Bab 4 Menyumpahinya Mati

1332 Kata
Aila Janitra sesaat hanya melamun menatap langit-langit kamar. Gelombang ingatan tentang 3 tahun pernikahan indahnya menyeruak hebat di dalam dadanya, membuat hatinya seperti ditusuk duri. Meski dia sudah berani melepaskan pria yang sangat mencintainya itu, tapi tetap saja tidak mudah. Dia butuh waktu. Dia butuh penyesuaian baru untuk hidup baru yang tidak ada kaitannya dengan Ardan Mahardika di dalamnya. Kenapa setelah dia sudah membulatkan tekadnya, Ardan malah kembali mengusik kesabarannya? Dia berniat menyimpan beberapa hal tentang pria yang sangat mencintainya, salah satunya adalah syal merah itu. Tapi, sekarang? “Mungkin memang benar jika semua hal tentang kami berdua dihapus untuk selamanya.” Baginya, Ardan yang amnesia dan entah kapan bisa mengingatnya kembali, sebenarnya sudah tidak ada bedanya dengan suami yang mati. Membuatnya seperti janda yang kesepian. Jadi, menyimpan beberapa kenangan tidak ada salahnya, bukan? Setidaknya, Ardan yang normal benar-benar sangat mencintainya. Tergila-gila kepadanya ke tahap bucin akut. Tidak seperti Ardan versi amnesia, selalu menyakitinya dengan berbagai cara. Dengan hati sakit yang kembali menguat, Aila bangkit dan berjalan menuju pintu. Ketukan Ardan semakin keras dan tidak sabaran. Sepertinya, dia benar-benar sangat marah kepadanya. “Lucu sekali. Dia tidak pernah memarahiku selama kami menikah. Sekarang, demi wanita lain? Heh! Ardan, kalau versi normalmu melihat tingkah lakumu yang amnesia ini, apa mungkin kamu akan bunuh diri? Atau malah akan membunuh dirimu yang versi amnesia itu?” gumamnya di dalam hati, merasa semuanya sangat ironis. Ketika pintu dibuka, wajah datar dan dingin Aila membuat sang suami terkejut sebentar. Namun, dia segera menata ekspresi dinginnya yang arogan seperti biasanya. “Kita perlu bicara.” Aila menatap wajah suaminya. Kembali teringat bagaimana pria itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman. Sekarang, semuanya berganti dengan tatapan sedingin es. Tidak ada riak ketika melihatnya. Gelap dan sangat menakutkan. Seolah-olah danau es gelap yang akan menelannya hidup-hidup. “Katakan saja di sini. Aku akan mendengarkan. Aku tidak mau membuat wanita kecilmu salah paham lagi, lalu membuatku menjadi penjahat keji di matamu.” Suaranya yang sangat dingin membuat Ardan kembali terkejut. Keningnya bertaut tak nyaman. Selama ini, Aila selalu mencoba untuk merebut hatinya. Sangat lembut dan menjaga perkataannya. Namun, saat ini, dia seperti wanita lain. “Ada apa dengan nada bicaramu? Apa ini trik barumu lagi?” “Aku tidak peduli kamu berpikir apa. Cepat katakan apa maumu.” Ardan sedikit gelisah melihat sikap acuh tak acuh istrinya. Diam-diam, sebenarnya dia tidak terlalu membencinya setelah mereka tidur bersama terakhir kali. Hanya saja, dia sangat jengkel wanita ini selalu mengusik pikirannya, membuat rasa kendalinya mengendur. Ardan sangat benci dengan kekalahan. Apalagi jika menghadapi wanita super licik dan manipulatif seperti Aila. Wanita itu selalu menggunakan cara-cara jahat demi menyakiti Mia hanya karena posisinya merasa terancam. Ardan jelas tidak akan membiarkan orang lain terluka karena dirinya. Bagaimanapun, baginya, Mia adalah cinta pertamanya, wanita yang selalu dirindukan dan dipuja olehnya selama ini. Membiarkannya disakiti oleh istrinya yang licik dan kejam, bagaimana Ardan tidak turun tangan? Pria itu menarik napas berat, lalu berkata kasar, “Aila, Mia tidak pernah salah kepadamu. Kesalahannya mungkin hanya satu, yaitu mencintaiku sangat tulus. Apa kamu perlu sangat membencinya sementara aku sudah menjadi suamimu? Kecemburuanmu sungguh konyol. Lihatlah dirimu, apa yang bisa dibanggakan darimu? Selalu bersikap jahat dan berpikiran kotor. Apa pantas kamu menjadi Nyonya Muda keluarga Mahardika?” Aila tertawa dingin. “Kalau begitu, aku berhenti saja menjadi istrimu. Silakan berikan posisi itu kepada cinta sejatimu di bawah sana. Aku tidak keberatan.” “Aila! Jangan menguji garis batasku!” bentaknya setengah menggeram, sorot matanya berubah dalam dan rahangnya mengencang. Aila mengabaikannya, bersikap lebih dingin. “Jangan basa-basi lagi. Cepat katakan apa maumu. Kalau tidak ada, aku mau tidur saja.” Ardan mengamatinya saksama. Kenapa Aila semakin kurus? Dia ingin bertanya apa dia baik-baik saja selama ini, tapi yang keluar malah kata-kata dingin yang kejam. “Aku ingin kamu minta maaf kepada Mia sekarang juga!” Aila membeku. Wajahnya memucat sangat jelek. “Apa katamu?” “Aku bilang, minta maaf kepada Mia. Dia menangis ketakutan karena kamu merendahkannya. Itu hanya sebuah syal, Aila! Demi Tuhan! Apa kamu perlu mempermalukannya?” Mata Aila menyipit dingin. “Heh! Hanya sebuah syal? Ardan, kamu yang amnesia ini mana bisa memahami makna penting dari syal itu? Tapi, tidak masalah. Itu sudah tidak berguna lagi. Seperti kataku, kalau dia mau, maka ambil saja. Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi darimu.” Ardan membeku sesaat. Merasa hatinya berpuntir hebat. Rasa gugup dan kegelisahan hebat mencengkram hatinya. Itu jelas bukan hanya syal semata yang dibuang olehnya! Ardan segera menata ekspresinya, lebih tenang dan bijaksana. “Turunlah ke bawa. Minta maaf kepada Mia dengan tulus kali ini. Jika kamu benar-benar melakukannya dengan baik, maka aku akan mencoba melupakan semua keburukanmu selama ini. Kamu tidak perlu merasa terancam lagi dengan keberadaan Mia.” Aila memiringkan kepalanya dengan tatapan menarik dan sedikit lucu. “Kamu berharap aku meminta maaf sementara aku tidak salah apa-apa? Apa otakmu sungguh sudah rusak tak tertolong, Ardan Mahardika?” ejeknya sambil meluruskan pandangan, lalu tersenyum dingin dengan sangat sinis, “Aku tidak butuh sedekah darimu. Kalian mau bergumul panas di ruang tamu, aku juga tidak peduli. Satu hal yang kamu perlu ingat, aku tidak akan minta maaf jika aku tidak salah.” “Aila! Cukup!” bentaknya marah, menatapnya seperti sedang menatap orang gila. Aila mengubah ekspresinya, acuh tak acuh dan sangat tenang. “Aku sangat lelah. Jangan ganggu aku atau aku akan menghubungi polisi.” Ardan tertegun linglung, merasa salah dengar. Aila tertawa dingin. “Kenapa? Kamu tidak percaya aku akan menghubungi polisi hanya gara-gara kamu mengganggu waktu istirahatku? Coba saja paksa aku terus, lihat bagaimana aku akan melaporkan kekasihmu juga karena mengambil barang orang lain tanpa izin! Bagaimana dia menggoda suamiku dan tidur dengannya, tapi malah bersikap tidak tahu malu di depanku?! Wanita menjijikkan! Kenapa dia tidak mati saja di lokasi syuting itu, hah?! Dia memang pantas mati! Dasar pelakor sialan!” Sebuah tamparan langsung mengenai wajah Aila! Keras dan membuat telinganya berdenging! Syok! Aila mundur dengan wajah terpukul, tubuhnya limbung dan menabrak sudut meja. “Dasar wanita jahat!” “Ardan!” serunya tidak percaya. Wajah Ardan sangat dingin, lebih dingin daripada kematian. “Kamu sungguh keterlaluan, Aila! Aku mencoba sabar menghadapimu, tapi kamu selalu semakin angkuh dan arogan! Aku tahu kalau kamulah yang hampir membunuh Mia di lokasi syuting, tapi Mia memintaku untuk melupakannya saja! Sekarang, hanya karena sebuah syal dan permintaan maaf, kamu malah semakin bertingkah? Kamu sungguh tak tertolong! Hatimu sangat keji dan busuk! Kenapa bukan kamu saja yang mati?!” Kata demi kata menusuk jantung Aila. Kenapa bukan dia saja yang mati? Hehe. Ardan, tidak lama lagi keinginanmu akan terkabul! Selamat! Kesedihan jatuh di wajah Aila, seperti duka yang sudah menyatu dengan kulitnya. Ardan yang normal tidak akan pernah berkata sekejam itu kepadanya. Apalagi menamparnya! Aila mencoba menegakkan tubuhnya, menatapnya penuh ketegaran meski sekujur tubuhnya gemetar hebat. Kedua tangannya mengepal erat, tersenyum dingin dengan suara sangat tenang. “Kamu tahu, Ardan? Ini adalah pertama kalinya kamu menamparku. Bagaimana rasanya? Apakah membuatmu sangat puas?” Ardan sangat tidak nyaman mendengarnya. Hatinya sakit entah kenapa. Dia refleks menamparnya karena kalimat wanita itu membuatnya tidak tahan. Sebelum pria itu membuka suara, Aila berkata lagi dengan suara yang bergetar di udara, tertawa ironis. “Sebaiknya ingatanmu tidak pernah kembali lagi untuk selamanya, Ardan Mahardika! Kalau tidak, kamu pasti akan sangat menyesali semua perbuatanmu kepadaku selama ini!” Ardan mengerutkan kening lebih dalam, dadanya naik turun gelisah. Panas dan terasa sesak dengan ancamannya. “Kamu menilai dirimu terlalu tinggi!” desisnya setengah menggeram. Aila tiba-tiba tertawa gila, merasa semuanya sangat konyol. Lalu, dia menatap Ardan dengan ketenangan yang membuat pria itu menggigil ketakutan dalam diam. “Baiklah. Tidak masalah. Lagi pula, sudah tidak ada kesempatan lagi di antara kita berdua. Semoga kamu bahagia, Ardan Mahardika.” Ardan sangat jengkel mendengarnya, seperti dadanya sudah mau meledak hebat. Dia hendak meraih tangannya dan memarahinya yang terlalu sombong, tapi Aila malah membanting keras pintu tepat di depan wajahnya, membuat pria itu terkejut luar biasa. “Aila!” “Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN