Anzhu berlari kearea depan pintu rumah sakit sebelum kemudian Langkah Anzhu terhenti mendadak tepat di depan pintu utama rumah sakit. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya membelalak ketika melihat pemandangan yang sama sekali tak ia harapkan yaitu pemandangan beberapa pria berbadan tegap mengenakan setelan hitam berdiri menyebar, sebagian dari mereka berbicara melalui alat komunikasi di telinga mereka.
“Berapa banyak Kakek mengerahkan pengawal?” gumam Anzhu panik. Tangannya mengepal erat, jantungnya terasa seperti ingin meloncat keluar dari d**a.
Tanpa berpikir panjang, Anzhu berjalan mundur perlahan, memastikan langkahnya tidak menarik perhatian. Begitu jarak cukup aman, ia berbelok cepat menuju area taman samping rumah sakit. Di sana suasana lebih sepi, hanya deretan tanaman hias tinggi dan pohon rindang yang menutupi pandangan dari kejauhan.
Anzhu bergerak hati-hati, sesekali bersembunyi di balik semak-semak, menahan napas setiap kali mendengar langkah kaki atau suara dari kejauhan. Kepalanya terus berputar mencari jalan keluar. Ia tahu, jika sampai tertangkap, kebebasannya benar-benar akan lenyap.
Sementara itu Natan baru saja tiba di ruang rawat milik Anzhu, ia lama beridir di depan pintu ruang rawat merapihkan penampilannya ingin memberikan kesan baik untuk pertemuan pertamanya dengan calon istrinya itu, setelah dirasa cukup akhirnya Natan memberanikan diri membuka pintu dan tertegun saat melihat ruangan kosong.
"Kemana perginya?" Pikir Natan segera meraih ponsel pintarnya lalu menelpon Kakek Manuel dan tak beberapa lama sambungan telponnyapun dijawab oleh Kakek dari Anzhu itu.
"Hallo Tuan Manuel." Ucap Natan "Tuan, aku sudah berada di ruangan rawat milik Anzhu tapi kamarnya kosong." Ucap Natan berusaha menjelaskan situasi yang dialaminya saat itu.
"Maafkan aku, Natan. Anzhu nampaknya dia berhasil kabur." Jawab Kakek Manuel terdengar sangat menyesal.
"Maafkan aku," ucap Kakek Manuel lagi seakan betul-betul merasa tak enak pada Natan.
"Tidak apa-apa Tuan Manuel, aku bisa bertemu dengan Anzhu kapan-kapan." Jawab Natan lalu sambungan telponpun terputus.
"Apa sebenci itu dia padaku sampai tak ingin menemuiku." Pikir Natan sebelum melangkah pergi.
Sementara itu di halaman samping rumah sakit yang lumayan sepi Anzhu terlihat diam mengamati tembok pembatas rumah sakit yang lumayan rendah selain itu tembok itu ditumbuhi tumbuhan merambat yang lumayan tebal yang menempel di temboknya membuat Anzhu memiliki ide untuk memanjat tembok agar bisa keluar dari area rumah sakit tanpa ketahuan oleh pengawal utusan Kakeknya.
Anzhu mendekati tembok itu lalu memegang tanaman merambat itu sesekali ia akan menarik tanaman merambat itu dan tersenyum licik begitu mengetahui bahwa tanaman merambat itu cukup kuat untuk menopang tubuhnya saat memanjat nanti.
Anzhu bersiap memanjat, satu persatu langkah demi langkah Anzhu merayap memanjat tumbuhan rambat yang menempel di tembok itu meski agak kesusahan tapi akhirnya iapun berhasil berada di puncak tembok.
Anzhu duduk diatas tembok bersiap memgambil ancang-ancang ingin meloncat namun saat ia ingin lompat turun tubuh Anzhu bergetar takut saat melihat kearah bawah "Tembok ini lebih tinggi dari pada jendela kamarku." Ucap Anzhu "Terlebih dibawah sana aspal dan berbatu berbeda dengan halaman samping rumah yang berumput tebal. Ini jika aku salah melompat bisa patah tulang." Pikir Anzhu mulai terlihat ragu-ragu untuk melompat.
Sementara itu Natan yang sedang berjalan hendak menuju parkiran tanpa sengaja melihat sosok Anzhu yang terduduk diatas tembok.
"Apa yang dilakukan orang itu disana?" Pikir Natan lalu melangkah menuju halaman samping rumah sakit tempat Anzhu berada.
Anzhu yang masih duduk bertengger diatas tembok terlihat sesekali menarik nafas berusaha menenangkan diri sambil mengumpulkan keberanian untuk lompat. "AYO!.. Anzhu, kau pasti bisa." Anzhu bersorak menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa!" Pikirnya. Dan mulai mengambil ancang-ancang.
"Satu... Dua..." Anzhu menghitung dan bersiap "Tig...."
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara barito berat spontan membuat Anzhu yang tadinya ingin melompat langsung kembali terduduk sembari berpegangan erat pada tanaman rambat yang ada di bawahnya. Anzhu bernafas lega karena nyaris terjatuh akibat terkejut pada suara yang tiba-tiba terdengar di lakangnya itu. Dengan cepat Anzhu mengelus dadanya yang masih berdegup kencang "Ya Tuhan.. aku nyaris mati gara-gara ingin kabur dari rumah sakit." Pikirnya. Sebelum kemudian ia dengan geram menatap kearah belakang kepemilik suara. Ingin rasanya Anzhu mengumpat pada pemilik suara itu.
Anzhu yang saat itu berada dalam posisi duduk membelakangi pemilik suara langsung membalikan tubuhnya dan mengambil posisi duduk menghadap si pemilik suara.
Anzhu yang duduk diatas tembok hanya menatap diam kearah lelaki itu yang ternyata adala Natan yang saat ini berdiri mendonga menatap kearahnya.
Anzhu memperhatikan wajah lelaki itu, sangat tampan bibir lelaki itu sedikit tebal, kedua alisnya berwarna hitam pekat sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus, warna matanya coklat keemasan berkilau bagai embun yang terkena sinar mentari pagi, hidungnya mancung serta garis rahang yang tegas semakin menambah pesona lelaki itu.
Anzhu yang sempat terpanah akan ketampanan lelaki itu segera menggelengkan kepalanya cukup kuat "Astaga ! Apa yang ku pikirkan saat ini. Bisa-bisanya aku sempat terpesona dalam situasi seperti ini." Gumamnya berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Natan tiba-tiba memegangi salah satu pergelangan kaki Anzhu sambil berkata "Kau pasien yang ingin kabur bukan?!"
"Yah!.." Teriak Anzhu seraya berusaha menggerakan kakinya agar genggaman Natan terlepas "Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya "Lepaskan aku. Dasar kau lelaki pengacau!" Teriak Anzhu kembali namun bukannya dilepas Natan justru semakin mempererat genggamannya.
"Kau pasien yang tidak mampu bayar sewa rumah sakit makanya mau kabur, bukan?!" Lagi-lagi Natan menuduh tanpa bukti.
"Bukan seperti itu, kau salah paham. Cepat lepaskan aku!" Teriak Anzhu.
Namun bukannya melepaskan kaki Anzhu, Natan justu memanggil staff keamanan membuat dua orang lelaki berseragam keamanan datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini Tuan?" Tanya salah satu staff keamanan itu.
"Pak, dia pasien yang mau kabur karena tidak mampu bayar biaya rumah sakit." Tuduh Natan seraya menunjuk Anzhu.
"Bukan begitu Pak, aku memang mau kabur tapi bukan gara-gara tidak mampu bayar." Balas Anzhu berusaha membela diri namun sayang tak ada yang mempercayai ucapannya.
"Sebaiknya anda turun sekarang Nona." Pinta salah satu staff keamanan itu membuat Anzhu tidak memiliki pilihan lain selain mengalah dan turun merayap dari atas tembok.
Tiba di bawah tangan Anzhu langsung ditahan oleh kedua staff keamanan itu, Anzhu menatap Natan penuh kebencian.
"Kau telah membuat masalah dengan orang yang salah, lihat saja tunggu pembalasanku. Aku bersumpah akan membalasmu dasar lelaki menyebalkan!!" Teriak Anzhu saat ia diseret pergi oleh kedua staff keamanan itu.
"Membalasku?" Gumam Nantan sedikit mengejek "Bagaimana mungkin dia akan membalasku belum tentu juga kami akan bertemu kembali." Ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
Bersambung