D

1002 Kata
Gabriel kembali setelah mengambil baju Isabelle dan dia menunggu Isabelle di rumah sakit, dia masuk ke dalam ruangan rawat inap Isabelle dan duduk tepat di samping Ibu Serin. Gabriel sebenarnya heran apa yang terjadi dengan Isabelle, kenapa Isabelle sampai kepikiran dan pingsan seperti ini. "Isabelle, Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kamu bisa sampai pingsan seperti ini?" Gabriel menghela napasnya menatap Isabelle, di tidak menyangka jika istrinya bisa sampai seperti ini. Dia sangat cinta dengan Isabellele, Gabriel ingin Isabellele tetap sehat dan kandungan istrinya baik-baik saja. "Isabellele, apa kamu tidak mau bercerita?" tanya Gabriel. Isabelle masih diam belum menjawab. "Gab, biarkan saja istrimu istirahat ya. Jadi kamu sekarang temani saja Isabellele." "Aku enggak papa kok sayang," ucap Isabellele memegang erat tangan Gabriel. "Iyasudah, kalau begitu aku mengantar ibu Serin pulang dulu ya sayang," ucap Gabriel hendak mengantar ibu Serin pulang namun Serin menolak. "Sudah, jangan. Tidak perlu kamu mengantar ibu, Carlos sudah menjemput kok, kamu di sini saja Gab, temani istrimu." Gabriel memutar duduknya, dia menghadap kepada istrinya dan menatapnya dengan lekat-lekat Arabelle rasanya ingin sekali tahu kenapa dan apa yang terjadi pada tabel. Dia tidak tega jika melihat istrinya itu berwajah seperti ini . Gabriel sebenarnya tahu jika Isabelle pasti memendam sesuatu, sesuatu hal yang tidak akan diucapkan jika Gabriel tidak mendesaknya. Isabelle sendiri masih duduk berbaring dan pasrah, wajahnya seperti putus asa “ Sayang, Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini kenapa kamu tidak mau ceritakan kepadaku apa yang sesungguhnya terjadi.? " Isabelle masih tersenyum tipis dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja sama dia mengatakan kepada Gabriel bahwa dia tidak kenapa-napa . Tenang saja Gabriel sayang sama aku tidak apa-apa kok. Tadi aku hanya kelelahan makanya pingsan di kamar mandi . Gabriel sebenarnya curiga apa yang terjadi pada Isabelle, dia yakin pasti istri-nya mengalami sesuatu hal sampai pingsan di kamar mandi . Gabriel akhirnya yang menemani Isabelle, dia mengusap tangan Isabelle dengan lembut dan membiarkan Gadis itu tertidur pernah dia membiarkan Istrinya tidur dan terlelap. "Aku harus menemukan apa yang terjadi pada Isabelle," ucap Gabriel pada dirinya sendiri . akhirnya setelah Isabelle tertidur, Gabriel memilih menuju ke ruang dokter dan bertanya kepada dokter apa yang sebenarnya terjadi . Ia lalu bertanya kepada dokter yang tadi menangani Isabelle. "Dokter saya mau tanya Sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya? Apa dia sedang mengalami sesuatu atau penyakit lain yang tidak saya ketahui tentang istri saya? Saya mohon dokter jujur dengan saya apa yang sedang terjadi dengan istri saya." Dokter itu hanya tersenyum dan menatap lembut Gabriel. "Sebenarnya tidak ada yang terjadi pada istri bapak, Nyonya Isabelle hanya kelelahan saja jadi Bapak tidak perlu khawatir ya nanya Isabelle hanya perlu beristirahat dan bed rest selama tiga hari. Tapi kelihatannya Saya melihat ibu Isabelle sedang kepikiran sesuatu jadi Saya harap bapak bisa mendampingi Ibu sampai dengan baik. Saya sudah memberikan vitamin untuk menguatkan kandungan Ibu Isabelle, Jadi Bapak tidak perlu khawatir lagi. " Gabriel menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan kau membalas tatapan dokter itu dengan lembut. " Baik dok terima kasih sudah membantu saya . Kalau begitu saya permisi. " Setelah keluar dari ruang dokter, Gabriel merasa tidak menemukan jawaban apapun ada hal yang mengganjal dalam dirinya ada sesuatu yang dia yakini bahwa Isablle pasti sedang mengalami sesuatu hal yang dia tidak ketahui sampai membuat istrinya sok begitu. Sebentar lagi jam makan siang Isabelle, Gabriel mencari makan untuk Isabelle, tapi dia pikir jika dia membeli makanan di luar pasti tidak sehat. Gabriel lalu menelepon ibu Arabelle meminta untuk memasakkan makanan sehat untuk istrinya. Arabelle yang mendengar telepon dari Gabriel dia menghela nafasnya, Kalau saja ini bukan permintaan Gabriel dia pasti tidak mau melakukannya pasti Arabelle tidak mau membuatkan masakan untuk Isabelle. Tapi karena ini permintaan kabel sendiri, arah berakhirnya memasak makanan untuk Isabelle. Arabelle yang telah ditelepon oleh Gabriel dia langsung berdiri. Arabelle langsung menuju ke Supermarket untuk membeli bahan makanan . Hari ini dia akan memasakkan sup untuk Isabelle. Masakan Arabelle memang sangat enak tetapi sebenarnya dia tidak ikhlas memasaknya untuk Isabelle, namun dia ingat-ingat lagi Bagaimana anaknya yang memintanya, dia tidak tega jika Gabriel yang meminta langsung kepada dia. Arabelle menghela napasnya, dia menatap sup ayam dan dan ayam yang dia taruh di rantang . Semua ini siap dia bawa ke rumah sakit. Arabelle sebenarnya enggan bertemu dengan Isabelle, dia sangat tidak suka menatap Isabelle. Isabelle seketika langsung duduk di atas kasur, menata sedikit rambutnya yang berantakan di depan Arabelle. Setidaknya dia tidak mau jika terlihat kusut di depan mertuanya. Arabellele meletakkan makanan di atas nakas, Gabriel tidak ada di sana, dia sedang mengambil obat. "Kamu benar-benar merepotkan!" ucap Arabellele dengan lantang. Isabellele hanya bisa menunduk. "Maaf ibu, maaf. Terima kasih untuk makananya," ucap Isabellele dengan tulus. Arabellele benar-benar kesal menatap Isabellele, dia lalu berdiri dan pergi meninggalkan Isabellele. "Ibu, ini benar anak Gabriel," ucap Isabellele sembari menitikkan air matanya, hatinya sangat pedih saat mengingat Bagaimana Arabelle mengatakan bahwa anak yang dalam kandungannya adalah anak orang lain. Isabelle sangat terluka dengan ucapan Arabelle sampai dia hingga detik ini masih stress. Arabelle tidak menghiraukan ucapan Isabelle, dia hanya menatap Isabelle dan mengucapkan aku tidak peduli apa ucapanmu kita lihat saja nanti itu anakmu atau bukan . Kalau anak dalam kandungan bukan anak Gabriel kamu harus bercerai dengan Gabriel. "Kenapa Bu? Aku dengan Gabriel sangat mencintai saling menyayangi, kenapa aku harus berpisah dari Gabriel?" Arabelle menatap Isabelle dengan penuh tatapan tajam. "Kenapa kamu masih bertanya? Keluargamu jauh berbeda dengan keluarga kita . Jadi sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian. Kalian itu tidak seharusnya bersatu, seharusnya Gabriel menikah dengan Rachel, dan juga Rachel menjadi menantu saya." Isabelle hanya bisa diam, dia menunduk, sungguh rasanya sakit hatinya, dia sakit hati mendengar Arabellele mengatakan hal itu. "Kamu lihat Rachel! Dia kan perempuan yang cantik dan berwibawa. Dia perempuan yang berkelas, kuliahnya saja kedokteran. Dia spesialis kecantikan. Tentu saja kamu tidak pantas untuk Gabriel!" Isabelle tidak sanggup mendengar ucapan Arabelle, namun bagaimana lagi? Yang bisa Isabelle lakukan saat ini hanya diam dan tidak mau mengatakan apapun. Dia hanya bisa mendengar, enggan membantah, karena percuma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN