Hari ini, gue ingin mengajak Sheila untuk jalan bersama, mungkin makan atau bermain. Gue mengotak atik handphone milik gue. Masih ragu mau mengajak Sheila apa enggak.
Sepertinya kalau dilihat dari keseharian Sheila, dia seperti udah ada rasa sama gue. Tapi gue enggak boleh secepatnya itu percaya sama dia dong, gue enggak mau kecewa atau jatuh hanya karena cinta.
Sheila juga belum lama ada di sisi gue, tapi bedanya, dia enggak sampai setahun bisa buat gue nyaman, dari sikap dan cara dia menyikapi.
Gue terlalu memikirkan kedepannya, gue menggeleng lalu dengan cepat memberikan pesan chat kepada Sheila. Gue ingin menghabiskan waktu bersama dia, enggak lama menunggu balasan Sheila setuju.
Membuat gue jingkrak-jingkrak karena kesenangan.
"Lo ngapa woy?" tanya Agam yang melihat tingkah gue yang kayak orang gila.
Gue menggaruk tengkuk gue yang enggak gatal. "Enggak papa kepo aja lo," ujar gue lalu meninggalkan Agam.
Gue berniat mengganti baju dan bersiap-siap untuk menjemput Sheila. Setelah bersiap-siap saat gue hendak pergi dari rumah Agam.
Langkah gue terhenti.
"Woy mau kemana lo? Enggak lupakan kalau si Airuza mau ke sini? Mau ketemu lo?" tanya Agam pada gue yang membuat gue berfikir.
"Bukannya besok ya?" tanya Gue pada Agam.
"Cek tanggal bro." Agam kembali membaca bukunya.
"Ck! Gue lupa anjir," kesal gue pada diri gue sendiri.
"Emang lo mau kemana?" tanya Agam.
"Kepo aja lo!" kesal gue lalu duduk di samping Agam.
'Ck gimana dong? Gue udah janji sama Sheila nih, masa gue bilang enggak jadi,' batin gue.
Sekitar 5 menit gue berfikir akhirnya gue memutuskan buat ngirim chat ke Sheila untuk pertemuan kali ini diundur dulu dengan alasan gue ada urusan mendadak.
Gue rada menyesal sama diri gue sendiri, dan juga gue kok bodoh amat ya? Sampai lupa tanggal dan hari ini.
"Hello!!" Teriakan itu sangat gue kenal dia Airuza adik dari Dewa sahabat gue.
"Ck! Enggak usah teriak gitu kalau di rumah orang," tegur Dewa.
"Biarin, sibuk aja lo bang." Airuza celingak-celinguk mencari keberadaan gue.
"Eh Dewa gue kira, Airuza doang yang datang. Lo juga ternyata," ujar Agam menepuk-nepuk pundak Dewa.
"Emang enggak boleh?" tanyanya sinis.
"We! Selow aja kali," ujar Agam.
"Radja? Jadikan mau jalan-jalan?" tanya Airuza.
Gue mengangguk tanda setuju. "Yaudah ayo, gue bawa adik lo dulu ya, Dew," ujar Gue menarik tangan Airuza.
"Jaga bro, dia mutiaranya keluarga gue," ujar Dewa.
Tanpa balasan gue pergi bersama dengan Airuza.
Di sisi lain, Sheila yang terlihat kusut sambil menatap ponselnya. Entah apa yang dia baca.
"Ck apa-apaan ini! Tadi ngajak sekarang enggak jadi," ujar Sheila kesal.
"Mana gue udah rapih, tinggal cus aja." Sheila terus mendumel-dumel karena kesal terhadap Radja.
"Aish mending gue ke taman aja deh," ujar Sheila pasrah.
Sheila terpaksa pergi karena dia sudah bersiap-siap, mungkin tanpa Radja dia juga bisa jalan-jalan.
Sheila hanya berjalan-jalan di sekitaran taman melihat beberapa penjual balon dan es krim serta anak-anak yang meminta untuk dibelikan es krim oleh ibunya.
Sesekali ia tersenyum melihat keluarga yang harmonis dan tentram itu, manik matanya tertuju pada dua insan yang tengah duduk bersama sambil tertawa.
"Kayaknya gue kenal mereka deh," ujar Sheila.
Karena ragu akhirnya dia memutuskan untuk mendekat melihat secara jelas dan dugaan dah perkiraannya ternyata benar.
"Radja? Airuza? Dia adiknya Dewakan?" monolog Sheila.
"Kok mereka bisa di sini sih? Bukannya tadi Radja bilang dia ada urusan? Kok malah berduaan sama si Airuza," kesal Sheila.
"Oh urusannya berduaan ya, kalau gitu kenapa gue berharap banget sih! Ih gue kayak orang bodoh, mana mereka deket banget lagi," ujar Sheila sambil memasang wajah yang sulit diartikan.
"Gue juga bodoh, orang kayak Radja mana mungkin enggak punya kesayangan, orang dia ganteng." Sheila kembali mengingat kedekatan dia dan Radja.
"Kok gue cemburu ya liat mereka? Eh bukan cemburu gue cuman kesal, kenapa dia bohong sama gue, kan dia bisa jujur sama gue." Sheila menatap Radja dan Airuza tajam.
Radja dan Airuza tampak sangat dekat, dilihat dari cara berkomunikasi dan tawaan itu udah cukup membuktikan.
Sheila hendak pergi saat langkah mundur dia menginjak botol air minum.
'Mati gue, ini botol kenapa ada segala sih,' batim Sheila.
Radja seperti mendengar sesuatu ia menengok tapi tidak ada orang dia melanjutkan aksinya bersama Airuza.
'Eh tapi gue kayak ngelihat, Sheila deh," batin Radja
"Oi jangan ngelamun," sentak Airuza
"Btw lo tadi denger ada suara enggak?" tanya Radja pada Airuza.
Airuza menatap sekitar lalu menggeleng. "Enggak perasaan lo aja kali," ujar Airuza.
Sheila berjalan dengan kesal ke rumahnya dengan menghentak-hentakan kakinya.
Sheila membuang tasnya sembarangan di atas kasur lalu membuang dirinya di tempat dengan kualitas empuk itu.
Sheila kembali mengingat kebersamaan Radja dan Airuza seketika ia memejamkan matanya dengan paksa.
"Bodo amat toh, Radja juga bukan siapa-siapa gue dan satu! Dia itu pembohong, tega banget dia bohong kek gitu. Emang Airuza itu siapanya? Pacarnya? Atau tunangan? Segitunya banget," kesal Sheila terus menerus.
Hpnya berbunyi nyaring tapi Sheila tak memperdulikannya hari ini moodnya sangat kacau dan buruk.
Di sisi lain Radja ....
"Kok enggak diangkat sih? Marah kali? Atau sibuk?" tanya Gue pada diri gue sendiri.
Gue mengusap kasar muka gue. "Ck semoga, bukan Sheila yang tadi," ujar gue.
"Tapi kalau itu beneran dia? Gue harus apa? Gue udah bohong dong ya sama dia, gue ini kok t***l banget ya, bukannya jujur malah bohong entar masalahnya jadi runyam," monolog gue.
Gue membuang handphone gue sembarangan, lalu mengacak-acak rambut gue.
Merenung sesaat, mengingat kebersamaan gue dan Sheila yang semakin dekat. Semoga ini bisa semakin dekat lagi.
Gue tersenyum lalu menunduk.
"DUAR!!" teriak Agam membuat gue mendongak.
"Lo apaan sih, kayaknya kuker banget ya? Dasar jomblo, gabut, enggak ada kerjaan mending mati aja deh," ujar gue ceplas ceplos.
"Eh mulut loh ya jaga, kalau gue pergi selamanya enggak bakal nemu lagi lo, temen kayak gini!" kesal Agam.
"Oh iya, enggak ada lagi yang sad boy, enggak ada lagi yang bisa diejekin, enggak ada lagi yang tengil enggak ada lagi yang bisa jadi pelampiasan marah gue," ujar gue.
"Anjir, lo kira gue apaan peak?" tanya Agam.
"Coba deh lo pikir," ujar gue.
"Udahlah, ngomong sama lo emang enggak ada gunanya, enggak menghasilkan uang," ujar Agam lalu pergi meninggalkan gue yang tertawa terbahak