terjun dari jendela yang tak merubah takdir.

1124 Kata
Aroma antiseptik yang menusuk memenuhi ruang rawat inap tempat Anzhu berada. Tuan Luis dan Nyonya Sisi berdiri di sisi ranjang, tangan mereka saling menggenggam erat. Mata Nyonya Sisi sembab, jelas ia baru saja menangis, sementara wajah Tuan Luis tegang menahan cemas. Di hadapan mereka, seorang dokter pria paruh baya baru saja menyelesaikan pemeriksaan pada Anzhu. “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya Nyonya Sisi dengan suara bergetar, panik tak bisa ia sembunyikan. Dokter itu menutup map medisnya, lalu menatap pasangan suami istri tersebut dengan ekspresi profesional. “Nona Anzhu baik-baik saja. Tidak ada luka serius.” Kalimat itu membuat alis Tuan Luis langsung berkerut. “Jika tidak ada luka serius, lalu kenapa Anzhu belum sadar juga, Dok?” “Nona Anzhu hanya mengalami syok. Tubuhnya bereaksi karena keterkejutan. Tapi secara medis, dia baik-baik saja,” jelas dokter itu sabar. Nyonya Sisi menggeleng tak percaya. “Bagaimana mungkin tidak ada luka serius? Dokter tahu sendiri, Anzhu melompat dari jendela kamarnya di lantai dua!” Dokter itu terdiam sesaat, lalu kembali mengulang kalimat yang sama seolah tak tergoyahkan. “Namun faktanya memang begitu, Nyonya. Tidak ada cedera serius yang dialami Nona Anzhu." Di atas ranjang, Anzhu yang sedari tadi memejamkan mata berpura-pura pingsa dari tadi mendengus kesal. "Sialan… siapa sangka rumput di taman belakang itu selembut kasur busa," batinnya mengumpat. Ia sama sekali tidak menyangka rencana nekatnya justru berakhir tanpa satu tulang pun retak. Alih-alih terbebas dari perjodohan, ia malah terbaring di rumah sakit tanpa luka serius dan yang lebih parahnya lagi ia sudah berpura-purang pingsan selama 1 jam lamanya. Anzhu tetap berpura-pura pingsan, meski telinganya menangkap setiap kata. Ia bisa merasakan keberadaan seseorang yang berdiri agak jauh dari ranjangnya. Tatapan itu berat, tajam, dan penuh perhitungan dia adalah Kakek Manuel. Pria tua itu berdiri dengan tangan bertumpu pada tongkatnya, wajahnya tenang namun matanya menyimpan banyak hal. Saat ia melihat alis Anzhu berkerut tipis, dan kelopak mata gadis itu bergerak nyaris tak kasatmata, senyum tipis terukir di sudut bibirnya dan iapun menyadari Bahwa Anzhu hanya berpura-pura pingsan. "Dasar bocah nakal," batinnya. Namun di balik kekesalan itu, ada rasa lega yang tak bisa ia sangkal, lega karena cucu kesayangannya baik-baik saja tanpa adanya luka serius. Tak lama kemudian dokter pamit meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang terasa semakin menekan. Tuan Luis dan Nyonya Sisi kini berbalik menghadap Kakek Manuel, seolah menunggu vonis terakhir darinya. “Papa sudah melihat sendiri kondisi Anzhu,” ucap Tuan Luis hati-hati. “Tolong, Papa… sebaiknya Papa urungkan niat Papa menjodohkan Anzhu.” Di atas ranjang, sudut bibir Anzhu nyaris terangkat. Ada secercah harapan yang menyelinap di dadanya saat mendengar Papanya meminta membatalkan perjodohan itu lagi. “Justru karena aku melihat kenekatan Anzhu seperti ini,” jawab Kakek Manuel datar, “aku semakin yakin untuk mempercepat pernikahannya dengan Natan. Anak ini butuh seseorang yang bisa mendisiplinkannya.” Ucapan itu membuat harapan Anzhu yang terakhir hilang. “KAKEK!” Anzhu mendadak bangkit dari tidurnya, membuat Nyonya Sisi terpekik kaget dan Tuan Luis segera menghampiri. “Anzhu!” seru Tuan Luis cemas. Namun Anzhu tak peduli. Matanya menatap tajam ke arah Kakeknya, amarah dan frustasi bercampur menjadi satu. “Bukankah Kakek sudah sangat keterlaluan? Bahkan saat aku hampir mati seperti ini, Kakek masih saja memikirkan perjodohan!” “Anzhu, tenanglah,” ucap Nyonya Sisi sambil memegang tangan putrinya. “Syukurlah kamu sudah siuman, sayang.” Saat itulah Anzhu tersadar ia seharusnya belum bangun dan terus berpura-pura pingsannsampai besok namun rasa kesalnya akan ucapan sang Kakek membuatnya melupakan tujuan awalnya untuk berpura-purang pingsan. “Kakek tidak mau tahu,” potong Kakek Manuel tegas. “Besok kau ikut denganku ke rumah Natan.” Wajah Anzhu langsung pucat. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. “A-ah… aduh…” Anzhu mendadak memegangi kepalanya. “Sakit… kepalaku sakit sekali.” Ia meringis berlebihan. “Kek… sepertinya aku belum bisa pergi. Aku masih sakit, sepertinya aku harus dirawat inap sampai besok jadi besok aku tidak bisa pergi ke rumah Natan Natan itu." Akting Anzhu sangat buruk. Terlalu berlebihan. Bahkan Tuan Luis dan Nyonya Sisi bisa melihatnya apalagi Kakek Manuel. Namun pria tua itu hanya menghela napas pelan menghadapi tingkah sang cucu. "Baiklah, besok kau tak usah pergi ke kediaman Walls untuk menemui Natan." ucap Kakek Manuel. Mata Anzhu membulat sempurna mendengar ucapan sang Kakek, ia sangat senang bahkan nyaris melompat kegirangan. “Terima kasih, Kakekku sayang,” ucapnya dengan suara dibuat lirih dan penuh haru. Namun rasa senang Anzhu lenyap seketika saat Kakek Manuel melanjutkan, “Kau memang tidak pergi ke rumah mereka. Tapi Natanlah yang akan datang menemuimu di sini. Besok.” Dunia Anzhu seakan runtuh mendengar ucapan itu. “Ayo, Luis, Sisi,” ucap Kakek Manuel sambil berbalik. “Kita pulang. Biarkan Anzhu beristirahat agar besok cukup sehat bertemu calon suaminya.” Tanpa memberi kesempatan untuk Anzhu membantah, Kakek Manuel langsung menggiring Tuan Luis dan Nyonya Sisi keluar ruangan. Pintu tertutup perlahan, menyisakan Anzhu seorang diri. Begitu langkah mereka menghilang, Anzhu menjambak rambutnya sendiri dengan geram "Aaaarrrgghh!” erangnya frustasi. “Aku bisa gila jika seperti ini terus!.." Ucapnya kesal. *** Anzhu yang saat itu terduduk di ruangan rawatnya terlihat gelisa "Besok biarkan Natan yang menemuimu disini," ucapan Kakek Manuel kemarin malam terus bergema di kepalanya. Anzhu dengan cepat menggelengkan kepalanya "Tidak!... Tidak!.. Aku belum siap menemui lelaki itu." Gumam Anzhu gusar. "Aku harus pergi dari ruangan ini sekarang juga." pikir Anzhu seraya beranjak dari atas tempat tidurnya segera menghampiri pintu dan saat dia membuka pintu mata Anzhu terbelalak begitu melihat 2 pengawal bertubuh kekar sudah berjaga di depan kamarnya. "Astaga!.." Erangnya kesal lalu kembali menutup pintu "Kakek benar-benar!..." Erangnya lagi. Sementara itu di parkiran rumah sakit lelaki bernama Natan kini baru saja tiba dan segera keluar dari dalam mobilnya. "Rose Room nomor 117," ucap Natan kearah ponsel yang mengarah ke ponselnya. "Iya, baiklah. Aku tahu Pa." lanjut Natan sebelum mengakhiri panggilan telponnya. Iapun kini berjalan menuju ruangan tempat Anzhu berada. di ruangan rawatnya, Anzhu semakin gelisah ia berjalan mondar mandir memikirkan cara untuk kabur dari ruangan rawatnya. Anzhu kemudian berjalan mendekati pintu lalu membukanya membuat kedua pengawal yang berjaga di depan pintu kamarnya segera berdiri tegap. "Maaf Nona, anda dilarang keluar." ucap kedua pengawal itu namun bukannya menurut Anzhu justru mengambil langkah seribu menerobos kabur dengan sekuat tenaga membuat kedua pengawal itu segera berhamburan mengejarnya. Di persimpangan koridor saat Anzhu berbelok Buukkk!... Tabrakan keras antara Anzhu dan Natan terjadi membuat keduanya sama-sama oleng dan jatuh tersungkur. Tak ingin membuang waktu Anzhu segera beranjak bangun kemudian melanjutkan aksi kaburnya "Maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja menabrakmu!." Teriak Anzhu meminta maaf pada Natan. Natan hanya terdiam bisu dalam posisi terduduk sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kejadian yang tidak mengenakan. "Dasar gadis tidak punya etika, bagaimana mungkin dia bisa berlari begitu kencang di area rumah sakit." gumam Natan kesal. Bersambung!..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN