Musuh

1517 Kata

Papa. Kata itu yang sekarang teriang di kepala gue. Sosok laki-laki yang gue benci sekaligus gue kagumi. Coba aja lo bayangin kalau misalnya hidup gue tanpa papa, sengsara? Enggak. Gue bakalan bahagia, hanya saja gue enggak akan bisa ngerasain kasih sayang papa lagi. Gue cuma bersyukur hari ini gue bisa di Vilanzer lagi. Arena balapan dan ramai suara knalpot vespa bikin gairah dalam diri gue kembali hidup. Gue emang punya kenangan sama Sheila disini, pertama kali gue ngajarin dia naik vespa, balapan dengan hati-hati. Gue juga inget pernah bonceng dia berdua naik vespa, mungkin terdengar klise, dan gue ngerasa sangat ingin kembali ke masa itu. Semakin gue sering ke tempat yang lalu, semakin sering pula gue juga keinget sama Sheila, perempuan yang gue cintai. "Weh! Rehando Radja Sembiring.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN