Pagi itu di RS, Adel baru saja sampai. Dia berjalan santai melewati lobby, lalu tiba-tiba Adit menghampirinya dari belakang.
"Nih, dimakan." Ucap Adit yang membelikan wanita di hadapannya itu sarapan berupa sekotak s**u dan pancake. Adel yang heran kemudian menatap Adit dengan tatapan aneh. “Dia kenapa tiba-tiba begitu baik dan perhatian kepadanya?” Gumamnya dalam hati. Padahal pertanyaannya kemarin saja belum ia jawab. Adel mengamati Adit yang berjalan terus tanpa menoleh.
"Dia kenapa sih??" Seru Adel sambil menggelengkan kepalanya diikuti dengan senyum kecil tapi bermakna.
Sampai di ruangan, Mba Lia yang melihat Adel membawa sarapan langsung mengaggukkan wajahnya meledek.
“Hmm, jadi yang habis dari Bandung berlanjut nih.”
Adel lalu dengan sombongnya mengibaskan rambutnya dengan tangan, “Ke Bekasi, naik delman.”
“Apaan tuh?” Tanya Mba Lia mengikuti permainan Adel.
“Yang pake baju merah, jangan sampai lepas. Ahhahha.”
Mba Lia langsung terdiam, dia sudah hampir mau tertawa tapi melihat lawakannya tidak lucu. Wajahnya jadi berubah sebal, “Nggak nyambung.” Ucapnya kecewa.
“Emang, udah ah. Balik kerja.”
Siang itu, seorang pasien datang dengan copy resep yang sudah ditebus setengahnya, “Mba, saya ingin tebus obat ini setengah.” Ucapnya pada Mak Yanti yang memegang komputer dan memasukkan resep.
“Sudah daftar?” Tanyanya ramah.
“Sudah,” Jawab pasien tersebut.
“Ditunggu ya.” Ucap Mak Yanti, pasien itu kemudian duduk dengan tenang menunggu obatnya jadi.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Adel memanggil pasien tersebut.
“Ibu Friska.” Ucapnya.
Pasien kemudian maju dan mengamati Adel yang mengeluarkan obat yang akan diberikan satu per satu. Pasien tersebut melihatnya dengan bingung dan penuh pertanyaan. Belum Adel menjelaskan, tapi ibu itu sudah melayangkan pertanyaannya.
“Ini setengah mba?”
“Iya tadi ibu minta ditebus setengah kan?”
“Tapi kok beda dengan yang kemarin harganya, terus ini jumlahnya sedikit sekali. Gimana sih mba, kok bisa beda-beda begini. Kemarin Adik saya yang kemari jumlah dan harganya beda. Jangan main-main dong mba.” Ibu itu marah-marah dengan sedikit menggebrak meja.
“Tapi ibu minta tebus setengah kan?”
“Iya.”
Mak Yanti yang mendengar keributan dan melihat Adel kebingungan lalu menghampiri mereka, “Ibu tadi minta tebus setengah kan? Kemarin Adik ibu sudah menebus setengah dari resep. Karena tadi ibu minta setengah, jadi saya kira ibu hanya menebus setengah dari sisa resep yang ada.”
Ibu itu langsung terdiam,
“Maaf ibu, biar saya perbaiki.” Ucap Mak Yanti yang langsung mengambil struk dan memperbaiki jumlahnya.
Ibu itu kemudian kembali ke kasir untuk membayar kekurangannya.
Setelah siap, kembali Adel memanggil ibu tersebut. Dari wajahnya dia terlihat sudah tidak emosi lagi.
“Maaf ya mba, saya nggak tahu kalau Adik saya sudah menebus setengah resep obat ibu saya. Saya kurang mengerti, saya mohon maaf ya mba.”
Adel kemudian tersenyum ramah, “Nggak papa kok Bu, saya mengerti.” Ucapnya sambil melanjutkan penjelasan tentang obat tersebut dengan ramah.
****
Sella terdiam di meja kerjanya nampak berpikir, kejadian semalam sungguh mengganggunya. Telpon itu ternyata benar dari Faris.
“Faris?”
“Kamu masih ingat ternyata, bagaimana kabarmu. Sepertinya kalian begitu bahagia.”
“Kenapa kamu menghubungi saya?”
“Saya hanya ingin mendengar suaramu. Rindu juga ternyata bertahun-tahun tidak bertemu.”
“Tutup mulut kamu. Untuk apa lagi kamu menghubungi saya, kalau papah tahu…”
“Papah…Papah…Papah. Anak papah satu ini sepertinya tidak bisa lepas dari ketiak ayahnya.” Hardiknya kesal.
“Faris.” Panggil Sella dengan nada memohon.
“Saya muak dengan kalian berdua. Ah, saya lupa ingin memberitahumu kalau saya punya kejutan kecil. Tunggu tanggal mainnya ya.” Ucap Faris yang langsung mematikan ponselnya setelah selesai.
Sella begitu terkejut dan ada sedikit rasa takut dalam dirinya.
Suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan pikirannya,
“Masuk!” Perintah Sella.
“Ibu, maaf sudah ditunggu di ruang rapat.”
“Oh iya, saya hampir lupa. Oke saya nanti kesana.” Gara-gara masalah Faris, dia jadi lupa soal jadwal meetingnya hari ini.
****
Sore harinya Adit yang tidak ada kerjaan membelikan Adel kopi yang dibawakan oleh Adam. Dia tidak enak jika datang langsung, bisa-bisa semua pegawai bergosip tentangnya.
"Maaf Mba Adel, ini dari Bapak." Seru Adam memberikan satu es kopi latte untuk wanita kesukaan bosnya.
"Hah?” Adel kembali terheran-heran membuka mulutnya. “Oh iya makasih." Jawab Adel sambil tersenyum bingung.
"Biar nggak ngantuk." Adalah tuliasan yang berada bersamaan dengan kopi tersebut.
Seketika Adel bengong melihat kelakuan Adit, tetapi di sisi lain itu adalah cara Adit menunjukkan perhatiannya untuk Adel. Ekspresi yang tadinya melongo heran kini berubah menjadi senyum tipis yang manis.
“Mba, kasir dimana ya?” Ucap pasien yang tiba-tiba muncul di hadapannya membuat dia kembali dari mimpi manisnya.
“Oh di sebelah sana, di samping farmasi persis.” Ucapnya menunjuk dengan sopan.
****
Berjalan menghampiri kantin untuk makan siang, tanpa sengaja lagi-lagi Adit bertemu dengan seseorang yang ia tabrak di Mall beberapa hari lalu. Perempuan itu datang sambil memainkan ponselnya berjalan tanpa melihat sekitar, dan tentu saja akhirnya menabrak Adit.
Ponsel perempuan itu terjatuh dan dia menatap Adit dengan kesal.
“Kalau jalan pake mata.” Ucap Adit membalas pekataan wanita itu.
Wanita itu kemudian tersenyum tak percaya, “Anda kenal saya? Jangan sok akrab.” Ucapnya ketus.
Adit menaikkan alisnya begitu kesal, dia lalu manaikkan dan menunjuk perempuan itu dengan jari telunjuknya. “Sialan, anda tidak ingat kemarin di Mall juga menabrak saya?”
Tiba-tiba setitik ingatan muncul di kepala Rhea, ”Oh, jadi anda yang menabrak saya. Jadi kita impas kan?”
“Impas endasmu,” Ucap Adit sebal.
“Maaf, saya sibuk. Kalau tidak ada hal yang terlalu penting. Saya permisi.” Tuturnya dengan begitu angkuh.
Adit langsung menaikkan kepalanya menahan amarah, tangannya ia taruh di pinggang sambil menatap wanita itu pergi.
Adit dan Adam kemudian duduk dan makan di kantin, sebenarnya ada yang mengganggu pikirannya sejak kemarin.
“Dam,” Panggil Adit, sambil termenung berpikir.
“Iya Pak?”
“Menurut kamu saya kurang apa? Saya banyak uang, tampan juga kan? Tapi kenapa dia sulit untuk luluh.”
“Adel maksudnya?”
“SSssttt. Ia dia. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban.”
Adam kemudian melipat tangannya dan memindai tubuh atasnnya itu dari atas sampai bawah. “Bapak kurang satu.” Ucap Adam.
“Apa? Apa?” tanyanya penasaran.
“Kesabaran.”
“Kesabaran?”
“He’ eh, yang namanya mendekati wanita itu butuh kesabaran. Mereka itu makhluk yang penuh perasaan, mereka akan berpikir dan menggunakan perasaannya.”
“Tapi mantan-mantan saya sekali saya dekati pasti akan langsung menyodorkan diri mereka.”
“Berarti yang kali ini beda, dia tidak mudah jatuh kepelukan siapapun.”
“Benar juga, lalu saya harus bagaimana?”
“Seperti yang saya katakana tadi, bersabar.” Ucap Adam tegas sambil meminum es teh yang ada di depanya.
Adit yang melihat itu menelan ludah dan membuang wajahnya berpikir.
****
Malam hari di Lobby, Adit yang berjalan tanpa sengaja melihat Adel berada di depannya. Dia tersenyum gembira dan dengan riangnya menghampiri wanita tersebut.
"Ayok saya anter pulang." Ajak Adit yang melihat Adel berjalan sendirian di depan Rumah Sakit. Adel yang menatapnya kemudian menghela napas dan masuk ke dalam mobil. Adit dengan bahagia mengantarkan Adel pulang sampai ke kosannya,
“Saya ingin bicara,” Ucap Adel “Kita ke atas saja.” Lanjutnya menawarkan Adit untuk masuk ke kosannya dan bicara walaupun bicaranya tetap di luar kamar. Adit jadi gelisah dan gugup.
"Pak Adit, saya sudah memikirkan soal pertanyaan bapak kemarin." Ujar Adel.
"Lalu?" tanya Adit gugup.
"Saya tidak bisa menjalin hubungan dengan Bapak." Ucapnya tanpa ragu.
"Kenapa? Saya kurang apa?" Dunia seketika hancur bagi Adit.
"Karena saya belum sepenuhnya paham dengan perasaan saya. Sejujurnya saya masih bingung."
"Kamu ragu sama saya?" Tanya Adit kembali.
"Saya bukannya ragu sama Bapak, tapi saya ragu sama perasaan saya. Saya pun belum tahu banyak tentang bapak, begitu juga sebaliknya. Jadi untuk sekarang saya belum bisa menerima bapak."
Adit terdiam dan berpikir, benar juga apa yang di katakan Adel. Mereka sama sekali belum mengenal satu sama lain dengan baik. Dan mungkin untuk Adel, ini terlalu terburu-buru. Aditpun tidak mau gegabah.
"Okay, saya terima alasan kamu tapi saya masih punya kesempatan kan? Saya akan membuktikan diri saya sama kamu." Ucapnya dalam.
Adel tersenyum "Kenapa Bapak suka sama saya? Saya hanya anak panti asuhan yang tidak jelas siapa orang tuanya." Tatapan Adel menyentuh batin Adit.
Adit menghela napasnya dalam, "Kita ini semua sama Del, lahir dalam keadaan suci siapapun orang tua kita. Jujur saya suka kamu sejak awal kita bertemu dan saya makin kagum ketika mengetahui kamu adalah seorang yatim piatu. Kita tidak bisa memilih bagaimana kita dilahirkan dan siapa orang tua kita kan?"
"Apa bapak siap menerima saya? Bagaimana kata orang-orang nanti kalau tahu bapak berpacaran dengan anak yatim piatu seperti saya?" Tanya Adel.
"Saya siap menerima apapaun kelebihan dan kekurangan kamu, Del kamu harus berjanji sama saya."
“Janji apa?"
"Apapun yang terjadi nanti, kamu tidak akan pernah lari atau menghindari saya."
Adel terdiam sejenak untuk berpikir. Dia bisa melihat ketulusan di mata lelaki itu. Namun hidup mereka jauh berbeda, Adit yang sejak kecil memiliki kasih sayang dan keluarga yang lengkap. Sedangkan dia yang harus berjuang sedari kecil untuk bisa bertahan hidup.
Adit tidak pernah merasakan kejamnya kehidupan, jika Adel memutuskan untuk bersama dengannya. Dia takut nasib buruk yang ia bawa akan menyeretnya jatuh. Sorot mata Adel dalam menatap Adit, mereka bertatapan begitu intens. Akhirnya Adel mengiyakan perkataan Adit, mereka sepakat untuk menjadi teman biasa. Aditpun pulang karena hari sudah semakin gelap.
****
Adit yang kecewa pergi ke sebuah bar untuk menghilangkan penatnya, dia menenggak vodka yang ia pesan di bar tersebut. Lalu tiba seorang perempuan berjalan dan duduk di sampingnya. Adit yang menoleh terkejut.
“Anda lagi?” Ucapnya.
“Heuh, nasib macam apa ini.” Ucap Rhea.
“Anda pasti ngikutin saya kan?”
“Sembarangan. Urus saja urusanmu sendiri.” Tandas Rhea yang mengabaikan Adit
Adit kemudian terdiam, “Hua….kenapa kamu juga mengabaikan saya hah? Saya baru saja ditolak dan sekarang kamu juga mengabaikan saya.” Ucap Adit yang frustasi.
“Nih orang gila kali ya.” Gumam Rhea.
“Adel… Adel. Kenapa kamu nolak saya. Saya cinta sama kamu Del, saya sayang sama kamu. Huhuhu.” Ucapnya sambil menangis.
“Anda mabuk ya?” Ujar Rhea sambil menggelengkan kepalanya.
Berjam-jam dia mendengarkan keluh kesah Adit yang baru saja ditolak oleh wanita yang ia sukai. Sampai akhirnya Adam menghubungi Adit dan bertanya keberadaannya. Rhea yang tidak mabuk memberitahukan dimana mereka berada.
****
Hari itu datang juga, acara perayaan ulang tahun PT I.B Indonesia di gelar di lapangan RS Suharjo. Setelah acara doa dan potong tumpeng, semua menikmati hidangan yang disediakan. Sekitar jam sepuluh pagi acara berobat gratis pun dimulai. Ternyata, banyak sekali pasien yang antri untuk konsultasi ke Dokter. Ada fasilitas pengecekan gula, asam urat dan kolesterol juga. Adel dan Sella sibuk dengan perannya masing-masing, sedangkan Adit rapat dengan dewan Direksi di lantai 6.
"Ibu ini tekanan darah dan kolesterolnya tinggi, jaga makannya ya Bu. Ini sama dokter di kasih obat untuk darah tinggi dan kolesterolnya ya. Amlodipine di minum sehari sekali ya setelah makan pagi dan ini simvastatin diminum sehari sekali setelah makan malam." Ucap Adel tersenyum ramah.
"Makasih ya mba"
"Sama-sama ibu." Adel melontarkan senyum tulusnya.
Sella terus memperhatikan Adel dari jauh, dia sangat bangga melihat anaknya begitu bersemangat. Sella sendiri ikut memberikan sembako pada pasien yang berobat.
"Sel," Suara yang sangat dikenalnya mendadak membuat Sella terkejut.
"Eh Pah, kok disini?" Tidak biasanya sang ayah ikut terjun ke lapangan, biasanya setelah potong tumpeng dia akan menemani rekan kerjanya berbincang.
"Iya papah ingin lihat proyek kamu. Gimana lancar semua?" Tanya Irwan.
"Lancar kok Pah, banyak yang berminat ternyata. Pasiennya penuh."
Dari ujung terlihat Adel dengan tangan penuh obat dan alkes berjalan sangat cepat, sampai- sampai dia tidak memperhatikan sekitarnya.
BBRRUUKKKK…
Dia tanpa sengaja menabrak Irwan yang sedang berbincang dengan anaknya, jatuhlah semua tablet dan alkes yang ia pegang. Sella mulai khawatir melihatnya. Dia terlihat panik, ingin rasanya membantu. Namun dia harus meminimalisir apapun yang bisa membuat ayahnya curiga.
Bersambung....