Dee memandang novel yang sempat dipinjamkan oleh Devano, tapi sama sekali belum dibaca olehnya. Kedua matanya memang fokus memperhatikan novel dengan sampul berwarna hijau itu, tapi pikirannya berkelana memikirkan banyak hal. Bagaimana cara meyakinkan ibunya, bagaimana mencari alasan yang tepat agar ibunya bisa percaya, juga bagaimana cara membuktikan kepada ibunya bahwa tidak semua laki-laki jahat, termasuk Devano. Devano adalah sumber kebahagiaannya, tempatnya berbagi kisah di mana kisah-kisah tersebut tidak bisa ceritakan atau temukan dalam diri ibunya. Dee tahu, kalau ia sampai kehilangan Devano, sama saja ia merelakan kebahagiaannya pergi. Bukan maksudnya membuat ibunya semakin kecewa, tapi ia hanya ingin pikiran ibunya semakin terbuka. Tidak lagi melihat dunia sesempit pemikirannya

