“Mah! Aku enggak suka Mama punya hubungan sama Papanya Radja!”
Sheila menghentakkan kakinya lalu naik keatas kamar dan menutup pintunya keras. Mamanya ikut naik mengejar Sheila. Belum pernah rasanya Sheila marah seperti ini, enggak seharusnya Sheila begini.
“Sheil.. Dengerin Mama dulu sayang..” Mama Sheila berusaha membuka pintu kamar putrinya tapi tidak ada jawaban.
“Ini semua gara-gara PAPA!” teriak mama Sheila yang emosi kepada suaminya, seandainya suaminya kaya raya seperti papanya Radja, sudah pasti mama Sheila akan menurut kepadanya. Mungkin memang jalan hidup mereka seperti ini, tapi mama Sheila tak pernah mau mengikuti takdir. Untuk apa dia hidup miskin jika saja kembali kepada papa Radja bisa membuatnya kaya raya, meski hal itu adalah hal yang mustahil.
“Papa lagi? Mama yang enggak pernah bersyukur! Harusnya saat papa begini, mama bantu papa! Bukannya malah selingkuh! Apa mama enggak ingat? Perjuangan kita bersama?”
“Pa, Mama hidup mau hidup menyenangkan Pa! Bukan hidup susah kaya gini! Papa usaha dong Pa!” Mama Sheila lalu berbalik berniat meninggalakan, namun papa Sheila menarik istrinya lalu mendekapnya dalam pelukan. Perlahan air mata istrinya meleleh karena dekapan suaminya yang hangat.
“Ma, papa itu sayang sama mama, papa udah janji kan bakalan buat hidup mama bahagia, papa hanya mau mama ada di samping papa, papa cuma punya mama sama Sheila, gimana papa hidup kalau mama mau ninggalin papa?”
Tringg
Handphone papa Sheila berdering. Di kamar Sheila menguping pembicaraan mereka, meski begitu Sheila hanya mengharapkan papa dan mamanya bisa kembali bersatu menjalani kisah kasih merajut bersama. Sheila hanya mau keluarga yang utuh dan tentram. Bahkan Sheila tak habis pikir jika mamanya akan besama papa Radja, itu artinya dia tidak akan mendapatkan kesempatan bersama Rehando Radja Sembiring.
“Selamat Pagi, Selamat ya Pak, anda diterima untuk bekerja di Royal Dutch Steel. Bapak akan diberi waktu selama tiga bulan untuk berkemas dan mengurus seluruhnya, kemudian akan ada bapak Arnold yang akan mengunjungi bapak untuk kontrak kerja di Belanda, selain itu bapak diperkenankan untuk membawa keluarga pindah ke Belanda, karena masa kontrak kerja 15 tahun.”
Wajah papa Sheila berubah menjadi berbinar atas ucapan seseorang dalam telfonnya, dia memeluk istrinya makin erat.
Sheila yang mendengar semua itu seketika lemas, bagaimana hubungannya dengan Radja?
***
Mentari mulai bersinar kemudian tenggelam kembali. Seperti itulah kehidupan Radja dan Sheila. Berjalan bersama kemudian terpisah oleh jarak. Bahagia sejenak kemudian murung kembali. Bukan miris, tetapi hanya saja terlalu cepat kebahagian yang mereka alami. Jika dilihat-lihat kehidupan mereka memang selalu tertepa berbagai masalah. Tetapi, mereka adalah orang yang kuat dan sanggung untuk melewati itu. Orang yang selalu ceria dan tersenyum bukan berarti tidak ada masalah satupun dalam kehidupannya. Justru, terkadang orang yang selalu terlihat bahagia adalah orang yang memiliki masalah berat dalam kehidupannya. Dengan cara seperti itulah mereka dapat menutupi kesedihannya. Bukan karena mereka ingin berpura-pura, tetapi hanya dengan cara itu mereka tidak berlarut-larut dalam masalah dan kesedihannya.
Sheila, anak yang kuat dan tangguh. Sikapnya yang tomboy membuat orang menerka-nerka bahwa hidupnya tidak pernah ada masalah. Nyatanya, lebih berat dari yang dikira. Sheila bimbang akan pilihan papanya. Dirinya merasa bahwa ia bukan anak kecil lagi yang bisa disuruh-suruh. Disatu sisi, ia memang ingin mencari pengalaman baru yang berbeda di negri orang, tapi disisi lainnya dia tidak ingin berpisah dengan Radja. Hubungannya baru berjalan sekitar beberapa bulan. Ia tidak ingin meninggalkan Radja secepat itu. Walaupun masih ada waktu sekitar 3 bulan menuju keberangkatannya ke Belanda hingga kenaikan kelas. Tetapi, hatinya tidak tega dan tidak bisa rela, jika ia harus ke Belanda.
***
Saat jamkos berlangsung, seperti biasa gue langsung ke rooftop untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang tersedia disana yang tidak bisa gue nikmatin di kelas. Tapi, sebentar, gue ngeliat sesosok, eh, sesosok gak tuh kea setan aja. Hmm. Kayanya gue kenal body ini. Gak salah lagi ini Sheila. Ngapain dia duduk terbalik menghadap tembok? Lagi ngucapin mantra apa tuh anak? Wah, wah. Eits, tiba-tiba terlintas ide cermelang di otak gue yang cerdas ini. Ciaelah wkokok.
"Dor!! Hayu ngapain?" gue mengagetkan Sheila dari belakang. Biar kayak di film-film gitu :v eh tapi dia malah marah sama gue.
"Apaansih mainnya kayak gitu. Kalau gue jantungan gimana? Gak lucu!!"
"Yaelah sorry, gue gak bermaksud kok. Cuman pengen ngagetin aja karena lagi iseng."
"Hmm. Ngapain lu disini? Gak ada guru di kelas? Atau jangan-jangan lagi bolos ya?"
"Astaga, jangan suka suudzon sama pacar sendiri. Gak baik."
"Lagian tau-tau muncul kayak siluman. Pake ngagetin segala lagi."
"Hehe. Gue di kelas gak ada guru, jadi kesini deh buat nikmatin angin sepoi-sepoi. Eh terus tau-tau ada gue. Baguslah jadi ada yang nemenin. By the way, lu ngapain disini pake bengong segala duduk ngadep tembok. Gue kira lagi komat-kamit kayak dukun wkwkw."
"Jadi menurut lo gue dukun gitu? Ck. Gpp, gue lagi bosen aja makanya disini."
"Jangan sewot gitu dong, cepet tua lo nanti. Dasar, kebiasaan cewek. Kalau ditanya mesti jawabannya 'gpp' cih."
"Biarin."
"Jutek amat hari ini. Kenapa lagi? Lo ada masalah lagi di rumah? Jangan di sembunyi-sembunyiin gitu. Gue tau lo lagi bingung mikirin sesuatu. Kalau ada masalah jangan di pendem, lo punya gue disini, gue akan selalu ada dan akan selalu siap buat dengerin cerita lo. Kalau lo gak cerita trus gunanya gue sebagai pacar apa? Inget. Hubungan yang baik itu adalah hubungan yang dilandasi dengan kejujuran. Jujur pada diri sendiri dan pasangannya."
"Aelah cie bijak lo. Makan apa tadi pagi? Kok tiba-tiba jadi gini? Wkwk."
"Gue enggak bijak, cuman mau open mind pikiran lo aja. Jangan ngalihin topik ah."
"//dalam hati (Mampus gue ketauan).
Engga, cuman nanya aja. Gue beneran gapapa. Cuman, hmm bingung. Mama gue sama papa lo bakalan nikah. Gak tau kapan sih. Itu artinya kita bakal jadi adek kakak. Apa bisa gue ilangin rasa cinta gue ini?"
"Jangan ngomong gitu! Gue bakal berjuang buat hubungan kita. Mama lo dan papa gue gak akan menikah. Yakin aja, kalau mereka bakal ngerestuin kita."
"Tapi kayaknya itu cuman angan kita doang. Mereka udah saling mencintai kayak kita berdua. Kita dan orang tua kita sebenernya sama-sama egois. Dan siapakah yang harus kalah dan mengalah di situasi seperti ini?"
"Mereka adalah orang tua. Seharusnya mereka bisa mengerti keadaan anak-anaknya. Bokap gue udah sering egois dan gue udah sering mengalah. Gue gak mau kalau kali ini gue harus ngalah lagi. Gue baru bahagia dan udah bahagia sama lo. Kenapa mereka harus merebutnya? Dari dulu kebahagiaan gue selalu di rebut sama orang tua gue. Gue benci itu."
"Tapi mereka juga berhak bahagia."
"Gue tau, tapi cara mereka gak bener. Mengesampingkan kebahagiaan anak-anaknya demi kepentingan pribadi."
"Hemm."
"Intinya lo tenang aja. Gue akan terus ada di samping lo selamanya."
"dalam hati Sheila (Gak akan selamanya Ja. Gue akan pindah darisini 3 bulan lagi. Gue harap lo gak kaget nanti). Iya, gue boleh minta tolong gak? Jangan kemana-mana ya, selalu disini, jangan marah-marahan lagi. Gue gak mau pisah sama lo. Dan gue sayang banget."
"Kayak mau kemana aja kita wkwk, iya gue bakal selalu ada saat lo sedih maupun seneng. Kita bakal hadapin semuanya bareng-bareng. Gak usah khawatir."
"Oke, gue ke kelas dulu karena kayaknya udah ada guru. Lu disini aja dulu. Kan masih mau ngadem." Sheila pamit karena tidak tahan lagi dengan air matanya yang mau jatuh
"Sip. Be carefull."
Gue ngerasa aneh dan berbeda dengan Sheila hari ini. Kenapa kayaknya dia menghindar dari gue? Apa gue udah salah ngomong? Atau gue udah ngelakuin sesuatu yang buat dia marah? Biasanya dia selalu mau nemenin gue dimanapun berada dan gak akan pergi kayak tadi sebelum gue suruh masuk kelas ataupun terkadang gue selalu nganterin dia sampe kelasnya. Tapi, kenapa sekarang dia malah nyuruh gue buat tetep stay disini? Yang seolah-olah dia nyuruh gue buat gak ngikutin dan nganterin dia kemanapun. Bodo amat! Gue harus tetep ngecek keadaannya. Oke, gue ke kelasnya sekarang.
Aneh, bangkunya kosong dan masih tidak ada guru di kelas Sheila. Kenapa dia bohong sama gue? Dia kemana sekarang. Plis Radja Plis, tolong jangan mikir macem-macem. Ayo positif thingking! Saat dia menjawab pertanyaan tadi, gue juga ngerasa kalau itu bukan jawabannya. Dia mengelak dengan membahas masalah yang lain. Dan bukan itulah masalahnya.
Gue terus menyusuri area sekolah dan saat ingin melewati toilet, betapa terkejutnya gue Sheila keluar dari toilet. Gue langsung ngumpet di belakang tembok. Kok kayak jadi mata-mata? Aduhh. Tapi beneran ini aneh banget. Mukanya terlihat lebih kusut daritadi dan matanya sembab, hmm seperti habis nangis? Iya bengkak! Pasti habis nangi! Ya, walaupun gak keliatan begitu jelas. Tapi kenapa? Apa yang membuat Sheila nangis? Gue harus apa? Dan apa yang sebenarnya terjadi?