Panti Asuhan

2020 Kata
Keesokan harinya, Adit menepati janji dengan menjemput Adel di kosannya. “Siap?” Tanya Adit yang sudah menunggu bersandar di mobil sedan biru BMWnya. Adel yang sudah berpakaian rapih kemudian mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Matanya terkejut saat melihat begitu banyak tas belanjaan yang ada di mobil tersebut. “Wuah, banyak banget. Buat siapa Pak?” “Buat anak panti. Bagus nggak?” “Ya bagus sih, tapi sebanyak itu?” Tanya Adel heran. “Kenapa? Memangnya nggak boleh?” “Boleh, He’eh boleh kok. Yaudah sekarang kita jalan ya.” Adel mengiyakan supaya Adit cepat mengendarai mobilnya dan mereka cepat sampai. Dia tidak mau memperpanjang percakapan mereka, yang ada mereka ribut di jalan nanti. **** "Hhaaii." Sapa Adel dengan riang kepada beberapa anak panti yang menyambutnya di depan. Adel membawa beberapa bungkus oleh-oleh yang dibelinya kemarin di Bandung, sedangkan Adit kewalahan mengeluarkan barang belanjaannya dari mobil. "Wah Kaka Adel datang bawa makanan dan mainan banyak, teman-teman sini makan." Teriak Jojo dengan antusias memanggil teman-temannya. Adel mengelus kepala Jojo sambil tertawa melihat tingkahnya yang lucu. "Bagi sama teman-temanya ya." Teriak Adel pada Jojo yang sudah berlari menghampiri teman-temannya yang lain. "Mereka seneng banget kamu bawain makanan." Tutur Adit. "Iya makanya saya senang kemari, biar bisa main bareng mereka." Seru Adel. Bu Reka lalu menghampiri Adel dan berkenalan dengan Adit. Menilai dari atas sampai bawah, Bu Reka bisa melihat kalau Adit adalah orang yang baik. Dia kemudian menyuruh mereka untuk masuk ke dalam. Bu Reka menatap Adel dengan tatapan jahil, menggodanya dengan Adit. Mereka lalu duduk di sofa tamu. "Boleh tanya sesuatu?" Adit menatap mata Adel dalam saat Bu Reka keluar menyiapkan makanan kecil untuk mereka. "Ehem," Nada suara Adel mengisyaratkan "Iya" "Kamu di sini dari dari lahir atau?" Adit sedikit hati-hati, takut menyinggung perasaan orang yang ada di sampingnya. "Bu Reka bilang saya dari lahir dititipkan di sini. Saya juga tidak tahu apa orang tua saya masih hidup atau tidak." Tanpa rasa getir Adel menjawab pertanyaan itu datar. Hatinya sudah membatu kalau ditanya soal orang tua, sudah terlalu sering. "Kamu nggak mencoba mencari orang tua kamu?" "Buat apa? Kalaupun mereka ada mungkin saya tidak akan menerima mereka. Mereka sudah membuang saya dan… itu sakit." Hati Adit bergetar mendengar perkataan perempuan itu, Adelpun mencoba menahan sakit dan air matanya dengan menghindari tatapan Adit. “Kamu pasti kesepian.” Sahutnya lagi. Adel tersenyum, “Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan rasa sepi. Saya anggap itu sebagai bagian dari hidup saya.” Seketika Adit tersentak mendengarnya, dia tidak pernah tahu rasanya hidup sebagai seorang yatim piatu. Tapi orang yang ada di sampingnya ini benar-benar wanita kuat yang selalu ingin berjuang. Dia salut akan hal itu. Tiba-tiba datanglah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan panti, Bu Reka yang keluar dari dapur meletakkan beberapa kudapan di atas meja. Melihat ada mobil yang berhenti, dia keluar untuk menyambut orang tersebut. Saat pintu terbuka ternyata Sella dengan riasan tebal dan pakaian biru tua anggun keluar dari mobil. Seketika Bu Reka terdiam membatu. "Bu Sella," Sahut Bu Reka kaget, dia tidak menyangka bahwa mereka akan datang bersamaan. "Iya bu, saya lagi lewat sini sekalian mampir bawain anak-anak makanan." "Hmmm, maaf Bu di dalam sedang ada Adel bersama temannya." "Ada Adel? Oh yaudah saya pamit dulu kalau begitu." Jawab Sella terburu-buru sambil memberikan makanannya. Dia tidak ingin bertemu dengan Adel dan menimbulkan kecurigaan. "Bu Sella... " Teriak Adel yang menghampiri mereka karena melihat Sella ada di depan pintu. "Adel, hehe kamu lagi apa disini?" Wajah Sella langsung pucat pasih, dia seharusnya menghindari Adel. Kenapa mereka harus bertemu di saat seperti ini. "Saya lagi main sama..., loh ibu bawa makanan? Aahh ibu, Ibu Sella yang sering ngasih bantuan buat anak panti ya?? Ya ampun nggak nyangka ternyata dunia memang sempit." Ucapan Adel seketika membuat Bu Reka dan Sella gugup menelan ludah. "Kamu kenal Del?" Bu Reka pura-pura bertanya. "Iya Adel kenal, dia pasien Adel bu." "Iya, kemaren saya jatuh lalu diantar ke IGD sama Adel." Ungkap Sella. Bu Reka tiba-tiba tersenyum "Takdir memang tidak pernah salah." Ucapnya dalam hati. "Del, kamu sudah isi form data ini?" Seru Adit yang keluar dari ruang tamu dan menunjukkan pesan yang masuk ke ponselnya soal form data kepegawaian Rumah Sakit. "Sudah Pak." Jawab Adel cepat. "Siapa Del?" Adit menoleh ke arah Sella. "Ini Bu Sella Pak, pasien di RS. Oh ya kemaren dia bilang perusahaanya mau kerja sama sama RS kita." "Oh ya, kenalkan saya Adit, Ibu dari pt I.B Indonesia? Saya sudah dengar rancangan acaranya kemarin." "Sella, iya saya Direktur PT I.B Indonesia, kamu pacarnya Adel?" Tanya sella setelah selesai menjabat tangan Adit. "Bukan Bu, bukan. Dia bos Adel." Jawab Adel gugup. "Iya juga gapapa Del" Ledek Sella. Adit tanpa ragu lalu merangkul Adel erat "Iya saya pacarnya Adel." Membuat Sella dan Bu Reka tertawa pelan. "Ihh apaan sih." Adel melepas rangkulan Adit. “Mari Bu Sella, silahkan masuk.” Ajak Bu Reka dengan ramah. Sella mau tidak mau akhirnya masuk ke dalam, dia sudah tertangkap basah. Tidak mungkin langsung pergi begitu saja. Adel kemudian pergi bersama Adit untuk bermain dengan anak-anak. Mereka bermain petak umpat dan sepertinya seru sekali, anak-anak terlihat begitu bahagia. “Mereka terlihat sangat behagia.” Ucap Bu Reka sambil mengamati anak-anak bermain. “Syukurlah.” “Sepertinya dia pria yang baik.” Ujarnya sambil mengalihkan pandangannya pada Adit. Sella tersenyum, “Semoga.” Ujar Sella penuh tanda tanya. Matanya terpana melihat Adel yang tumbuh begitu cantik dan kuat.             Bu Reka lalu menatap Sella lekat-lekat, “Sepertinya ada yang ibu khawatirkan?”             Sella menghela napas, “Saya tidak pernah menyesal memiliki dia. Tapi takdir sejak awal tidak pernah memihak pada kami. Jujur saja saya khawatir jika hal buruk menimpa Adel. Bertahun-tahun saya berusaha untuk menghindari itu semua. Tapi sekali lagi saya harus menerima kenyataan, kalau kami dipertemukan kembali seperti ini. Saya tidak berani terlalu dekat, saya tidak ingin hidupnya lebih menderita lagi.”             Bu Reka terdiam mendengar itu semua, “Allah memang sudah mentakdirkan semua yang terjadi di dunia ini. Tapi kita tidak pernah tahu apa itu.”             “Itu malah yang lebih menakutkan. Takdir terkadang bisa begitu kejam.”             “Yakinlah kalau Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kekuatan umatnya.”             Sella menggeleng, “Saya tidak akan kuat jika harus melihatnya menderita lagi. Selama ini saya menahan semuanya karena satu hal, jika bahkan saya tidak berhasil melakukannya. Maka saya tidak pantas, untuk dipanggil sebagai seorang ibu.”             Adel yang sedang asik bermain tiba-tiba menoleh dan mengayuhkan tangannya pada Sella agar dia juga ikut bermain dengan mereka. Sella kemudian tersenyum dan berlari menghampiri mereka. Berlarian ikut bermain bersama anak-anak ternyata sangat menyenangkan, mereka tertawa dan berbincang bersama. Kala itu Sella begitu menikmati moment tersebut selagi bisa. Mungkin sehabis ini, dia tidak akan bertemu lagi dengan anak semata wayangnya itu.             “Pulang yuk Del, sudah sore.” Seru Adit yang sudah lelah bermain seharian.             Adel lalu mengangguk, “Iya, takut keburu macet.” Mereka kemudian menghampiri dua wanita yang sekarang sedang duduk dan berbincang di sofa, "BuSella dan Bu Reka Adel pulang dulu ya. Assalamualaikum." "Walaikumsallam." Jawab mereka berdau bersamaan. ****             Di dalam mobil, Adel tiba-tiba kepikiran dengan perkataan Adit yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya di depan Bu Sella dan ibu pantinya tadi. Iya termenung terus berpikir, Adit yang melihatnya diam jadi bertanya-tanya.                         “Kamu kenapa?” Adel langsung memancungkan bibirnya, dia sebal. Bisa- bisanya Adit mengaku sebagai pacarnya. "Pak Adit apa-apaan sih bilang pacar." Seru Adel menoleh cepat dengan nada geram. Adit menoleh sambil tersenyum, "Kamu nggak mau jadi pacar saya?" "Kenapa saya harus mau jadi pacar bapak?" Adit yang mendengar hal tersebut langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan secara mendadak. Wajah Adel sampai terdorong ke depan. Dia kemudian menatap Adel sambil menyipitkan matanya. "Saya tampan dan kaya, apalagi?” Ucapnya dengan sombong. "Bapak bercanda ya, demam? Kok ngaco ngomongnya?" Adel jadi tambah heran setelah mendengar ocehan atasannya yang tidak jelas itu. Adit merasa tersinggung dengan pertanyaan Adel, yang benar saja selama ini tidak ada wanita yang dapat menolak pesonanya. Dia bisa dengan begitu mudah mendapatkan banyak wanita, tapi kenapa malah wanita yang disukainya ini menolaknya mentah-mentah. Harusnya dia bangga bisa disukai oleh orang seperti dirinya. "Saya serius, kamu nggak sadar kenapa saya mendekati kamu?" Jelas Adit. "Maksud bapak?" "Kamu kira selama ini saya cuma mau main-main sama kamu? Ngerjain kamu doang? Ya nggak lah, saya suka sama kamu Del." Adel terkejut mendengarnya, matanya terbelalak. Dia tidak siap untuk ini. Wajahnya membeku dan jantungnya berdetak sangat cepat. Wajahnya menunjukkan raut bingung dan takut. "Saya… saya nggak tahu harus bilang apa." Seru Adel yang masih bergelud dengan dirinya sendiri mempercayai ini semua. "Kamu nggak perlu ngomong apa-apa, masih banyak waktu. Pikirin aja dulu."          Adit kemudian menyalakan kembali mobilnya dan melajutkan perjalanannya mengantar Adel. Sedangkan Adel masih terkejut dan bingung, dia tidak bisa berpikir apa-apa. Hatinya berdebar-debar penuh gejolak, namun dia masih ragu-ragu. Dalam hatinya, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada sedikit rasa yang terpendam di dalam dan dia tidak tahu apa itu. Keadaan di dalam mobil menjadi canggung, mereka berdua tidak bicara apa-apa sepanjang perjalanan. ****             Di tempat lain, Sella yang baru saja pulang, dikejutkan dengan kehadiran sesosok laki-laki yang sedang bercengkrama dengan sang Ayah.             “Tomi?” Ujarnya kaget. Tomi adalah rekan kerjanya beberapa tahun lalu. Mereka sempat bekerja sama beberapa kali dalam acara perusahaan. Memang dulu dia sempat dekat dengan rekan kerjanya itu, namun hanya sebentar. Tomi lalu menikah setahun setelah mereka putus.             “Ah, itu dia Sella. Sini kemari. Papah sengaja undang Tomi kesini, dia sedang berada di Jakarta jadi papah ajak ke rumah.”             Sella tersenyum tidak nyaman, papahnya ini benar-benar.             “Apa kabar Sel?” Tanya Tomi yang menatapnya dengan menggoda.             “Baik,” Ucap Sella datar kemudian duduk di sofa.             “Papah tinggal dulu ya.” Ujar Irwan kemudian melangkah pergi.             Sella lalu tersenyum sinis menatap Tomi, “Saya dengar kamu tinggal di Singapura?” Tanya Sella basa-basi.             “Betul, sudah seminggu ini saya kembali ke Jakarta.”             “Ada kerjaan?”             Tomi menggeleng, “Saya baru bercerai dengan Risma. Kami sudah tidak cocok, dan saya memutuskan untuk pulang ke Jakarta.”             “Maaf.”             “It’s okay. Kami bercerai baik-baik. Kamu bagaimana sudah punya kekasih?”             Sella menggeleng, “Saya masih sendiri.”             Tomi mengangguk, kemudian tersenyum “Sebenarnya saya kesini tidak sengaja. Karena tadi saat sedang makan malam ternyata ada papah kamu. Dia langsung menyapa saya dan kami berbincang sebentar.”             “Begitu.” Jawabnya canggung.             “Soal waktu itu.” Tutur Tomi.             Sella langsung mengayunkan tangannya, “Tolong jangan bahas masa lalu, saya sudah menerima dan saya tidak pernah membencimu.”             “Terima kasih.”             Sella kemudian melihat jam tangan yang ada di tangannya, “Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Saya juga lelah.”             Tomi mengangguk, “Baiklah, saya mengerti. Saya harap kita bisa bertemu lagi. Saya pamit dulu.” Dia meraih dan mencium tangan Sella lembut.             Sella sedikit terkejut, dia tersenyum canggung pada Tomi. Harusnya tidak dia biarkan lelaki itu mencium tangannya.             Setelah Tomi pergi, baru Sella beranjak ingin ke kamar. Namun Irwan tiba-tiba muncul.             “Loh, kemana Tomi?”             “Sudah saya suruh pulang.”             “Kenapa?”             “Papah ini gimana sih, kenapa harus bawa dia ke rumah. Saya sudah tidak ingin berhubungan dengannya lagi.”             “Papah hanya menyambutnya dengan baik, dulu kan dia pernah menjalin hubungan denganmu. Jadi apa salahnya?”             Sella menggelengkan kepalanya tak percaya, “Dia sudah mengkhianati saya Pah.”             “Itu kan dulu, sekarang dia mungkin sudah berubah. Kenapa kamu tidak bisa membuka dirimu sedikit saja.”             Perkataan Irwan jelas membuat Sella memutar bola matanya, dia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.             “Lupakanlah si b******k Faris itu yang sudah menghancurkan kehidupan kamu. Mau sampai kapan kamu terus mengingat dia. Dia itu bajingan.” Teriak Irwan.             Sella yang mendengar hal itu menahan amarah dan rasa sedihnya. Matanya berlinang sembari dia melanjutkan langkah kakinya. Bukan Faris yang membuat hidupnya hancur, melainkan ayahnya sendiri. Sekalipun, dia tidak pernah menyesal memiliki hubungan dengan pria yang amat ia cintai itu. Lalu ponselnya tiba-tiba berdering dari nomer yang tidak ia kenal.             “Halo.” Jawab Sella.                 “Halo, masih ingat saya?”             Saat itu juga Sella terhentak menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Bersambung.....  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN