Bab 11 – Pilihan yang Menyakitkan

351 Kata
Sudah dua hari sejak kedatangan Raisa. Dan selama dua hari itu pula Arina dan Arsen tak banyak bicara. Suasana rumah seperti medan perang yang tak terdengar. Semua terasa sunyi, tapi tegang. Arina mulai merasa lelah. Bukan hanya karena Raisa, tapi karena perasaan yang mulai tumbuh, tapi tak tahu harus dikemanakan. “Aku mencintainya. Tapi aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya istri kontrak.” ⸻ Di dapur, pagi itu.. Arina memasak seperti biasa. Tapi wajahnya terlihat sayu. Matanya sembap. Saat Arsen masuk dan duduk di meja, keduanya hanya saling diam. Tiba-tiba Arina meletakkan piring dengan suara yang sedikit keras. “Aku ingin membicarakan sesuatu,” katanya tenang. Arsen mengangkat alis. “Apa?” Arina menatapnya. “Masa kontrak kita, aku ingin menyudahinya lebih cepat.” Deg. Arsen menatap Arina tajam. “Apa maksudmu?” “Aku sudah tak bisa tinggal di rumah ini. Bukan karena Raisa, bukan karena anak itu tapi karena aku tidak bisa pura-pura lagi.” “Aku mencintaimu, Arsen. Dan aku tahu itu salah.” “Ini cuma kontrak. Dan kalau aku bertahan, aku akan hancur.” Arsen berdiri tiba-tiba. “Kau tidak bisa memutuskan sepihak begitu saja!” Arina menatapnya, mata berkaca-kaca. “Kenapa? Bukankah ini hanya permainan? Hanya kesepakatan di atas kertas? Kau sendiri yang bilang jangan berharap.” “Dan sekarang, aku memutuskan untuk menyelamatkan diriku sendiri.” ⸻ Malam itu – Arina mulai berkemas Arina mengepak barang-barangnya dengan tangan gemetar. Hati kecilnya terus menangis. Tapi ia harus kuat. Ia harus menyelamatkan sisa-sisa harga diri dan hatinya. Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari luar kamar. Arsen masuk Wajahnya marah, frustrasi, dan kacau. “Kau tidak bisa pergi,” katanya tajam. Arina menatapnya, air mata menetes. “Kenapa? Karena aku penting? Atau hanya karena kau tidak ingin terlihat gagal di depan orang-orangmu?” Arsen tidak menjawab. Arina berjalan melewatinya, membawa koper. Tapi sebelum ia benar-benar keluar.. Arsen menarik lengannya. “Karena aku takut” Suaranya bergetar. “Aku takut kehilanganmu.” Deg. Arina membeku. Ia menatap pria itu. “Baru sekarang kau bilang itu, saat aku sudah siap menyerah?” Arsen menatapnya dalam. “Jangan pergi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN