Hal yang paling mengesalkan bagi Tiara adalah dia harus menanggung semua ini sendirian, meski kisah cintanya benar-benar hancur, dia tidak sanggup untuk kembali bersama Arthala, apalagi kasus pembunuhan yang terjadi, memang bukan salah Arthala, tapi ketika melihat wajah Arthala semakin membuat Tiara menjadi gemas dan kesal.
"Kamu jadi berangkat S2?" tanya Rio dengan suara beratnya. Berhari-hari wajah Tiara suram, ditekuk seperti tidak ada kecerahan disana, seperti terluka, ada luka berat yang sulit disembuhkan. Namun Tiara enggan menyerah, dia sendiri sadar jika semua ini adalah cobaan.
"Jadi, kenapa Ri?" tanya Tiara. Sekolah S2 dan sekaligus dia meniti kehidupan di luar negeri, itu adalah ide terbaik yang dimiliki Tiara saat ini. Dia sendiri tak lagi memikirkan cinta, rasanya sudah putus asa dan dia menyerah.
"Tir, kamu disana sendiri dong?" tanya Rio.
Tiara mengangguk dengan mantab, dia yakin dengan pilihannya.
"Yah, aku bakal kangen kamu," ucap Rio secara gamblang. Tiara tersenyum, dia menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. Memang berat menjalani hidup sendirian di sana, apalagi semua keluarga di Indonesia.
"Gapapa, aku baik-baik aja kok." Tiara senyum manis, dia tau Rio menyukainya, tapi untuk saat ini Tiara belum bisa menyimpan nama siapapun. Dia ingin berdiri diatas kakinya sendiri, dia ingin berubah.
"Yasudah kalau itu keputusan kamu, semangat ya, besok aku antar kamu ke Bandara."
Tiara mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Dia lalu kembali pulang dan berkemas, besok dia harus ke Jepang, memulai hidupnya yang baru. Notifikasi email membuat Tiara menyerngitkan dahinya, dia membukanya dengan segera, dengan tulisan Jepang itu, dia terkejut, salah satu pemandu dia mengatakan Tiara akan satu kampus dengan alumni yang sama. Arthala.
Ini hal yang mengejutkan baginya, dia tidak tau jika Arthala juga sekolah S2 di tempat yang sama. Setengah hati Tiara tidak terima dengan keadaan ini, setengahnya lagi bingung dia harus apa, karena sungguh dia tidak bisa melakukan fokus jika bertemu Arthala lagi.
"Why?" satu kata itu meluncur dari bibir Tiara. Dia tidak menyangka jika akan sekelas dengan Arthala, dia memanyunkan wajahnya, enggan melakukan pergi ke Jepang, tapi sangat sayang jika dilewatkan.
Dengan tekad dan sisa keinginan yang dia miliki, Tiara memutuskan tetap berangkat, tak peduli jika dia bertemu lagi dengan Arthala.
Esok harinya di bandara, Tiara bersama keluarganya sudah berangkat, mereka melambaikan tangan kepada Tiara, tepat saat baru saja Tiara hendak naik ke pesawat, wajah Arthala mucul di hadapannya.
"Loh?" ucap Arthala setengah bingung. Sedangkan Tiara hanya membuang wajahnya, enggan menyapanya. Dia duduk di bangku pesawat nomor miliknya dan menyandarkan kepalanya ke kaca pesawat.
"Kok kamu?" ucap Arthala terhenti karen Tiara menempelkan jari telunjuk di bibirnya, isyarat menyuruh Arthala diam.
Keluarga Tiara termasuk Rio, mereka tidak tau jika Arthala dan Tiara sekolah Magister di tempat yang sama.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Arthala bingung. Tiara memalingkan wajahnya lagi, menatap ke arah luar pesawat, sungguh dia tidak mau berbicara dengan Arthala saat ini, dia sedang mengunci bibirnya.
"Tir, bisa kan jawab aku?" ucap Arthala sembari membenahi sabuk pengamannya karena pramugari sedang mengingatkan. Tiara menggeleng, enggan menjawab.
Arthala akhirnya memilih diam. Meski perjalanan berjam-jam, mereka saling diam, dan Tiara memilih Tidur, sesekali tangan Arthala menahan kepala Tiara dan meletakkannya di pundaknya, sepertinya tidur Tiara pulas, dan Arthala pun enggan mengganggu tidur Tiara. Dia ikut tertidur juga.
Setengah perjalanan, Tiara terbangun, dia terkejut karena melihat Arthala di sampingnya. Dia kaget karena tidur di pundak Arthala.
Kini Arthala yang tertidur, Tiara hanya tersenyum menatap wajah tampan Arthala, dia masih menyukainya, Tiara tidak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri.
Perlahan Tiara mengambil selimut, dan menyelimuti Arthala. Merasakan pergerakan Tiara, Arthala terbangun, dia membuka matanya dan Tiara langsung menatapnya. Entah apa yang membuat Arthala berani, dia menarik dagu Tiara dan mencium bibirnya, bibir merah Tiara, dia merasakan lembutnya dan menggulumnya perlahan. Tiara terkejut, namun dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Arthala memang mempesona, dia menyukainya.
Tiara pun menikmatinya, dia mengikuti alur permainan Arthala. Sampai bahkan mereka kehabisan napas, baru saling melepas. Seketika Tiara memalingkan wajahnya, engan melakukan hal itu lagi, sungguh dia benar-benar terkejut sekaligus senang apa yang dilakukan Arthala. Tiara tak tau harus bagaimana, namun dia memalingkan wajahnya lagi karena malu, wajahnya memanas memerah karena malu dengan Arthala. Ini pertama kalinya Tiara merasakan bibir Arthala yang hangat.
"Tir," panggil Arthala pelan. Mau tak mau Tiara menatap Arthala. Lelaki itu mengecup kening Tiara dan dia menatap mata Tiara dengan tatapan dalam.
"Maaf, aku sayang sama kamu."
Tiara tersenyum, dia tau maksud Arthala