"Gue, mau minta maaf." Giska menoleh, menatap Andra yang juga kini menatapnya, mereka berdua duduk di taman depan rumah Jagat. Giska mengiyakan ajakan Andra untuk berbicara. "Maaf untuk apa?" tanya Giska. "Luna, pertunangan, dan omongan gue malem itu," ujar Andra pelan. Pria itu menghela nafas. "Gue keterlaluan, gue bahkan suruh lo untuk jauhin gue, maaf." Giska tersenyum kecil. "Gak papa, lo gak salah kok." "Gue salah Giska, gue salah," ujar Andra kekeuh. "Yaudah, lo salah," jawab Giska pasrah. Andra menoleh, ia merasa tersentil, harusnya Giska saat ini menamparnya, memakinya, atau memukulinya, bukannya tersenyum seperti itu, hal itu malah membuat rasa bersalah Andra semakin besar. "Pertunangan gue batal sama Luna." Giska mengangguk. "Baguslah, dia jahat, gak cocok sama lo." "Lu

