"Dav, kamu harus bilang ke aku dengan jujur aku udah dapat buktinya, kamu nggak bisa ngelak lagi . Kamu harus bilang sama aku Kenapa kamu ngehamilin Silvia. Kamu bener-bener gila ya? Kamu merusak hidup anak orang tahu nggak sih! Kamu bener-bener ya laki-laki yang gak tau diri. Harusnya kamu itu tanggung jawab!" David terkejut saat Tiara mengumpat dirinya, Dia kira Tiara tidak bisa ngomong mengumpat, dia hanya bisa menunduk dan tidak tahu harus mengatakan apa . David memang salah tapi itu semua karena kelainan yang dia miliki . Tapi kepada Tiara Jika dia mengatakan tentang kelainan dia, tapi tidak yakin Tiara kan percaya. Yang ada mungkin bisa jadi Tiara malah marah kepada dia.
"Kenapa sih kamu ikut campur sama urusan aku? Udahlah, lagipula Silvia kan juga katanya udah mau nikah kan sama cowoknya, Terus kenapa kamu jadi ini masalah. " Tiara menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar . Dia menatap David dengan tatapan membenci lalu menamparnya dengan keras. "Karena orang yang mau nikah sama Silvia itu orang yang aku cintai! "
Seketika David terkejut mendengarkan ucapan Tiara, David sungguh tidak tahu jika dia menyakiti sepupunya sendiri. Dia sadar Jika dia salah. David tapi tidak mau mengakuinya dengan cepat.
"Udah ya, aku mau kamu jujur, kamu jelasin ke aku krnapa kamu bisa ngelakuin hal itu sama Silvia. Kamu gila? Atau kamu punya kelainan? "
David terdiam sejenak, dia tidak tahu harus menjawab apa." Iya, aku kelainan. Aku punya penyakit hiperseks, dimana penyakit itu enggak akan bisa hilang sumur hidup . Aku butuh terapi psikolog, tapi aku nggak berani ke sana sendirian. "
Tiara mengusap wajahnya yang kasar, dia sendiri gemas terhadap David, kalau misalnya David sangat sulit mengatakan hal ini kepada Silvia, lalu bagaimana dengan Silvia yang membutuhkan pertanggungjawaban dari David. Bagaimanapun juga anak yang dikandung Silvia adalah anak David . David harus mengakui semuanya.
"Gini ya, yang aku mau sekarang kamu ngaku sama Arthala, terus kamu bilang ke Silvia kalau kamu mau nikahin dia . karena ini tuh resikonya tinggi! Sampai kapanpun sampai seumur hidup anak di kandungan Silvi itu anak kamu! Kamu bapaknya! Jadi kamu yang harus tanggung jawab . Lagi pula pernikahan juga mungkin bisa nyembuhin penyakit kamu. Dan aku pun nggak akan kehilangan orang yang aku cintai. "
David sangat bingung hal ini, yang dia bingung kan bagaimana cara menjelaskan kepada kedua orang tuanya, ayah ibunya pasti akan marah dengan David . Belum lagi bisa jadi Ayahnya akan memukul David sampai babak belur, David sendiri tidak tahu harus bagaimana . Apalagi pernikahan di usia muda itu sangat beresiko, menikah artinya dia akan tinggal bersama Silvia. Padahal David tidak pernah mencintai Silvia sedikit saja.
"Tiara, aku mohon sama kamu biarin aja lah udah ikhlasin orang yang kamu cintai itu, aku nggak bisa tanggung jawab sama Silvia, aku bingung ngomong sama nanti sama Papa dan Mama aku, mereka bisa aja nanti marah sama aku. "
Tiara tersenyum miring menatap David. "Yang kamu permasalahin kamu takut sama orang tua kamu? Biar aku yang ngomong sama mereka . Yang penting sekarang kamu ngomong dulu sama orang tuanya Arthala kalau Sebenarnya kamu yang udah ngambilin Silvia. Jadi mereka akan batalin pernikahan Silvia. Dan aku yang akan bilang sama orang tua kamu Dan mintak orang tua kamu untuk nggak nyakitin kamu. "
Saat Tiara mengucapkan dengan tatapan yang tegas dan tajam, tapi tidak akan pernah bisa kabur dari Tiara, dia sudah ketahuan . Dia sudah kalah telak, dia tidak akan pernah bisa bersembunyi dari apapun lagi . Fakta ini sudah Tiara ketahui."Oke, tapi bener ya kamu jamin orang tua aku gak akan marahin aku." Tiara mengangguk, dia Lalu mengajak David untuk pulang ke rumahnya.
Tiara dan David pun pulang ke rumah David, mereka berdua berhadapan dengan ayah dan ibu dari . Tiara sebenarnya bingung harus memulai percakapan dari mana dia sendiri masih bingung bagaimana nanti agar orangtua David tidak akan marah kepadanya.
"Om, tante saya kesini mau Mau mengatakan sesuatu, saya mau jujur tentang satu hal tapi saya minta Om sama tante gak marahin David, saya minta Om sama Tante bijak dalam mengambil keputusan ini . Saya minta juga Om sama Tante masih menyayangi David sebagai anak . Saya akan menjelaskan dan saya minta Om sama Tante untuk sabar dan sama sekali enggak marah. "
Seketika Ibu David terkejut mendengar ucapan Tiara, sepertinya ada sesuatu yang penting yang harus diungkapkan oleh Tiara.
"Hah? Memangnya ada apa! Tante nggak akan marah kok kalau misalkan bukan sesuatu hal yang krusial. "
Tiara menunduk lalu benar-benar memohon kepada orang tua David untuk sama sekali tidak marah itu David.
"Jadi, om tante David udah ngelakuin hal yang benar-benar buruk. Tapi saya minta sama Om sama Tante jangan marahin David lagi, jadi David ngehamilin teman saya Tante . David ngehamilin Silvia." Ucapan Tiara itu seketika membuat Ibu David terkejut, ketika air mata meluncur dari mata Ibu David.
"Tante, tante yang sabar. Dan jangan nangis."
Papa David lalu bangkit dan dia menarik kerah baju David dan menamparnya dengan keras seperti sedangkan Tiara mencoba melerai mereka berdua.
"Om udah Om ini bukan waktunya untuk bertengkar, yang penting David tanggung jawab. " Papa David sangat marah, matanya sampai memerah. "Kamu ya! Papa sekolah yang tinggi-tinggi biar tahu soal norma dan perilaku! Ini malah ngehamilin anaknya orang! Kamu udah gila!"
David tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya bisa menangis dan menunduk atas kesalahan yang telah dia buat tapi David memang menderita hiperseks dan dia tidak bisa mengutarakan itu.
"Om tante sebenarnya ini bukan murni kesalahan David, jadi memang mengidap hyperseks. David pernah konsultasi ke psikiater sendirian . Tapu David nggak berani untuk kesana lagi karena dia malu.
"Ibu dan ayahnya saling bertatapan, mereka tidak tahu jika anaknya menderita hal seperti itu. Akhirnya mereka berdua mengatakan kepada David bahwa David memang harus bertanggung jawab dan menikahi Silvia.
"David, kamu segera ya hubungi Silvia dan ajak ke rumah sini. Atau kalau nggak biar Mama sama Papa yang datang ke rumahnya. Kamu harus tanggung jawab sama apa yang sudah kamu lakukan, walaupun usia kamu masih muda tapi kalian tetap bisa Kuliah kok. Mama sama papa yakin kalau misalnya kamu pasti bisa untuk menghadapi ini semua. "