Pintu brankas baja itu berayun terbuka dengan suara derit engsel yang terasa menyayat keheningan kantor lama tersebut. Udara di dalam ruangan seketika berubah, seolah gas yang telah terperangkap selama bertahun-tahun akhirnya menemukan jalan keluar, membawa aroma kertas yang membusuk secara perlahan dan tinta kering yang tajam. Lukas Weber terpaku di tempatnya berdiri, matanya melebar saat cahaya lampu meja menyinari rongga gelap brankas. Jantungnya berdegup kencang, sebuah antisipasi liar akan Master Key atau dokumen-dokumen strategis yang selama ini menjadi obsesi Sebastian Koch membakar pikirannya. Namun, apa yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sesuatu yang benar-benar di luar ekspektasi. Lukas menahan napas, menatap tumpukan objek yang tersusun rapi di dalam sana. Tidak ada dri

