Banyak Pikiran

1033 Kata
Gue mengendarai motor kesayangan gue. Akhir-akhir ini kayak ada sesuatu yang ganjal di hati gue. Entah, sejak beberapa kejadian kemarin membuat gue stress dan banyak pikiran. "Kok gue aneh ya?" Menolong gue. Gue mengusap kasar muka gue sambil menghela nafas kasar. "Bro, lo kenapa?" tanya Agam yang baru saja tiba sembari menepuk pundak gue. Gue menoleh sambil menggeleng kepala. "Ciah elah, sejak kapan lo kek gini?" tanya Agam membuat gue menaikkan sebelah alis gue. "Apaan sih, orang enggak apa-apa juga." Gue memandang ke arah depan. "Kita udah lama berteman, Ja. Lo enggak bisa bohongin gue gitu aja kali," ujar Agam yang masih tetap dengan posisinya. "Sok tau lo, baru juga beberapa tahun," ujar Gue. "Udah lama cuk." Agam tidak mau kalah akhirnya gue memutuskan untuk pergi. "Eh—" Ucapan Agam terpotong saat gue pergi. Sore ini, gue sengaja ke taman buat nenangin diri. Sekaligus menghirup udara segar di sore hari. Mungkin setelah dari ini, gue mau pulang ke rumah buat ngambil baju lalu kembali ke rumah Agam lagi. Mata gue tertuju pada anak-anak yang berlarian ke sana kemari, hidup dengan layaknya, harmonis bersama keluarganya. Membuat gue iri seketika. Kapan gue bisa seperti mereka? Akur bersama keluarga, lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Kalau gue kayak gitu, mungkin gue enggak bakal kenal yang namanya balapan, liaraan, dan geng-geng semacamnya. Tapi nyatanya tidak seperti itu, kelakuan gue sepadan dengan apa yang gue dapatkan dari keluarga gue. Sepadan, iya. Tidak ada candaan di dalamnya, penuh dengan sandiwara dan juga fake. Dan dari itulah, gue tumbuh menjadi anak yang serba palsu, senyum palsu, kebahagiaan palsu, dan juga identitas yang gue buat agar tetap dalam nama baik. Gue udah lakuin apa yang orang tua gue mau, sedangkan mereka? Menurut dengan hobi-ku saja tidak bisa, selalu ada larangan. Gue harap, cuman gue yang ngerasain hal ini. Agar tidak banyak penerus lemah kayak gue, yang menutupi jati diri asli demi nama baik keluarga, haha. Miris sekali hidup gue, tapi di balik itu semua, ada alasan. Gue menghentikan pikiran galau gue, gue terlalu lemah mungkin untuk hal ini. Karena pada dasarnya cowok juga bisa sakit, bisa nangis, dan bisa terluka. Tapi pada intinya, cowok harus lebih kuat daripada cewek. Gue sekarang berinisiatif untuk ke rumah gue, selama perjalanan hanya suara motor dan angin serta kendaraan lain saja. Terasa sunyi walau ada suara. Tidak terlalu lama menempuh perjalanan, gue sudah sampai di rumah gue, rumah yang menjulang tinggi tanpa kebahagiaan. Gue tersenyum miris, tapi tunggu? Gue melihat orang yang, sangat gue kenal dan orang yang menjadi alasan gue tetap bangkit dari keterpurukan hidup gue. Dia seperti berbincang hal serius, karena kepo gue mendekat, berusaha mendengarkan percakapan bokap dan Sheila. Ia dia Sheila, orang yang berhasil membuat gue jatuh cinta. Gue seneng dengan keakraban mereka, tapi yang membuat gue aneh, kenapa bokap gue ngasih uang ke Sheila, dengan perasaan yang penasaran, gue mendekat ke tembok "Kamu harus bisa awasin Radja ya, jangan sampai dia balapan, saya akan terus upah kamu selagi dia masih dalam keadaan aman, saya tidak mau anak saya salah jalan. Saya percaya sama kamu, karena kalian terlihat dekat, gunakan kesempatan ini untuk membujuk dia agar tidak balapan lagi," jelas Bokap gue. Seketika hati gue panas, rahang gue mengeras dan tangan gue mengepal "Iya, saya akan lakukan sebisa saya, Om." Itulah kalimat yang gue denger dari Sheila. Kenapa Sheila tega? Dia bahkan tau, kalau gue sangat suka dengan balapan. Setelah dari itu gue melihat Sheila pergi dari rumah gue, dan papa gue juga masuk ke mobilnya sepertinya dia akan ke kantornya. Gue kecewa. "Kenapa lo bisa kayak gini, Shei?" tanya gue pada diri gue sendiri. Gue mengacak-acak rambut gue frustasi. Gue harus ngomong sama Sheila. Saat gue hendak melangkahkan kaki, niat gue pupus. Sheila, orang yang membuat hati gue utuh lagi, tapi kenapa dia membuat goresan luka di sana? Apakah dia anggap hati itu adalah tempat dia bermain? Gue sayang sama dia, kalau gue ngomong dan labrak dia, apakah gue kehilangan dia? Apakah dia enggak mau lagi ngomong sama gue? Gue bingung, kenapa gue sekacau ini? Kenapa gue enggak bisa buat keputusan? Gue bodoh karena cinta! Cinta emang bisa membutakan insan, gue cuman mau penjelasan, tanpa membuat hati dia terluka. Gue enggak mau ini menjadi perdebatan serius, gue enggak ngelarang, cuman gue enggak suka dia seperti itu. Gue mau dia menjaga gue tanpa alasan dan upah, gue cuman mau dia tulus apa adanya. Gue cinta dia, kalaupun dia tidak, setidaknya ... jangan memberi harapan pada gue, jangan dekat dengan alasan ingin memata-matai gue! Gue benci dan enggak suka orang seperti itu! Tapi. Terlalu banyak tapi kalau gue memikirkan semua ini. Gue melupakan apa yang tadinya menjadi alasan gue ke sini, gue dengan cepat kembali menuju rumah Agam. Dalam perjalanan gue terus tersulut dengan emosi, mata gue memerah, sampai di rumah Agam, gue masuk tanpa ketukan dan permisi. Gue emang udah enggak ada etika kalau sedang marah, gue lihat raut wajah bingung Agam, dia menatap gue heran. "Lo kenapa dah?" tanya Agam pada gue. Gue enggak menjawab. "Ck! Lo aneh, datang-datang kayak gini. Tadi juga kayak gitu, lo maunya apa deh? Jangan kayak cewek penuh dengan teka-teki. Gue orangnya enggak pekaan jadi jangan bersikap kayak cewek depan gue," jelas Agam panjang kali lebar. "Bacot." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir gue, membuat Agam geram. Gue rasanya ingin tertawa dan melepas kecapean gue selama ini. Gue cuman mau hidup bebas, tanpa tekanan dari pihak manapun. "Jangan gitu, Ja. Gue ini sahabat lo, lo udah enggak percaya sama gue?" tanya Agam kini dengan nada yang serius. Gue menghela nafas pelan. "Bokap gue kayaknya udah keterlaluan deh, Gam," ujar Gue sambil menatap Agam. "Keterlaluan gimana? Lo dilarang balapan? Kan itu emang keputusan bokap lo dari dulu sampai sekarang sejak kejadian silam," ujar Agam. Gue menggeleng. "Ini lebih, lebih membuat gue marah, Gam," ujar Gue. "Langsung to the point aja, Ja. Gue enggak suka orang banyak bacot," ujar Agam. "Sadar diri, lo orangnya sering bacot." Gue menimpali. Agam cengengesan. "Lanjut, bro!" "Sheila, dibayar buat jadi mata-mata gue. Gue bingung, Gam. Gimana mungkin gue bisa diapit dengan situasi seperti ini?" tanya Gue pada Agam. "Buset, parah juga bokap lo. Mana yang dibayar pujaan hati lo lagi," ujar Agam. "Makanya gue bingung t***l," ujar Gue pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN