Jembatan Ibu Kota adalah tempat dia dan Ardan versi normal menghabiskan waktu mereka untuk saling mengenal dari hati ke hati.
Setiap kali Aila merasa terpuruk, Ardan akan mengajaknya ke sana untuk duduk dan menikmati pemandangan. Mereka makan camilan dan minum dengan hati riang.
Rasanya, dia sangat rindu dengan momen itu. Seolah-olah, ke sana hanyalah acara berkunjung ke pemakaman suaminya.
“Ambil saja kembaliannya, Pak,” katanya dengan suara lembut berbisik.
Sopir khawatir melihatnya. “Bu, Anda tidak apa-apa? Sungguh? Anda tidak akan lompat, kan?”
Aila Janitra tersenyum kecil. “Tidak. Tentu saja tidak, Pak. Saya bisa menjaminnya. Tempat ini memang menjadi hal yang buruk sejak tahun lalu, tapi di sini ada banyak kenangan indah saya.”
Sopir menatapnya curiga. Dia bukannya peduli dengan keselamatan Aila dengan tulus, tapi takut berurusan dengan polisi jika wanita itu benar-benar melompat ke bawah.
Setelah berpikir sesaat, dia lalu berkata cepat, “Baiklah. Kalau kamu memang tidak akan melompat. Hubungi nomorku saja jika sudah mau pulang. Dengan begitu, aku bisa memastikan kamu masih hidup. Bagaimana?”
Aila menatapnya geli. Tidak yakin dia benar-benar peduli kepadanya. Tapi, dia tetap menerima kartu nama darinya.
Setelah mobil pesanannya pergi, Aila menatap lurus ke arah jembatan.
Di depannya terhampar lautan yang terlihat indah.
Jembatan ibu kota bukan hanya tempat penuh kenangan dirinya dan Ardan Mahardika. Ini juga adalah proyek pria itu yang katanya bertujuan membantu banyak orang. Dia juga ingin memperlihatkan keindahan laut yang selalu membuat orang terpana.
Sekarang?
Semua yang disentuh oleh pria itu dalam hidupnya, perlahan-lahan menjadi sebuah kutukan yang menghancurkan hidupnya. Seolah-olah, semua hal pemberian darinya bersatu untuk melawannya. Sama seperti pria itu sendiri.
Aila terdiam di sana selama beberapa menit dan teringat banyak hal. Lalu, perlahan dia membuka tas miliknya dan meraih sepasang gantungan kunci untuk pasangan.
“Ardan, aku akan mulai menghapus keberadaan diriku dalam hidupmu, dimulai dengan gantungan kunci pasangan ini. Kamu bilang selama kita berdua memakainya, maka hati kita akan terhubung, bukan? Saat Mia kembali dan kamu lupa dengan semuanya, kamu malah membuang gantungan kunci milikmu ke tempat sampah? Bukankah itu sangat lucu dan ironis? Sekarang, aku bantu kamu sepenuhnya.”
Dengan suara lirih dan berbisik halus di ujung kalimat, Aila perlahan menjulurkan tangan ke depan, lalu menjatuhkan gantungan kunci pasangan itu ke laut.
Tatapan mata Aila menjadi kosong dan tak bernyawa.
Di tempat ini, Ardan memamerkan dan memberinya benda kecil itu. Jadi, sudah seharusnya dia membuangnya di tempat dia mendapatkannya, bukan?
Ardan bilang kalau gantungan kunci itu adalah gantungan kunci kostum, bentuknya adalah wanita dan pria yang saling mencintai. Namun, semua itu sudah tidak ada lagi.
Untuk apa menyimpannya?
Baginya, Ardan Mahardika-nya sudah mati dan tidak akan pernah kembali lagi.
Saat dia semakin tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba saja suara peluit membuatnya kaget.
“Nona! Dilarang buang sampah ke laut!”
Aila membeku pucat.
“Ma-maafkan saya, Pak!” katanya cepat-cepat, membungkuk meminta maaf.
Rasanya, sangat konyol ketika dia sedang tenggelam dalam kesedihan, malah ditegur oleh polisi patroli!
Huh!
Bahkan untuk bersedih saja dia tidak bisa?!
Menyebalkan sekali!
Polisi itu menatapnya dengan helaan napas berat. “Yah. Kali ini aku maafkan, tapi lain kali jangan lakukan lagi. Selain itu, kamu tidak berniat lompat ke laut, kan?”
Aila cepat-cepat menggelengkan kepala.
“Bagus! Aku sudah cukup repot mengurusi orang-orang bermasalah hari ini. Sekarang, kamu mau apa? Sepertinya, kamu tidak baik-baik saja? Ada apa?”
“Tidak apa-apa, Pak. Sungguh!”
Polisi itu menatapnya tidak percaya. “Kamu habis patah hati, ya? Rata-rata yang melompat ke sini, karena mereka baru saja diputuskan. Bagaimana denganmu? Tebakanku benar, kan?”
Aila tersenyum kecil, lalu mengangguk cepat. “Itu benar, Pak. Tapi, sebenarnya, kami akan segera bercerai. Dia juga tidak berarti bagi saya lagi, makanya tadi membuang gantungan kunci pasangan ke laut. Saya tidak akan bunuh diri. Sumpah!”
Polisi mendengarkan dengan saksama. Sangat simpati.
Lalu, beberapa menit kemudian setelah mencatat perbuatannya sebagai laporan harian, Aila akhirnya dilepaskan.
“Kalau begitu, hati-hati. Jangan melakukan hal konyol untuk dirimu sendiri. Nah! Mobil pesananmu sudah tiba! Jaga diri baik-baik!”
Aila mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu segera masuk ke mobil.
Sopir sebelumnya tersenyum sambil menoleh ke arahnya, “Untungnya! Aku pikir kamu tidak akan menghubungiku! Kamu sungguh tidak melompat, ya? Bagus! Bagus! Nyawa itu sangat berharga! Jangan disia-siakan!”
Aila mendengarnya senang dan bahagia yang melihatnya masih hidup. Sama seperti Pak polisi barusan. Semua itu berbanding terbalik dengan sikap suami dan keluarganya.
Tanpa sadar, hatinya terasa sakit luar biasa dan air matanya jatuh menetes-netes.
“Ke-kenapa kamu malah menangis, Bu?!” tegurnya panik.
Aila menangis semakin keras dalam diam, sesenggukan luar biasa.
Sejak kecil, tidak ada yang benar-benar peduli dengan dirinya. Bahkan, kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan bisnis dan kehidupan mereka sendiri. Ironisnya, Mia Sanjaya, cinta sejati suaminya saat ini adalah sepupu jauhnya dan selalu menjadi kesayangan kedua orang tuanya.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya merasa lega saja. Tolong, antara saya ke perumahan San Heaven Golden Light.”
Sopir itu terkejut!
“Bu! Itu adalah tempat tinggal orang kaya super elit! Kamu punya kenalan siapa di sana?”
Karena penampilan Aila sangat sederhana, maka tidak ada yang akan pernah menyangka kalau dia adalah istri dari Ardan Mahardika, seorang taipan kaya yang ditakuti di ibu kota.
Aila menyeka air matanya, lalu tersenyum tipis. “Saya hanya tinggal sementara di sana, Pak. Menumpang dengan kenalan jauh. Sebentar lagi akan pindah.”
Sopir mengendarai mobil dengan wajah lebih ceria usai mendengar wanita itu punya koneksi tak biasa.
“Oh, begitu rupanya? Jadi, nanti mau pindah ke mana?”
Aila menoleh ke arah langit di luar sana, berkata dengan suara tenang dan sedikit berbisik, “Heavenly Golden.”
“Heavenly Golden? Apakah itu perumahan elit juga? Sepertinya terdengar sangat mewah dan berkelas!” ulang sang sopir, tersenyum lebar di kaca spion.
Dalam hati sudah menebak kalau wanita di kursi penumpang mungkin adalah orang kaya tersembunyi.
Jackpot!
Tidak salah dia memberinya kartu namanya!
Aila membalas senyumnya, lalu mengangguk pelan. “Benar, Pak. Itu adalah tempat yang sangat mahal. Ada nenek dan kakek saya di sana.”
Sang sopir jelas tidak tahu tempat apa itu sebenarnya, karena hanya orang-orang kaya elit saja yang bisa mengakses tempat itu dan dipromosikan secara khusus selama ini. Bahkan, keberadaannya terbilang sangat eksklusif sehingga membuatnya terkesan terpencil.
Tempat pemakaman elit itu akan menjadi rumah terakhir bagi Aila. Jauh dari keributan dan rasa sakit hati yang dideritanya selama setahun ini.
“Ardan, kamu boleh memiliki rumah itu bersama Mia. Aku akan pergi dari sana selamanya,” gumamnya dalam hati sambil melihat langit yang perlahan berubah mendung.