Bertepuk Hati

1020 Kata
David menarik tangan Nessa. Nessa pun terjatuh ke atas tubuh David. Namun dengan sigap Nessa segera berdiri kembali. "Maaf Pak" "Saya yang harusnya minta maaf. Tolong bantu saya Nes. Kamu tekan angka 3 di Telepon itu, hubungi dokter Pribadi saya. Dan minta tolong untuk segera datang kesini ya" "Oh iya baik Pak. Saya coba hubungi dahulu" Nessa segera lari mengambil telepon David dan langsung menghubungi dokter. Tak perlu waktu lama, sekitar 30 menit setelah Nessa menghubungi dokter, ia pun datang dan langsung memeriksa keadaan David. "Bagaimana Dok keadaanya?" "Sepertinya kelelahan. Dia butuh istirahat. Oia, perutnya pun sepertinya kosong. Tolong beri dia makanan namun jangan yang terlalu keras ya. Semisal bubur saja" Nessa menganggukkan kepalanya dan dokter pun berpamitan dengan Nessa. Nessa mencoba membuatkan David bubur, ia memang ahli dalam bidang masak memasak. Tetapi ia sangat gugup, karna Nessa tau David agak sedikit rewel terhadap makanan. Namun ia berusaha percaya diri membuatkannya. Setelah bubur matang, Nessa pun diam-diam meninggalkan rumah David dan pulang ke rumahnya. Tak lama setelah Nessa pulang, David pun terbangun dari tidurnya di kamar. Ia mencoba untuk bangun namun kepalanya terasa masih sangat pusing. "Ya ampun... sakit sekali ini kepala ku" David mencoba berjalan ke arah luar dari kamarnya. Ia menemukan 1 wadah bubur dan selembar kertas. "Maaf saya pamit pulang Pak. Saya tidak tau harus memesan makanan dimana, karena itu saya mencoba membuatnya. Semoga Bapak suka. Terimakasih. Pesan dari dokter untuk segera di makan buburnya" David membaca tulisan itu sambil tersenyum manis dan ia pun kemudian duduk di meja makan dan mencoba bubur yang di buat oleh Nessa. "Hmm.... lumayan. Bisa di terima rasanya dan teksturnya" David melahapnya dengan sangat bersemangat. *weekend pun tiba* Kring.... Kring.... Kring.... Suara telpon Nessa berdering di hari minggu. Nessa pun terbangun dan melihat jam di dinding. Jam masih menunjukan pukul 5 pagi. Dan Nessa pun mengangkat telpon nya. "Hah? Pak Bos?" Nessa kaget ketika melihat layar ponsel yang menelpon adalah David. Nessa oun langsung menerima panggilan tersebut. "Pagi Pak" "Kamu bisa ke rumah saya 1 jam lagi?" "Ke rumah Bapak? Tapi sekarang kan hari minggu pak?" "Ya... Tapi saya butuh kamu. Bisa atau tidak?" "Oh baik Pak. Tapi saya minta waktu 30 menit lagi ya Pak. Karna perjalanan dari rumah saya ke rumah Bapak lumayan jauh" "Ok" David pun langsung mematikan panggilannya. "Hah? Gila apa ya. Hari minggu di suruh kerja. Bukan ke kantornya pula. Malah ke rumahnya. Ya ampun.... Nasib nasib" ucap Nessa sambil merengek guling-guling di tempat tidurnya. Nessa bergegas untuk mandi dan berpakaian rapih. Tetapi kali ini dia tidak memakai pakaian seperti ke kantor, ia hanya mengenakan celana jeans dan atasan blazer berwarna coklat muda. Nessa pun pergi ke rumah David menggunakan bis. Perjalanan ke rumah David pun membutuhkan waktu selama kurang lebih 45 menit. Dan ia pun harus berjalan kaki kembali sekitar 10 menit dari halte pemberhentian bis hingga akhirnya ia sampai di rumah David dan ia membunyikan Bel. "Masuk" ucap David. "Baik Pak" "Kamu ada acara apa hari ini?" "Tidak ada Pak" "Oke. Kamu temani saya ya. Kita akan survey wilayah untuk pembangunan Klinik di daerah. Pekerjaan hari minggu ini sudah biasa di kantor kita. Kamu tidak usah kaget atau bingung" "Iya Pak" Nessa menjawab dengan jawaban yang singkat dan senyum yang palsu. "Kamu sudah sarapan? Perjalanan kita lumayan lama. Dan karena klinik yang akan kita bangun di daerah pesisir laut, jadi kita akan masuk tol dan itu sangat sulit menemukan rest area" jelas David. "Belum pak. Bapak mau saya buatkan apa?" Nessa pun paham maksud David. "Sandwich" "Baik pak" Nessa langsung pergi ke dapur untuk bersiap membuatkan sarapan. "Basa basi banget emang bos. Mau sarapan aja pake nanya aku udah sarapan belum. Tau nya minta di buatkan sarapan kan. Dan pasti minta juga di buatkan kopi. Paham paham deh bos" Nessa menggerutu dalam hatinya. Sarapan pun siap. Nessa membuatkan 2 sandwich dengan 2 cangkir kopi. "Pak, sarapannya sudah siap" "OK. Kita makan sama-sama" Nessa pun duduk dan sarapan bersama dengan David. Sarapan kali ini adalah sarapan tergugup yang ia pernah alami. Karena Nessa tidak terbiasa sarapan seperti ini. Memakai garpu dan pisau. "Enak. Kamu biasa masak?" ucap David "Gak selalu Pak. Kadang kalau ibu saya tidak ada atau bekerja. Saya buatkan makanan untuk adik saya" "Ibu kamu kerja apa?" "Ibu saya kerja di tempat laundry pak" "Oh begitu. Kamu punya adik dan kakak? Lalu Ayah mu kerja apa?" "Saya punya 1 adik dan dia masih sekolah. Ayah saya sudah lama meninggal Pak" "Oh sorry ya. Oia, kita jalan sekarang aja Nes. Sudah jam 8" "Baik Pak. Saya hubungi Reki dahulu Pak" "Ah gak usah. Biar saya aja yang bawa mobil. Reki sedang menjenguk Ibunya" Nessa pun kaget dan dia hanya mengangguk saja. Perjalanan panjang pun di mulai. Mereka yang awalnya canggung tiba-tiba saja menjadi sangat dekat. Nessa memang mempunyai sifat yang baik dan juga gampang bergaul. Ia pun memang seorang yang cerewet namun dia selalu menjaga image di hadapan orang-orang baru. "Hahahaha... Jadi selama ini kamu tidak pernah makan menggunakan pisau?" Ucap David. "Benar Pak. Jadi tadi saya sempet melihat-lihat bapak dahulu saat sarapan" "Ya sudah, karena kamu sekarang sekretaris saya. Kamu pun pasti akan bertemu dengan orang-orang banyak dan juga acara-acara penting. Kamu akan saya daftarkan kelas table manner" "Tidak usah Pak. Saya belajar dari internet saja. Lagipula saya belum ada biaya untuk sekolah itu" "Perusahaan yang tanggung. Kamu hanya perlu bersungguh-sungguh" "Terimakasih banyak Pak" wajah Nessa pun berbinar-binar. "Ok. Perjalanan kita berhenti dahulu disini. Ayo kita turun" Nessa dan David pun turun dari mobil dan mampir ke salah satu kafe makanan di pinggir pantai. Saat mereka akan berjalan ke kafe, terlihat anak perempuan usia kurang lebih 3 tahun berlari ke arah David. "Ayaaaaaaahhhh" teriak anak kecil itu. Nessa ketika mendengar itu langsung berjalan pelan dan melihat David dan anak itu berpelukan. Wajah Nessa terlihat sangat kebingungan melihat anak kecil itu memanggilnya Ayah. Karena info dari kantor, David itu belum menikah dan masih menyendiri. Nessa merasa selama ini dia salah karena sering merasa mempunyai rasa kepada David walau baru mengenalnya 1 minggu. Nessa benar-benar merasa malu dan sangat tidak tahu malu dan dia pun masih melihatkan wajah bingung nya. "hah? Ayah?" ucapnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN