Liam berjalan menuju mobil Reeves, dengan sebuah tang di genggamannya. Diam-diam menepuk pundak seseorang berbaju hitam di sisi kirinya sembari tangannya memberikan tang itu.
"Lakukan sekarang."
Lelaki yang dia perintahkan mengangguk, tak lama dia menerobos ke bagian bawah mobil, mengutak atik mencari kabel penting, memutusnya dan dia bangkit keluar.
"Sudah."
Liam mengangguk lalu dia membenahi dasinya yang sempat tertiup angin, kembali masuk ke dalam mobilnya. Dalam hatinya dia kegirangan, sebentar lagi dia akan menyaksikan apa yang membuat dia merasakan puas.
Sekitar setengah jam lamanya menunggu, Reeves dan Vida kembali, mereka berjalan sembari bersenda gurau lalu masuk ke dalam mobil. Liam mengikuti mobil mereka dari belakang, rupanya truk besar menghalangi Reeves saat di jalan tol, dia menambah kecepatannya, menyalip truk besar itu, mengambil jalur kanan dan saat Reeves hendak mengurangi kecepatan, kakinya menginjam rem, namun remnya tidak bisa digunakan. Reeves panik bukan main, keringat dingin mulai membasahi keningnya, sedangkan di depannya ada truk lain. Vida menepuk lengan Reeves saat lelaki disampingnya tak bisa memegang kendali.
"REEVES!! KURANGI KECEPATANNYA!" teriak Vida heboh ketakutan.
"Tidak bisa!" ucap Reeves.
Satu-satunya jalan yang bisa Reeves ambil hanyalah mengambil hand rem, menarik tuasnya dan seketika mobil mereka berhenti mendadak, namun keberhentian yang mendadak itu membuat truk yang dibelakang mobil Reeves kehilangan kendali dan menabrak mobil Reeves dengan benturan yang sangat keras. Truk panjang yang membawa angkutan barang. Mobil Reeves terdorong, terseret oleh truk itu sekitar 5 km ke depan, Reeves kehilangan kendali, sedangkan Vida panik, Vida membuka pintu mobil dan melompat keluar, tubuhnya terbentuk aspal, sedangkan Reeves masih panik dan mobilnya menghantam kencang pembatas tol. Darah segar bercucuran dari pelipis Reeves.