk disamping sahabatnya itu. "Tarik nafas," ujar Dika yang diikuti Rara, "Hembuskan." Rara menghembuskan nafasnya perlahan. Sedikit tenang perasaannya. "Mendingan?" Rara menganggukkan kepalanya. "Tenang, gue yakin pasti nanti ketemu titiknya siapa dalang di balik ini semua." "Tapi ya Dik," kepalanya langsu

