Kejadian hari itu memberikan dampak yang sangat buruk di antara mereka berdua.
Ardan Mahardika seperti memutuskan hubungan dengannya. Tidak pernah lagi muncul di rumah pernikahan mereka.
Aila tidak merasa aneh, ataupun marah.
Dia sudah terbiasa dengan sikap seenaknya pria itu.
Sewaktu mereka masih hidup dengan damai, tidak ada satu haripun pria itu pulang telat tanpa memberikan informasi kepadanya. Kalau perlu, jika sedang lembur di kantor, dia memaksa Aila menemaninya melalui video call.
Sekarang?
Sungguh sangat berubah drastis.
Pada hari Sabtu itu, Aila mendatangi rumah sakit dengan wajah pucat dan napas sedikit sesak.
Dia berhadapan dengan dokter untuk menerima hasil pemeriksaan terbaru.
“Bagaimana, dokter?” tanyanya dengan tatapan tak bernyawa. Sorot matanya nyaris kosong.
Dokter pria hanya menggelengkan kepala sambil meletakkan kertas hasil pemeriksaan di tangannya.
Wajah Aila tidak berubah. Dia sangat tenang menerima kenyataan kalau hidupnya akan berakhir dalam waktu dekat.
“Sungguh tidak bisa hamil lagi, dok?”
“Nyonya Mahardika, saya sudah jelaskan sebelumnya. Itu sangat mustahil. Dengan prediksi umur Anda yang tinggal beberapa bulan lagi, meskipun Anda bisa hamil, kandungannya tidak akan cukup bulan.”
Aila menggigit bibir gugup.
Dia memang sudah berniat bercerai dari suaminya. Namun, ketika melihat kedua orang itu tampak mesra dan begitu bahagia, tiba-tiba saja dia merasa tidak rela.
Rasanya harga dirinya seperti diinjak-injak.
Gara-gara kemunculan Mia, Aila selalu dicap sebagai wanita jahat yang keji. Dituduh sebagai pelaku kejahatan yang tidak pernah dia lakukan.
Sementara Mia?
Dia selalu menjadi korban menyedihkan, dilindungi oleh semua orang, termasuk suaminya sendiri.
Helaan napas beratnya, lalu berkata sangat tenang. “Um. Baiklah kalau begitu, Dok. Saya juga berpikir memang tidak layak membiarkannya hidup tanpa kasih sayang dari siapapun.”
Bulu mata Aila menurun lembut, mengusap perut datarnya yang kini semakin sakit seiring waktu berlalu.
Di dalam sana, bukan benih harapan yang berkembang, melainkan seperti kutukan yang hendak menelannya hidup-hidup.
“Oh, ya. Apakah akhir-akhir ini perut Anda semakin sakit, Nyonya? Apa obat penahan sakitnya perlu ditambah?” tanya sang dokter khawatir.
Bagaimanapun, Aila sudah mengidap kanker stadium akhir. Melihatnya yang begitu rapuh dan tampak kurus, membuatnya tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang harus ditanggungnya.
Aila hanya mengangguk pelan. “Obatnya sudah mau habis, Dok.”
Dokter mengangguk pelan, lalu menuliskan resep untuknya.
“Aku menyarankan untuk segera pindah ke rumah sakit khusus pasien terminal. Di sana, kamu bisa bersama banyak orang-orang yang akan menemanimu di saat-saat terakhir. Mereka semua bisa menjalani hari-hari dengan penuh makna. Tidak seseram yang orang-orang katakan selama ini.”
Aila diam saja.
Dia tidak mau melakukannya. Bukan karena takut, tapi dia ingin merasa normal meski hanya sebentar saja.
“Tidak. Terima kasih, Dokter. Saya ingin menghabiskan sisa hari saya mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama saya inginkan.”
“Kamu ingin bepergian jauh? Saran saya, sebaiknya bawa dokter atau perawat bersamamu. Kalau kamu sampai kolaps dan tidak ada yang melihatmu, itu bisa gawat.”
Aila sudah memikirkan sebuah rencana untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang dan damai.
Dia tidak mau memiliki hubungan apapun lagi dengan Ardan dan kekasih kecilnya.
Di hatinya, suaminya yang setia dan sangat mencintainya, Ardan Mahardika versi normal telah tiada di dunia ini.
Pria yang ada sekarang hanyalah cangkang kosong. Wajahnya saja yang mirip.
***
Selepas menebus obat, Aila berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
Sialnya, dia malah bertemu dengan Ardan yang tampak membantu Mia berjalan pincang ke sebuah ruangan pemeriksaan.
Hatinya dulu mungkin sakit. Tapi, sejak kejadian syal merah mereka, dia sudah mati rasa hebat.
Aila melangkah keluar meninggalkan tempat itu dengan wajah dingin dan sangat tenang.
Ketika sosok wanita itu sudah menghilang dari pintu, Ardan refleksi menoleh dengan kening bertaut kencang.
Rasanya, dia seperti melihat Aila barusan.
Apa hanya matanya yang sedang mempermainkannya?
Pria itu menggeleng pelan.
“Ardan, ada apa?” tegur Mia dengan suara semanis madu, matanya berkaca-kaca penuh kesakitan.
“Tidak apa-apa. Ayo, kita harus segera menemui dokter. Jangan sampai kakimu terkilir parah.”
Mia merajuk, memeluk sebelah lengannya dengan manja. “Kamu tetap akan menemaniku ke bagian ginekologi, kan? Aku takut jika harus pergi sendiri ke sana.”
Melihatnya yang tampak rapuh, Ardan merasa kasihan. Dia mengangguk dalam diam, lalu segera membantunya kembali.
Di luar, Aila menunggu mobil yang sudah dipesan olehnya. Kebetulan, mobilnya rusak sehingga perlu dibawa ke bengkel.
Bahkan, mobil pemberian suaminya juga sudah semakin sering bermasalah akhir-akhir ini. Sama seperti pemiliknya.
Bukankah itu seperti kutukan yang nyata?”
“Astaga! Kamu lihat tadi itu? Bukankah dia adalah Superstar Mia dan kekasihnya? Mereka pergi ke bagian ginekologi! Apa mungkin Mia sudah hamil, ya?” ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di dekat Aila.
“Tsk! Orang kaya mah enak. Mau melakukan apapun sesuka hati, bisa apa kita? Kalau benar dia hamil, tidak lama lagi pasti akan segera muncul berita yang menggemparkan.”
Aila membeku.
Hatinya sakit.
Bukan karena dia patah hati atau marah, tapi teringat dengan anaknya yang belum sempat lahir ke dunia.
Tangannya meraba perut datarnya. Wajahnya yang tertutupi oleh masker medis tampak murung dan sedih.
“Mereka akan segera punya anak? Baguslah. Sangat sempurna. Dia pasti akan sangat bahagia setelah kematianku,” gumamnya dalam hati, tertawa dingin dengan hati sebeku es.
Dia tidak suka mendengar ucapan kedua orang yang terus menggosipkan hubungan terlarang dan menjijikkan itu, seolah-olah sebuah kisah legendaris.
Apa hebatnya memuji seorang pria tukang selingkuh dan pelakor?
Otak manusia kadang-kadang susah ditebak!
Aila menggeleng pelan dan segera memasuki mobil yang berhenti di depannya.
Terserah Ardan mau punya anak dengan wanita mana saja, dia tidak peduli.
“Mau ke mana kita, Bu?”
“Tolong antar saya ke jembatan Ibu Kota.”
Sopir terkejut.
Aila menjawab sambil tertawa kecil. “Tenang saja. Saya tidak akan bunuh diri, Pak. Saya sangat mencintai hidup saya.”
Keringat dingin sang sopir segera mereda.
“Anda membuat saya kaget saja, Bu. Maklum. Jembatan Ibu Kota sangat terkenal sebagai tempat bunuh diri akhir-akhir ini.”
Aila tersenyum melalui cermin depan.
“Saya tidak akan sebodoh itu, Pak.”
Tentu saja.
Bagi seorang penderita kanker terminal, nyawa terakhir mereka sangatlah berharga.
Kenapa harus disia-siakan?
Sebaliknya, Aila berniat menghabiskan sisa hidupnya dengan hal-hal yang lebih bermakna dan penting.
Oleh karena itu, sejak tahu dia sudah tidak bisa hamil lagi dan perawatan apapun tidak ada gunanya, dia ingin berkeliling dunia sendirian.