Keinginan Papa

1112 Kata
Beberapa hari berlalu semenjak acara makan malam yang tak terduga itu. Sekarang, gue dan Sheila tengah duduk berhadapan di salah satu kafe tak jauh dari kediaman Sheila. Ada beberapa hal yang perlu gue tanyakan, salah satunya terkait mengapa wajah Sheila yang cantik ini terlihat sendu sedari tadi? Sheila memesan mattcha latte sementara gue menunjuk gambar bertuliskan americano yang segera dicatat pramusaji. Tak berapa lama berselang, pesanan kami telah disajikan. Sheila menghirup minumannya dengan tenang dan pelan. Pandangannya menekuri meja dengan kosong. Hati gue bergetar. Dengan penuh kehati-hatian, gue meraih seraya mendekap tangan kiri Sheila yang bertengger di atas kenap. "Kenapa, hem?" Gue mengelus punggung tangan Sheila dengan ibu jari, berniat memberikan ketenangan dan menyalurkan kasih. Sheila menengadahkan wajah menatap gue dengan seterbit senyum siput yang menghiasi. "Gue hancur," katanya terdengar ambiguitas di telinga gue. "Apanya yang hancur? Perihal otak lo yang gesrek atau karena gue banyak fans makanya lo begini?" seloroh gue sembari menaik-turunkan kedua alis berniat menggoda. Sheila tidak mencemooh atau menentang sebagaimana biasa. Wajahnya terlewat sendu dan hati gue semakin ngilu. "Mama gue ...." Sheila mulai menceritakan kegundahan dan ketakutannya. Selepas acara makam malam tak terduga itu, Tante Reina memarah-marahi Om Bara. Dari radius yang cukup jauh namun masih jernih mendengarkan, kata Sheila, dia berada di sebalik tangga ketika kedua orang tuanya bertengkar di ruang keluarga. Pada saat itu jam diding menunjukkan pukul sebelas malam kala Sheina masih terjaga dan mengendap-endap keluar. "Aku sudah muak dengan kamu!" murka Tante Reina. "Beri aku waktu!" Om Bara balas berteriak. "Berapa lama lagi, hah? Sampai rumah ini disita dan kamu tidak mampu lagi membiayai aku dan Sheila?" Tante Reina mencoba tegar sementara Sheila bergetar. Kata Sheila, ayahnya telah bersusah payah menekan perekonomian. Berhemat biaya bulanan, keperluan, hingga pangan sekalipun sudah diminimalkan. Akan tetapi, Tante Reina selalu memandang sebelah mata dan kerap kali mencibir kerja keras Om Bara. Bukan sekali dua kali hal itu terjadi. Sheila tumbuh di antara makian orang tuanya. Bukan hal yang aneh lagi jika Tante Reina meneriakkan kata cerai namun berakhir urung karena Om Bara menyebutkan namanya sesekali. Sheila rapuh. Sheila ketakutan. Sheila ingin mati saja. "Aku sudah mempertimbangkannya, dan aku serius kali ini. Aku ingin bercerai. Kita selesai." Tante Reina menutup amarahnya dengan menelepon seseorang. Sheila menerka, bahwa itu adalah kawan erat mamanya yang bekerja sebagai pengacara guna memakai jasanya mengurus surat perceraian. Setelahnya Tante Reina meninggalkan Om Bara yang tercenung di atas pijakannya, dan Sheila semakin menyadari bahwa keretakan keluarganya tidak akan bisa dipulihkan kembali. Kemudian, Sheila melanjutkan cerita, pada pagi harinya Tante Reina meninggalkan rumah dan kembali kala matahari hampir tergelincir di ufuk barat dengan mendekap map cokelat yang tampat kontras dengan baju birunya. Tante Reina mendatangi Om Bara di ruang keluarga yang tengah menatapnya hampa. Sheila ada di sana, tengah merampungkan tugas sekolah dibantu ayahnya. "Ini surat perceraian. Segera tandatangi ini dan kita resmi berpisah. Besok kamu harus datang ke pengadilan," kata Tante Reina berbarengan dengan diletakkannya map itu di atas meja. Om Bara mengatupkan bibir urung bicara ketika Tante Reina kembali bersuara. "Jangan membuat Sheila sebagai alasan. Dia sudah besar dan tahu masalah keluarga." Tante Reina menatap Sheila yang terpaku di samping meja. "Kamu ikut dengan mama. Tidak ada penolakan." Sheila ingin berkomentar, tetapi Tante Reina segera pergi, menghilang ke dalam kamar. Om Bara pasrah. Jika memang itu keinginan istrinya, ia tidak bisa memaksa. Hubungan suami istri mereka bukan lagi di ujung tanduk, tapi betul-betul telah terjun bebas dari hulu dan terbawa aliran air ke rawa-rawa payau. Sheila melihatnya sendiri, Om Bara memandari surat perceraian tanpa berniat membacanya. Om Bara merobek-robek selembaran kertas itu dan menitah Sheila beristirahat. Keesokan harinya, Sheila tidak mendapati Om Bara di seluruh rumah. Dia memutuskan meninggalkan rumah sementara setelah mengirimkan pesan singkat kepada Sheila untuk menjaga diri dan menyayangi ibunya. Entah apa yang terjadi antara Om Bara dan Tante Reina semalam. Sheila tidak tahu, atau lebih tepatnya enggan mengetahuinya. Sheila, yang duduk di salah satu kursi tetamu rumah, merasakan teleponnya berdering dan tangis pun tak lekang ia bendung. Tante Reina seolah merdeka, dia malah mengejar bokap gue sekarang. Setiap hari, menurut cerita Sheila, Tante Reina selalu menceritakan bokap dan membandingkan pekerjaan juga perilakunya dengan Om Bara. Tak tanggung-tanggung Tante Reina selalu membuatkan makan siang untuk bokap dan menemuinya di kantor. Bokap sendiri, dengan leluasanya bersinggah di rumah Tante Reina. Gue pernah melihat mereka pergi bersama-sama ketika gue mengantarkan Shea pulang ke rumahnya. Gue menjadi khawatir akan hubungan yang terjalin antara gue dengan Sheila jika saja bokap dan Tante Reina memutuskan untuk menikah. Cerita habis. Gue menyodorkan minumannya agar Sheila lebih tenang. Dia menerimanya dengan perlahan, kemudian gue kembali menggenggam tangan Sheila tanda perlindingan. Sheila semakin tergugu. Gue tidak memedulikan suasana kafe sekalipun ramai pengunjung. "Shei ... lo punya gue. Gue akan ada buat lo. Kita harus pertahanin hubungan ini." Gue mencoba menenangkan Sheila dengan menepuk-nepuk penggungnya setelah bergeser duduk di sebelahnya. Setelah tangisnya reda, Sheila meminta dipulangkan ke rumah dan gue segera mengabulkannya. Sheila butuh istirahat. Gue tidak akan mengganggunya selama dia ingin menyendiri sementara waktu. Selama perjalanan menuju rumah seusai mengantarkan Sheila pulang, gue terus menggeram dan rasa kecewa kepada bokap pun muncul ke permukaan. Gue memacu motor kehilangan akal. Melesat cepat ingin segera berhadapan dengan bokap. • • • Gue lekas memasukkan motor melewati gerbang. Mobil yang biasa dipakai bokap bertengger di pelataran rumah. Tanpa banyak membuang waktu, gue membuka pintu utama, dan tampaklah bokap yang tengah menerima tamu yang tidak gue harapkan. "Hei, Radja, kamu tidak bilang dulu mau pulang," kata bokap tampak kaget. "Ayo salami Reina." Dengan enggan, gue mencium telapak tangan Tante Reina. Gue emosi, tapi gue tahu etika. "Ah, sudah malam juga. Aku mau pulang saja, Mas. Dah, Radja." Tante Reina tersenyum lebar. Bokap mengelus-elus bahunya dan mengantarkan Tante Reina hingga pintu keluar. Bokap berjalan ke ruang televisi sembari tersenyum-senyum. Gue tidak menyukai itu. Makanya, gue menghentikan aksi bokap yang akan meraih remot dengan berkata, "Radja gak suka kalau papa punya hubungan dengan Tante Reina." Ya, bagus, Radja, langsung pada inti saja. Bokap mendelik, alisnya menukik. "Apa maksud kamu?" "Radja gak suka!" tekan gue penuh kebencian. Bokap terperangah beberapa detik. "Kamu masih kecil, enggak tahu apa-apa!" Gue tersenyum mencemooh. Bokap bisa tersulut emosi juga ternyata. "Radja mungkin masih kecil menurut papa, tapi Radja enggak egois!" jelas Radja tersenyum miris. "Papa enggak pernah egois!" bela bokap. Rupanya dia menyadari nada sinisme gue. "Bohong! Papa enggak pernah mau ngerti perasaan Radja sejak kecil. Papa egois! Sekarang pun, saat Radja bahagia sama Sheila, papa malah deket sama mamanya." Gue berang. Mata gue terasa panas. "Radja benci papa!" lanjut gue setelah lama berjeda. "Beraninya kamu! Hei, Radja! Dengarkan papa! Mau ke mana kamu!" seru bokap sementara gue terus berjalan cepat meninggalkan rumah. Gue emosi. Gue perlu penenangan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN