Sabtu, hari libur yang dinantikan semua siswa. Kiara libur, hanya ekstrakulikuler basket yang dia ikuti. Itupun dia malas hari ini ikut basket, karena pasti bertemu Rio. Bukannya malas, tapi lebih merasa malu, gugup saat bertemu Rio. Kiara masih menutupi wajahnya dengan selimut, sungguh hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. Dia tidak sanggup jika begini.
"Kamu enggak sekolah Kiara?" tanya ibu Kiara yang baru saja masuk. Kiara menggeleng, rasanya dia enggan sekolah hari ini. Sungguh dia bingung harus bagaimana. Moodnya sedang berantakan. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Namun detik selanjutnya Kiara melawan moodnya, dia mencoba positive thinking, kalau perlu bertemu dengan Rio, dia ingin mengutarakan semua perasaannya.
Satu hal yang Kiara ingin ucapkan semenjak kemarin, dia ingin mengatakan kepada Rio jika dia serius dan sangat sayang dengan Rio, dia ingin mengatakan sudah menyukai Rio sejak kelas satu.
Kiara mandi, mengenakan bedak tipis, tak lupa lip balm dia poleskan di bibirnya. Setelah menggunakan pakaian olahraganya, dia mengambil bola basketnya dan berangkat. Tanpa sarapan. Kiara selalu begitu, enggan makan apapun saat berangkat ekskul.
Kali ini dia tidak diantar supir lagi, dia naik sepeda kayuhnya.
"Kiara!" sapa Adam yang satu kompleks dengannya. Adam melambaikan tangannya tersenyum menatap Kiara.
"Loh Adam? Itu kenapa muka kamu bengkak?" tanya Kiara menatap memar di sudut bibir Adam.
"Biasa," jawab Adam sembari tersenyum tipis. Kiara hanya menggelengkan kepalanya gemas, dari dulu hingga sekarang, Adam tidak berubah.
"Taubat sana! Mau sampai kapan racing an terus?" Ucap Kiara.
"Sampai aku nemu hobi yang baru," ucap Adam sembari mengedipkan matanya.
Adam lalu menghentikan motornya, mendekati Kiara. Dia menyipitkan matanya, seolah menangkap ada hal yang aneh pada wajah Kiara, tak seperti biasanya, Kiara nampak murung.
"Ada masalah?" tanya Adam sembari menyerngitkan keningnya. Kiara hanya menggeleng,