Berantem

1126 Kata
Sheila menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. "Gue bingung, pusing, capek dengan apa yang terjadi, Dja." Gue menempuk punggung Sheila pelan. "Lo kuat, Shei," ujar gue menyemangati Sheila. "Bokap dan Nyokap mau cerai cuma gara-gara masalah ekonomi. Cuma karena itu, cuma itu, gue bingung sma pikiran orang dewasa." Sheila mengepalkan tangan dan memukul pahanya. "Gue udah remaja, dan mereka mau cerai? Gila, nggak, sih? Gue ini udah besar, Dja! Umur pernikahan mereka juga udah lama, udah tua, masa mau cerai gitu aja?" lanjut Sheila. Gue hanya diam mendengarkan seluruh keluh kesah Sheila. "Nggak etis banget, Dja! Apa mereka sekalipun nggak pernah mikirin perasaan gue?" Sheila mulai mengeluarkan air matanya. Gue memeluk dia. "Gue benci adanya perpisahan, Dja! Apalagi itu bokap dan nyokap gue!" Sheila menggeram marah. "Nyokap gue cuma mikirin uang yang dihasilkan bokap, sedangkan bokap gue malas kerja. Kenapa hidup gue gini banget, sih, Dja? Gue cuma mau keluarga yang bahagia." Sheila menyeka air matanya dengan kasar. Gue merasakan apa yang Sheila rasakan. Perpecahan dalam keluarga. Bedanya, gue bisa dibilang lebih ngenes daripada Sheila. "Gue juga ngerasain, Shei. Bahkan lebih sakit daripada yang lo rasain," ungkap gue. Sheila menatap gue dengan kesal. "Gue nggak mau jadi seperti lo! Gue nggak pernah mau ada masalah dalam keluarga gue! Gue nggak mau! Jangan pernah bandingin masalah gue dengan masalah lo!" geram Sheila. Gue hanya mengangguk dan mencoba menenangkan amarah Sheila kembali. "Gue benci nyokap yang mata duitan! Gue benci punya bokap yang pemalas! Gue benci keluarga gue! Kenapa gue nggak punya keluarga yang bahagia aja?!" Sheila meraung-raung dalam dekapan gue. "Mereka pasti udah mikirin matang-matang, Shei." Gue mengusap-usap pucuk kepala Sheila. Sheila menggeleng. "Mikirin gimana? Kalau mereka mikir matang-matang, cerai bukan jalan keluarnya, Dja! Gue nggak sebodoh itu!" sarkas Sheila. Gue tersenyum. Memaklumi ucapannya. "Siapa yang bilang Sheila bodoh? Lo pinter, Shei. Sheilanya Radja nggak pernah sekalipun jadi bodoh," tutur gue. Sheila mengangguk lalu melepaskan pelukan kami. "Makasih, Dja. Lo emang selalu ngertiin gue." Gue mengangguk seraya tersenyum lembut padanya. Ini kenapa gue sebucin ini, sih? Jadi geli sendiri gue. "Mau kerumah papa?" tawar gue. Sheila mengangguk kemudian tersenyum. "Ayo!" Gue dan Sheila segera melaju meninggalkan taman kota. Diperjalanan, gue dan Sheila sama-sama terdiam. Tidak ada yang memulai percakapan. Mungkin, Sheila sedang menenangkan hatinya. Dan gue? Pastinya sebagai pacar yang baik harus memberi ruang kepada Sheila dan pikirannya. Tidak butuh waktu lama, gue dan Sheila akhirnya sampai di rumah gue. Gue meminta Sheila menunggu di depan teras. Sementara gue akan memarkirkan motor terlebih dahulu. Setelah selesai, gue menggandeng Sheila untuk masuk. "Pa?" panggil gue. Mata gue menelisik seluruh isi rumah yang bisa gue jangkau. Tak lama, suara papa menjawab panggilan gue. "Papa disini." Papa melangkahkan kaki dari arah ruang baca menuju kami. Sheila mendekat kearah papa. Mencium tangan papa dengan sopan. "Kamu nggak bilang kalau calon menantu papa akan datang?" tanya papa kepada gue. Gue menyengir sebagai balasan. "Kenapa papa nggak tanya calon menantu papa, aja?" Gue menoleh kearah Sheila. Pipinya bersemu, pertanda bahwa Sheila sedang malu sekarang. "Pa, menantu papa malu-malu kucing, tuh. Kayaknya dia tersanjung punya calon suami seperti Radja." Gue menepuk d**a bangga seraya mengerling kepada Sheila. "Sudah, sudah! Ayo kita makan," ajak papa. Gue dan Sheila mengangguk lalu mengikuti papa ke ruang makan. Papa mempersilahkan Sheila duduk di kursi depan gue. Sementara gue ada di sebelah papa. Dan papa, ada diantara kami. "Bagaimana keadaan sekolah kamu, Shei?" Papa membuka pembicaraan dengan bertanya kepada Sheila. "Baik, pa," jawab Sheila. Sheila memang sudah memanggil papa gue dengan sebutan yang sama semenjak hubungan gue dan Sheila berjalan lima bulan. Lebih tepatnya tujuh bulan yang lalu. "Kamu, Radja? Bagaimana? Masih nakal lagi?" Gue hanya mengggaruk tengkuk walaupun sebenarnya tidak gatal. "Meskipun gitu Radja udah nggak senakal dulu, kok, pa." Jawaban Sheila membuat gue lega. Papa mengangguk kemudian tersenyum. "Itu juga karena kamu, Shei," ungkap papa membanggakan Sheila. Para pelayan akhirnya membawakan kami makanan. Sesi makan dimulai. Tidak ada yang memulai percakapan. Semua fokus terhadap makanan yang tersaji dipiring. Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Setengah jam berlalu, kami sudah mengakhiri sesi makan. Papa mengajak gue dan Sheila menuju ruang keluarga. "Shei," panggil papa pada Sheila. "Iya, pa?" "Bagaimana jika kita makan malam bersama?" saran papa. Gue menyerngit bingung. "Kita? Papa, Radja, dan Sheila maksudnya?" tanya gue memastikan. Papa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan gue. "Boleh, pa." Sheila juga mengangguk tanda menyetujui saran dari papa. "Hamm, bagaimana jika sekalian mengajak mamamu, Sheila?" tawar papa. Sheila menimang-nimang tawaran papa sebentar, kemudian mengangguk. "Dimana, pa?" Papa mengelus-elus dagunya. "Menurut kamu dimana, Dja? Bukannya kamu paling tau tentang hal ini?" Gue berpikir sebentar, lalu menjentikkan jari. "Di Hearlik Resto." Papa mengangguk. "Sheila?" Sheila tersenyum canggung, sepertinya dia tidak mengenal resto ini. Gue menyela papa, "Sheila setuju, pa." Papa mengangguk senang. "Papa dan Radja tunggu langsung dari resto, ya? Kamu berangkat bersama mama kamu." "Iya, pa." *** Gue dan papa sudah berada di resto. Kami tinggal menunggu Sheila dan mamanya datang. Sejujurnya gue sedikit gugup, walaupun gue sudah pernah bertemu dengan mama Sheila. Gue hanya takut jika papa dan mama Sheila nggak akur atau tidak cocok sebagai calon besan. Kan nggak lucu banget kalau gue dan Sheila putus karena ketidakcocokan orang tua. Bel di atas pintu resto berdenting. Di sana, berdiri dua wanita yang terpaut usia cukup jauh. Sheila dan mamanya, Tante Reina. Papa menoleh ke arah Tante Reina. Entah kenapa, ekspresi papa dan Tante Reina sama sama terkejut. "Reina?" tanya papa kepada Tante Reina untuk memastikan. "Bara?" Ini kenapa sih? Jadi papa dan Tante Reina sudah kenal sebelumnya? Atau mereka rekan bisnis? Atau apa? Tante Reina dan papa saling berpelukan. Tapi yang gue bingungin, pelukan mereka erat, bukan seperti relasi bisnis pada umumnya. Jadi hubungan mereka ini apa? "Papa kenal sama Tante Rein?" tanya gue yang tingkat penasarannya udah level akut. Papa tertewa sebentar, lalu berdeham. "Papa dan Tante Reina ini adalah mantan pacar ketika masih duduk dibangku SMA," jawab papa. Gue kaget, Sheila juga. Sepertinya diantara kami memang tidak ada yang mengetahui sebelumnya. "Lalu kenapa bisa putus, pa?" tanya gue lagi. "Ada suatu masalah yang membuat kami harus memutuskan hubungan, padahal, saat itu, bisa dibilang kami masih saling menyukai. Benar, Bara?" jelas Tante Reina. Papa mengangguk. "Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Tante Reina basa-basi. Papa menjawab dengan santai. "Baik, kalau yang kamu tanyakan adalah kabarku, Rein." "Kamu masih tetap sama, ternyata." Tante Rein tertawa dihadapan papa. Papa juga ikut tertawa. "Kamu juga Rein, tapi kamu lebih anggun sekarang," puji papa. Gue sebenarnya nggak suka dengan pujian papa itu. "Terimakasih, Bara. Tentu saja aku lebih anggun sekarang, aku sudah menjadi seorang wanita dewasa." Papa dan Tante Reina berbicara sangat akrab. Entah kenapa, gue merasa Tante Reina mencoba mendekati papa. Gue beradu pandang dengan Sheila. Hanya dari tatap mata, gue sudah tau kalau Sheila mempunyai pikiran yang sama tentang mamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN