Antara Nessa dan Belly

1007 Kata
David menghampiri anak kecil tersebut lalu berpelukan dengan nya. Nessa terus memandangi dari jauh saja. Dari kafe tersebut keluarlah seorang wanita cantik dan muda yang memanggil anaknya. Wanita itu dari jauh melambaikan tangan nya dan menghampiri David. Dari pun menggendong si anak kecil tersebut kemudian memeluk wanita itu. "Oh.. Oke. Sadar Nes. Bos udah punya anak dan istri. Lagipula kan aku baru kenal bos. Kenapa bisa suka. Hahaha. Nessa gila" ucap Nessa dalam hati. Nessa pun duduk di luar Kafe sambil menunggu David di dalam bersama wanita itu dan anak kecilnya. 15 menit kemudian David pun keluar dan d susul oleh wanita muda dan anak kecil tersebut. Mereka saling berpamitan. Nessa hanya menganggukkan kepala kepala mereka. Perjalanan pun kembali di lanjutkan. Nessa hanya terdiam di dalam mobil. Yang sebelumnya ia sangat ceria tiba-tiba menjadi pendiam. "5 menit lagi akan sampai. Oia kamu bisa nyetir?" Tanya David. "Bisa Pak. Kebetulan dahulu di kampus pernah belajar" "Ok... Kalau begitu nanti kamu bisa gantikan saya kalau saya sedikit lelah ya" "Baik Pak" jawab Nessa sangat singkat. David pun menghentikan mobilnya di tempat proyek pembangunan yang akan di buat. Ia langsung menemui para pekerja dan juga langsung berkeliling. Nessa hanya mendampingi dan juga mencatat apa saja yang di bicarakan oleh David. Tak terasa matahari pun sudah akan terbenam. Dan langit pun terlihat sangat gelap serta waktu menunjukan pukul 5 sore. "Sepertinya akan hujan. Biar saya saja yang membawa mobil Nes" "Iya Pak. Langitnya sangat gelap" David pun langsung bergegas menyalakan mobil dan pergi dari lokasi proyek bersama Nessa. Namun di tengah perjalanan, ada penutupan jalan. "Jalanan di tutup ya Pak?" Tanya David pada petugas keamanan. "Betul Pak. Hujan sangat lebat dan angin laut pun sangat kencang. Di khawatirkan akan menggangu pengendara di jalanan Pak" ucap sang Polisi. "Oh baik kalau begitu. Kami putar balik. Selamat bertugas pak" "Sama-sama Pak. Oia, ada hotel sekitar 2 Km dari sini Pak. Coba bapak untuk beristirahat disana" "Baik. Terimakasih" David menutup jendela mobilnya dan langsung putar arah. "Kita lanjut di Hotel saja ya Nes. Perjalanan pun belum memungkinkan" ucap David pada Nessa. "Iya pak. Bapak pun basah kuyup karena tadi mengobrol sebentar. Saya pesankan kamar atau bagaimana pak?" "Kita langsung saja ke lokasi. Sepertinya hotel tidak akan penuh karena ini tempat terpencil" Setibanya di hotel David dan Nessa berlarian ke resepsionis. "Permisi, saya mau pesan 2 kamar ya" ucap Nessa. "Yang tersedia saat ini hanya 1 kamar Nona. Karena cuaca yang ekstrim hotel sudah on penuh" jawab sang resepsionis. "Hah? 1 kamar?" "Ok. Kita pesan. Tolong bawakan kami air hangat ya" ucap David menyela. "Baik Pak" jawab sang resepsionis. "Tenang saja. Saya akan tidur di sofa dan kamu bisa tidur di tempat tidur" David menjelaskan pada Nessa. David dan Nessa pun masuk ke dalam kamar hotel. David langsung membuka bajunya yang basah di depan Nessa. Dan wajah Nessa pun terlihat malu dan canggung. "Nes, selimut lempar. Saya tidak mungkin memakai baju basah kan. Jadi saya akan tidur di selimuti saja" jelas David pada Nessa. "Bagaimana jika Bapak yang di tempat tidur saja. Saya di sofa sudah biasa pak" David tidak menghiraukan Nessa. Ia langsung tertidur berbalut selimut. Namun Nessa masih memanggil-manggil David dengan sebutan Pak dan Pak. Nessa pun kesal hingga akhirnya memanggil David dengan namanya. "David....... !!!!!" David yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Dia ingat kepada seseorang yang juga sering memanggilnya David dengan sangat kencang. "Yes Mom. Hahahaha. Kamu seperti Ibu ku. Jika kesal memanggilku dengan keras. Oke.. Saya akan tidur di sana dengan 1 syarat" ucap David sambil menghampiri Nessa dan duduk di sebelah Nessa. "Syarat apa Pak?" "Kamu pun harus di tempat tidur sini. OK?" "Hah? 1 tempat tidur? Gak mungkin Pak" Nessa menjawab dengan kebingungan. "Hahahaha. Tenang saja. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Bagaimana jika kita mengobrol saja. Cerita tentang kehidupan masing-masing. Kamu kan harus banyak mengenal saya. Karen kamu sekretaris saya" "Hmmmm....baiklah. Bapak yang mulai ya" David dan Nessa pun mulai bercerita satu sama lain. Mereka sangat asyik mengobrol hingga lupa waktu. Tiba-tiba saja David memandang Nessa dengan tatapan yang berbeda. "Kenapa senyum nya manis sekali. Seperti seseorang yang pernah aku temui beberapa tahun lalu. Tapi tidak mungkin. Dia bukan anak gadis seperti ini. Dia wanita dewasa" ucap David dalam hati. Nessa terus bercerita tentang dia. Namun David terus memandang nya melihat seluruh wajah dan gerak gerik Nessa. "Ya... Ini jelas seperti dia. Bibirnya, matanya dan senyum nya. Memang seperti dia. Dia pun mempunyai kulit yang sangat putih" David terus berkata dalam hati. Hingga akhirnya ia dan Nessa bercanda sambil menggelitik satu sama lain. Dan David pun terjatuh dalam pelukan Nessa. David sadar, ini adalah momen yang tepat. Ia hanya akan memastikan Nessa wanita itu atau bukan. David yang berada tepat di atas Nessa mencoba menatapnya. Ia kemudian memegangi tangan Nessa dari atas. Menahan kedua tangannya agar Nessa tidak berontak. Dan David pun mulai mendekati wajah Nessa dengan perlahan dan terdengarlah suara nafas Nessa. David mencoba menatap Nessa. Wajah meraka hanya berjarak oleh napas. David memejamkan matanya dan mencoba mencium bibir Nessa dengan lembut. Nessa tidak menolak ciuman itu. Ia pun membalas ciuman David dengan sangat lembut dan penuh gairah. David mulai menciumi dan membasahi bibir Nessa. Terdengar suara becek dari ciuman panas itu. Namun kemudian David segera menghentikan ciuman itu dan langsung menatap Nessa dengan tajam. "Belly? Kamu Belly?" Ucap David dengan penuh keyakinan. "Hah? Belly? Belly siapa? Bapak tau dari mana?" Nessa menjawab dengan sangat ketakutan. David menarik tubuh Nessa dan membuatnya duduk di hadapan David. "Kamu Belly kan? Jawab?" "Bapak tau dari mana nama Belly?" Nessa semakin ketakutan. "Kamu tidak perlu tau saya tau dari mana nama itu. Yang saya mau tau adalah kamu Belly atau bukan? Kamu hanya perlu menjawab itu" ucap David dengan sedikit emosi dan kesal. Wajah Nessa semakin ketakutan. Ia merasa seperti ada dalam pelukan harimau yang tidak bisa keluar dari pelukannya. Tangan David terus memegang tangan Nessa dengan erat dan semakin erat. Nessa pun semakin ketakutan. Ia semakin tidak ingin ada di dalam kamar hotel tersebut. "Sakit Pak. Tangan saya sakit" Ucap Nessa. "Lalu kamu jawab dahulu. Baru saya akan lepaskan" "Pak..........."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN