-11-

1289 Kata
"Kenapa?" Aku diam. "Apa ada yang aneh sama penampilanku?" Giliran sosok di sampingnya bertanya sambil menoleh ke sosok yang duduk tepat di depanku. "Nggak kok." Aku tetap diam. Sementara sepasang mataku bergantian melihat ke sosok Mas Abhi dan pacar barunya. Ya ... pacar baru. Bukan lagi Mbak Mentari, tapi kali ini sosok Mbak Selomita yang duduk di samping Mas Abhi. Teman, lebih tepatnya lagi putri salah satu direktur rumah sakit tempat Mas Abhi magang. Yang tanpa pernah aku tahu, sudah menggantikan tempat Mbak Mentari. Entah kapan tepatnya Mas Abhi dan Mbak Mentari putus. Karena sudah cukup lama aku nggak mau tahu lagi urusan mereka. "Jani suka nonton film apa?" Jani?? Pacar Mas Abhi kali ini memanggilku Jani juga??? Bukannya dulu Mas Abhi bilang memanggilku Jani biar nggak samaan dengan panggilan orang lain padaku?? "Semua genre dia suka kok." Mas Abhi menjawabnya untukku. Aku nggak peduli. Bagaimana ekspresi keduanya juga aku nggak peduli. Seluruh perhatianku jatuh pada kedua tanganku sendiri, yang bertaut di atas meja, memainkan pot kecil dengan tanaman hias. Dalam hati aku merutuki pilihanku satu jam yang lalu. Harusnya aku tetap pergi dengan Esta daripada ikut Mas Abhi yang katanya ingin mentraktirku es krim. Padahal, harusnya aku belajar dari pengalaman sebelumnya, kalau Mas Abhi mengajak makan es krim, besar kemungkinan dia akan mengenalkanku dengan pacar baru. "Dek?" Aku mengerjap bersamaan dengan panggilan Mas Abhi. Melihat reaksi dua orang di depanku, mungkin Mas Abhi sudah memanggilku dari tadi. "Kamu kenapa?" tanya Mas Abhi dengan sorot khawatir. Padahal nggak ada yang perlu dia khawatirkan denganku. Toh ini bukan pertama kali dia matahin hatiku. Apalagi yang mau dia khawatirkan? "Sasa?" Panggilan seseorang membuatku refleks menoleh ke sebelah kanan, sumber di mana suara itu berasal. Esta berdiri dengan satu tangannya menenteng kantung plastik dengan logo sebuah toko buku yang sering kukunjungi juga. "Ta!" seruku yang entah kenapa ada rasa lega melihat kehadirannya. Cowok yang sore ini memakai kaos dan jeans hitam, kemeja warna army yang dijadikan luaran, berjalan mendekati meja kami dengan senyum terkembang. "Sore Mas," sapa Esta ramah. Ada perubahan ekspresi yang kulihat pada Mas Abhi. Tapi dia tetap menerima uluran tangan Esta. Esta juga memperkenalkan dirinya pada Mbak Selomita setelah berjabat tangan dengan Mas Abhi. "Kamu nggak lagi jadi orang ketiga kan, Sa?" Aku tahu Esta bercanda, begitu juga Mbak Selomita, karena kulihat dia tersenyum merespon ucapan Esta barusan. Sayangnya, ada satu orang yang kelihatan serius. "Sudah dapat bukunya?" tanyaku basa-basi, mengalihkan candaan Esta yang aku yakin bisa memicu sikap menyebalkan Mas Abhi kalau sampai diteruskan. "Masih kurang satu, nggak ada tadi di atas." "Mau nyari lagi?" "Mmm, kayaknya gitu," sahutnya dengan telapak tangan kanan sebagian masuk ke saku celana. Posisinya masih berdiri, karena Mas Abhi belum mempersilahkan Esta gabung dengan kami, dan aku juga nggak tahu apakah membiarkan Esta duduk bersama kami adalah pilihan bagus. Mengingat gimana ekspresi Mas Abhi sekarang. "Mau nyari sekarang?" tanyaku lagi dengan lebih bersemangat. Mungkin karena aku merasa menemukan celah biar bisa secepatnya pergi dari hadapan Mas Abhi dan pacarnya yang benar-benar di luar dugaanku. "Kayaknya gitu, kenapa? Udah nggak sibuk? mau nemenin?" Esta meledekku tentu saja. Tadi aku batalin janji kami dengan alasan sibuk. Nggak tahunya dia malah menemukanku duduk bareng Mas Abhi dan pacarnya. Kalau saja sikap Mas Abhi lebih bersahabat, aku yakin Esta akan meledekku dengan lebih frontal dari sekarang. "Ayo!" Tiga orang ini serempak menatapku dengan sorot terkejut, apalagi aku juga sudah berdiri dan meraih tas yang ada di samping kiri. "Jan-" "Aku nggak mau pulang kemalaman, kita jalan sekarang," ujarku sengaja ngacuhin Mas Abhi. Esta makin terlihat kaget waktu aku mengaitkan tangan di lengannya. "Aku pergi sama Esta, nanti aku yang hubungi Ayah sama Ibu kalau nggak sama Mas Abhi pulangnya." Mbak Selomita tentu aja bengong. Begitu juga Esta. Mas Abhi apalagi. Tapi mengabaikan semuanya, aku langsung permisi dan menyeret Esta menjauh. Mumpung Mas Abhi masih terbengong. Mumpung dia juga belum mengejarku. Mumpung- "Ini aku nggak lagi jadi pelampiasan cemburumu kan, Sa?" * * * "Kamu bukan penganut paham cewek harus ditembak, bukan nembak kan, Sa?" "Memangnya, apa yang salah kalo gitu?" tanyaku balik sambil natap Esta yang mengaduk isi gelasnya karena mau mengambil cao di bagian dasar gelas. Sepulang sekolah, aku memang ngajak Esta mampir jajan es cao yang ada di dekat rumah. Esta nggak keberatan, dan seingatku selama ini Esta belum pernah nolak ajakanku. Saat kuajak jajan di kantin, dia mau dan beneran nemenin aku meski temen-temennya ngajak gabung. Atau ketika aku ngajak dia mampir sebentar di mini market buat beli sesuatu, tanpa banyak tanya dia bakal belokin motornya ke mini market dan nemenin sekaligus bantuin aku bawa belanjaan. "Nggak ada yang salah," jawabnya lalu menyuapkan sesendok cao yang berhasil diambilnya, "tapi kalo nunggu ditembak, keburu jodohmu diambil cewek lain," tambahnya dengan mulut mengunyah potongan-potongan cao yang mirip jelly. "Kalo diambil cewek lain, itu artinya emang bukan jodohku." Esta tertawa. Untung mulutnya sudah kosong! Kalau nggak, bisa-bisa dia menyemburkan isi mulutnya yang sudah nggak berbentuk dan terlihat menjijikkan, seperti waktu dia tiba-tiba tertawa usai kusumpahi jadi gay selagi kami jajan batagor sepulang sekolah. Gara-garanya, untuk kesekian kali dia nolak cewek yang nembak Esta. Padahal adik kelas yang nyatain perasaannya ke Esta waktu itu, termasuk salah satu siswi yang populer di sekolah, tapi entah apa yang salah sama Esta sampai dia bisa nolak dengan mudahnya. "Tapi aslinya kamu ngarep jadi jodohnya juga kan?" ledek Esta setelah tawanya reda. Melihatku cemberut, tawanya kembali pecah. Sejak tahu perasaanku yang bertepuk sebelah tangan dengan Mas Abhi, Esta senang sekali menggodaku. Hampir setiap saat dia mencari celah buat mengungkitnya, seolah melihatku bermuka masam adalah kesenangan tersendiri bagi Esta. "Kenapa kamu nggak daftar kedokteran? Atau kebidanan gitu, biar bisa PDKT terus sebidang sama si Mas kalo kerja nanti?" Aku hanya membalasnya dengan decakan sebal. Kalau saja dia tahu, betapa dulu aku selalu ingin dekat dengan Mas Abhi, sampai cita-citapun nggak mau jauh-jauh dari minat Mas Abhi, bisa-bisa Esta makin jadi menertawakanku. Tapi pesan Ibu waktu itu membuatku akhirnya sadar, mimpiku, cita-citaku, masa depanku, ada di tanganku sendiri. "Ta," pangilku tanpa melihatnya. Pandanganku jatuh ke arah jalanan di depan kami yang nggak terlalu ramai. Sesekali kendaraan roda dua atau roda empat melintas dengan kecepatan sedang. "Apa?" sahut Esta dengan nada nggak peduli. "Apa ... aku musti pacaran sama cowok lain ya, biar bisa lupain Mas Abhi?" tanyaku dengan tatapan menerawang. "Sama siapa? Aku?? EMOH!!" Nada tinggi pada penolakan Esta membuatku refleks menoleh padanya. "Kamu kebanyakan nonton sinetron ya, Sa? Najis gitu pikiranmu!" Sontak aku memukul bahu Esta keras, menahan geram ... lebih ke gemas sebenernya. Karena kadang dia suka sengawur ini kalau ngomong. "Sakit tahu Sa!" "Siapa juga yang mau sama kamu!" ketusku kesal. "Aku juga nggak mau sama kamu!" balasnya nggak kalah ketus. "Ya udah! Aku pulang!" "Oke hati-hati!" sahutnya sambil tetap menikmati es cao di gelasnya yang tinggal seperempat dari tinggi gelas. "Nggak usah jemput aku besok!" seruku sambil beranjak dan jalan ninggalin Esta yang malah duduk anteng. Nggak ada drama, nggak aka nada drama kalau merajuk ke Esta. Dia justru bakal biarin, sampai kita sendiri yang males buat nerusin. "Siapa juga yang mau jemput kamu!" sahutnya tenang. "Nggak usah telepon aku!" "Paling juga kamu yang telepon duluan!" Suara Esta terdengar berteriak karena posisiku makin jauh dari tempatnya duduk. Beberapa pengendara yang melintas di sekitar kami, sempat menoleh ke arahku dan Esta yang saling teriak. "Sa!" Panggilan Esta membuatku berhenti untuk menoleh dan menatapnya tajam. "Besok temenin beli sepatu buat orientasi ya?" Melihatnya nyengir sok polos, aku menjulurkan lidah lalu kembali melihat ke depan. Tentu saja aku bakal temenin dia, dan dijawab atau nggak, besok Esta pasti udah muncul di luar pagar rumah. Dari kejauhan, Ayah berdiri di luar pagar sambil geleng-geleng kepala, beliau pasti nyaksiin tingkahku sama Esta. Sontak aku melebarkan senyum dan berlari buat meluk Ayah ... cinta pertamaku. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN