Agam dan gue sama-sama duduk di kursi ruang tamu, gue yang masih terus gelisah dengan mood yang sangat buruk. Gue selalu kepikiran tentang Sheila, gue bingung harus ngapain. Gue stres, gue udah kayak orang gila yang enggak tau alur cerita hidup. Agam terus menatap gue dan bukunya bolak balik membuat gue gerah ingin menampolnya dan menjadikannya sebagai bahan pelampiasan mood gue. Agam adalah salah satu sahabat gue yang selalu ada, selalu setia bersama gue lebih dari seorang pacar. Gue beruntung pernah ketemu dia, kadang nyebelin tapi dia udah gue anggap sebagai sahabat gue. Tapi nyatanya kembali pada perasaan gue, cinta dari kedua insan berbeda jenis memang sangatlah rumit seperti gue dan Sheila. Kini tidak tau seperti apa bentuknya, punya cinta sekaligus rasa kesal dan benci. Kisah

