Dewa menghembuskam napasnya kasar, jam menunjukkan pukul sembilan malam, gemericik suara air dari kamar mandi membuat Dewa tersenyum tipis, Mawar sedang mandi.
Satu hal yang Damian pikirkan, kalimat apa yang harus dia katakan kepada Mawar karena dia belum sanggup menafkahi batin Mawar.
Suara pintu kamar mandi dibuka, mata Damian tertuju pada Mawar yang menggunakan pakaian minim. Damian tau jika Mawar berusaha menggodanya malam ini, malam pertama mereka. Namun entah kenapa tiba-tiba keraguan muncul di hati Damian. Arum, bayangan gadis itu membuat Damian gundah.
"Udah selesai?" tanya Damian singkat.
Mawar menganggu, dia Lalu duduk disamping Damian titik pakaian mawar Sangat terbuka sebagai laki-laki Damian memang tergoda tapi dia masih bisa mengendalikan nafsunya, perasaannya gini malah gelisah memikirkan Arum. Meski dia sudah berbicara baik-baik dengan Arum, tapi dewa masih belum bisa melupakan Arum sepenuhnya. Yang dipikirkan oleh Dewa adalah bagaimana Arum bisa hidup di kota yang besar ini sendirian, Dewa sangat tahu jika Arum ditinggal sendiri di Jakarta dia tidak tega membiarkan Arum sendirian tapi di sisi lain dia juga ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan dengan mawar. " Mawar aku mau bicara sesuatu. " mawar meragu, tiba-tiba dia gelisah takut jika Damian mengatakan hal yang tidak diharapkan. "Iya? Kenapa apa memangnya ada apa tanda tanya " Damian menarik nafasnya, matanya menatap dalam-dalam mata mawar mencoba untuk berbicara selembut mungkin dan tidak menyakitkan mawar karena dan ia sendiri tahu jika mawar sudah mencintai dia, namun demikian masih belum bisa sepenuhnya mencintai mawar ada sedikit Rasa Sesal dalam hatinya ketika dia menikah dengan mawar bahkan dia pernah menggerutu kenapa dia menikahi Mawar. Semua sudah terlanjur sekarang.
Damian menatap Mawar dalam-dalam, dia berusaha untuk tidak menyakiti hati Mawar.
“Maaf ya,” ucap Damian dengan pelan. Mawar hanya tersenyum tipis mendengarnya, dia tau apa maksud Damian. Mawar hanya mengangguk kecil, dia lalu naik ke atas kasur dan menyelimuti tubuhnya sampai batas leher. Mawar paham jika Damian enggan menyentuhnya malam ini. Bukan masalah besar bagi Mawar, namun hanya saja ada sedikit rasa kecewa dalam hati Mawar karena Dewa tidak menghargainya sebagai istri. Harapan Mawar, setidaknya Dewa mengecup keningnya dan memeluknya, meski tak berhubungan intim.
Mawar lalu berbaring ke arah kanan, dia memeluk selimutnya erat dan menangis tanpa suara. Sedangkan Damian beringsut naik ke atas dan tidur di samping Mawar. Rasanya canggung, Damian bingung harus mengatakan apa kepada Mawar agar gadis itu tidak menangis, tapi bagaimana lagi, memang begini perasaan Damian, dia mau jujur kepada Mawar.
Damian membalikkan badannya, menatap punggung Mawar yang sedikit terbuka.
“Maaf,” lirih Damian.
Tiba-tiba tangisan Mawar terhenti, dia mendengar lirihan Damian dan mengusap cepat air matanya. Mawar masih enggan menatap Damian. Dia kini tau kenapa Damian bersikap demikian, Mawar yakin Damian belum melupakan Arum. Kehadiran wanita itu membuat hati Damian goyah dan meragu.
Mawar hanya menatap kosong, dia lalu memejamkan matanya hendak tidur, melupakan semuanya, lelah.
Damian menatap punggung Mawar, dia lalu melingkarkan lengannya dan menarik tubuh Mawar lebih dekat, sembari berbisik, "Maaf ya aku tidak bisa sekarang."
Satu lelehan air mata Mawar kembali meluncur dan dia mencoba untuk tertidur tanpa harus menatap Damian.
Mawar hanya ingin malam ini dia tenang, dia bisa tidur nyenyak, dia ingin istirahat. Mengetahui suaminya tidak mencintainya adalah hal yang berat. Sedikit rasa bersalah menghantui Mawar, seandainya dia tidak menuntut pertanggung jawaban, maka semua tak akan canggung dan ini tak akan terjadi.
"Mawar," panggil Damian. Mata Mawar sangat berat dan mengantuk, dia membuka matanya ketika mendengar suara Damian.
"Iya?" jawab Mara dengan lirih, dia membuka matanya dan menatap Damian.
Pelukan Damian membuat Mawar tersentuh, malam ini meski hanya mendapat pelukan Damian, namun Mawar bersyukur, setidaknya Damian masih menghargainya.
***
"Clar, kenapa di semua foto Dewa keliatannya ga bahagia ya?" ucap Fabian menunjuk salah satu foto Dewa disana.
"Enggak tau Mas, mungkin Dewa lagi capek aja."
Clarissa memperhatikan foto itu, terbesit dalam hatinya jika mungkin saja Dewa memang tidak bahagia dalam hari pernikahannya. Clarissa juga tau jika Dewa masih menyukai Arum.
Seharusnya pagi ini Clarissa kontrol ke rumah sakit, namun dia mengurungkan niatnya, dia hendak ke Tanah Abang, menemui Arum. Entah kenapa Clarissa ingin berbicara sesuatu dengan Arum. Rasanya Clarissa ingin membicarakan tentang hubungan Damian dengan Arum, Clarissa benar-benar takut jika tiba-tiba Damian berpindah hati kepada Arum. Clarissa berpamitan kepada Fabian, walaupun Sebenarnya dia berpamitan menuju ke ke dokter kandungan tapi Clarissa mampir dulu ke Tanah Abang. Dia ditemani oleh pembantunya, usia kehamilan Carissa saat ini sudah memasuki usia kehamilan yang sudah matang jadi Bian terus menyuruh pembantunya untuk mengikuti kemanapun Clarisa pergi walaupun Fabian juga tidak bisa menemani dia kontrol hari ini. Clarissa melangkahkan kakinya menuju toko Arum Dalu melihat harum yang sedang menata tokonya, sebenarnya Clarissa sangat salut kepada Arum, dia bekerja di dua tempat tapi Gadis itu tampaknya tangguh. "Kamu benar harumkan?" Tanya Clarissa dengan lembut sembari menatap Arum yang sibuk menata pakaian. "Eh iya, mbak ini bukannya kakak ipar in Damian ya?" Arum tiba-tiba rasanya menjadi canggung ketika melihat Clarissa Karena dia pikir Clarissa pasti ada sesuatu yang penting jika dia kesini. "Iya, aku memang kakak ipar ya Damian, Apa kamu sedang sibuk? Aku butuh bicara dengan kamu." Arum mengganggu dan mengajak dia bersama Raisa untuk makan berdua di bawah ah, Arum setengahnya bingung kenapa tiba-tiba Carissa mengajaknya berbicara tiba-tiba takut jika terjadi sesuatu dengan Damian. "Maaf aku tidak perlu basa-basi lagi, Aku ingin bertanya Arum sebenarnya Apa kamu masih ada hubungan dengan Damian atau tidak titik Tolong jawab yang jujur ya, jika memang kamu ada hubungan dengan Damian tolong lepaskan Damian dan biarkan dia bahagia dengan mawar. Dan arah menyakitkan keningnya, Sebenarnya dia sendiri tidak pernah menggoda Damian hanya serpihan serta kenangan masa lalu yang begitu indah membuat mereka saling susah untuk melupakan, harus menarik napas dia Lalu mengaduk-aduk kopi pesanannya dan dia memberikan Clarissa sebuah roti hangat Tapi Carissa menolaknya Clarissa hal yang terpenting adalah mendapatkan jawaban dari Arum Apakah Arum masih mencintai Damian atau tidak sebenarnya Clarissa jika tidak ingin mencampuri urusan Damian dengan mawar tapi dia tidak ingin ada duri dalam pernikahan mereka. " Maaf tapi aku sama mas Kurniawan itu hanyalah teman, jadi Mbak enggak perlu khawatir. Kalau pun masih ada diantara kita yang masih mengingat atau terkena akan masa lalu, tidak apa-apa karena memang lupakan Kan susah, tapi tolong diingat satu hal ini Mbak kamu aku dengan Damian sudah tidak akan bisa kembali lagi."