Bab 10 – Mantan Istri Datang Menuntut

424 Kata
Hari itu langit cerah, tapi hati Arina terasa gelap. Ia baru saja selesai menata vas bunga di ruang tamu saat suara bel rumah berbunyi nyaring. Drrtt.. drrtt.. Arina berjalan ke depan dan membuka pintu. Tapi siapa yang berdiri di sana menghancurkan semua ketenangan yang sempat tumbuh. Seorang wanita cantik, elegan, dengan senyum tajam dan tatapan penuh penghakiman. “Aku mencari Arsen,” katanya. Suaranya dingin. Tegas. Arina menelan ludah. “Maaf.. Anda siapa?” Wanita itu tertawa kecil. “Lucu sekali. Istri kontrak bahkan tidak tahu siapa aku?” “Aku mantan istrinya.” Dunia Arina seolah runtuh saat itu juga. ⸻ Di ruang tamu Arsen masuk beberapa menit kemudian. Langkahnya terhenti saat melihat siapa yang duduk di sofa. “Raisa,” ucapnya tajam. “Lama tidak bertemu, Sayang,” jawab Raisa, menyilangkan kaki dan tersenyum licik. Matanya lalu menatap Arina. “Dan ini siapa? Pembantu barumu?” “Dia istriku,” tegas Arsen. “Oh? Istri? Kau cepat sekali berpindah ya, Arsen.” Arina merasa tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menunjukkan kelemahan. Ia hanya menggenggam jari-jari di balik rok panjangnya, menahan napas. ⸻ Pertemuan yang membakar luka lama “Aku tidak datang untuk bertengkar,” kata Raisa sambil berdiri. “Aku datang untuk menagih sesuatu yang menjadi milikku.” “Apa maksudmu?” Arsen bertanya tajam. Raisa mengeluarkan dokumen dari tasnya sebuah surat perjanjian pembagian aset yang belum pernah diselesaikan. Dan lebih dari itu. “Aku hamil,” katanya dingin. “Dan anak ini mungkin anakmu.” Arina merasa napasnya berhenti. Ruangan berputar. Arsen tampak terkejut. Tapi dia segera berkata, “Jangan bermain drama, Raisa. Kita sudah cerai setahun. Jangan membawa-bawa anak untuk menekan aku.” Raisa mendekat, menatap Arina. “Dan kau, Nona manis. Nikmatilah status ‘istri kontrak’ itu selagi bisa. Karena sebentar lagi, semuanya akan kembali padaku.” Raisa pergi dengan senyum kemenangan, meninggalkan keheningan yang menghancurkan. ⸻ Malam itu Arina duduk di kamar, menatap cermin. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. “Istri kontrak..” “Anak..” “Mantan istri yang masih begitu yakin dia akan kembali..” Pintu kamar terbuka. Arsen masuk. Wajahnya keras. “Maafkan aku,” katanya pelan. Arina tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong. “Kau tidak pernah memberitahuku kau pernah menikah.” “Aku tidak ingin masa laluku mengganggu kesepakatan kita.” “Dan sekarang masa lalumu menghancurkanku.” Arsen menatapnya lama. “Kalau kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu.” Arina berdiri, air mata menetes. “Yang ingin kupergi justru rasa ini.” “Sayangnya aku sudah jatuh cinta padamu, Arsen.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN