Via duduk di tepi ranjang, menatap stik kehamilan yang baru saja menunjukkan dua garis merah. Kehidupannya, yang sudah cukup rumit, seakan menjadi labyrin yang semakin sulit dipecahkan. Dito, pacarnya, telah pergi tanpa alasan apapun, meninggalkannya sendirian menghadapi kehamilan yang tak terduga.
Sang ibu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya setelah merasa terganggu dengan suara muntah-muntah Via sejak pagi. “Apa ini, Via?” tanya wanita itu dengan wajah garang sambil merebut stik kecil di tangan Via.
Sepasang mata wanita itu membulat setelah melihat dua garis merah terpampang jelas di benda itu. “Kamu hamil?”
Via tak menjawab pertanyaan sang ibu. Gadis itu menutup wajahnya sambil menangis. Saat ini yang dia rasakan hanya penyesalan dan penyesalan. “Maafkan aku, Bu.”
Plak
Via menjerit saat pipinya terasa perih bukan main akibat tamparan sang ibu. “Anak tidak berguna. Kenapa kamu hanya bisa membebani keluarga saja? Sekarang malah menorehkan aib seperti ini!”
“Kamu gadis murahan, Via!”
Caci maki terus terlontar dari mulut wanita itu sambil berjalan mondar-mondir di depan Via yang terus menangis meratapi nasibnya. Tiba-tiba sanb ibu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar dengan langkah tergesa-gesa. Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Rupanya wanita itu mengurung Via di dalam kamar. Sementara Via sudah tidak bisa berpikir dengan jernig. Dia terus menangis dalam penyesalan dan keputus asaan.
Beberapa hari Via hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Selain karena dikurung oleh ibunya, dia merasa hidupnya tidak berguna lagi. Namun hari itu sang ibu datang mengunjunginya dengan sebuah kabar yang membuat Via terkejut.
“Kamu akan ibu nikahkan dengan Pak Danu. Semua persiapan pernikahan sudah beres. Besok pagi kamu menikah!”
Via tersentak. Pak Danu. Pria tua kaya pemilik toko karpet kenalan ibunya yang umurnya sudah lebih dari setengah abad. Selain itu, pria itu juga sudah memiliki tiga orang istri. Via menggeleng keras menolak keputusan sang ibu.
“Aku nggak mau, Bu. Pak Danu seorang pria tua yang lebih pantas jadi ayahku!”
“Kamu pikir kamu bisa menolak keputusan ibu? Jangan mimpi, Via. Besok kamu akan menikah dengan Pak Danu. Ibu tidak peduli kamu setuju atau tidak!”
Cobaan apalagi ini, batin Via menjerit. Bagaimana mungkin dia akan menikahi Pak Danu sebagai istri keempat. Hidup macam apa yang akan dia jalani nantinya. Via berpikir keras. Sepertinya dia harus kabur dari rumah ini. Pernikahan akan dilangsungkan besok dan malam ini Via berniat untuk meninggalkan rumah.
Via berlari dengan napas tersengal-sengal. Hatinya berdegup kencang dengan rasa takut dan keputusasaan. Dia tidak bisa tinggal di rumah lagi, tidak bisa menerima takdir yang dipaksakan ibunya padanya. Maka, dengan tekad bulat, dia memutuskan untuk kabur.
Saat berjalan di pinggir jalan yang gelap, sebuah mobil tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi dan menabraknya. Via terjatuh dengan keras, merasakan sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya. Dia berguling kesakitan, mencoba meredakan rasa nyeri yang melanda. Namun, sebelum dia bisa bangkit, seorang pria keluar dari mobil dan berlari mendekatinya.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Via menatap pria itu dengan wajah terluka. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Rasa sakitnya begitu kuat hingga hampir tidak bisa bicara. Namun, pria itu tidak menyerah. Dia membuka pintu mobilnya dan membantu Via masuk.
“Nama saya Alan,” ujar pria itu sambil tersenyum. “Saya akan bertanggung jawab. Jangan khawatir, saya akan membawa Anda ke rumah dan menyuruh para asistennya merawat Anda.”
Via hanya mampu mengangguk lemah. Dia masih terpaku dalam rasa sakitnya, tetapi lega karena ada seseorang yang memperhatikannya. Saat mereka tiba di rumah Alan, beberapa asisten Alan langsung bergerak cepat, membawa Via ke dalam dan merawat luka-lukanya.
“Saya sungguh minta maaf atas kejadian ini,” kata Alan sambil duduk di samping tempat tidur Via. “Saya merasa bersalah karena menabrakmu.”
Via mencoba tersenyum. Meskipun raga dan pikirannya sedang dilanda kelelahan, dia merasa aman di dekat Alan. Mereka berbicara berjam-jam lamanya, berbagi cerita dan pengalaman. Alan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Via dengan penuh perhatian.
“Saya mengerti bagaimana rasanya merasa terjebak dalam sebuah takdir yang dipilihkan oleh orang tua,” kata Alan tiba-tiba. “Tapi ingatlah, kamu memiliki kekuatan untuk menentukan hidup kamu sendiri.”
“Tapi ….” Via mengelus perutnya yang masih rata.
“Kamu sedang hamil?”
Tangis Via pecah mendengar pertanyaan Alan. Rasa putus asa kembali menyelimuti hatinya. Seharusnya tadi Alan menabraknya sampai mati sehingga semua permasalahan yang sedang dia hadapi bisa selesai.
Melihat Via yang menangis pilu, hati Alan merasa begitu iba dengan gadis itu. Dia pun tengah menghadapi sebuah masalah yang pelik. Dirinya juga dituntut untuk segera menikah oleh sang kakek. Kakeknya terus menjodohkan dirinya dengan wanita-wanita pilihannya yang sama sekali tidak menarik minat Alan. Sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar milik keluarga, Alan dituntut oleh sang kakek untuk segera memiliki pendamping hidup.
“Masalah kita sama tapi tak serupa,” ujar Alan seraya menyentuh bahu Via. “Aku bisa membantumu, asal kamu juga bisa membantuku.”
Via mengangkat kepala dan menatap wajah tampan Alan. “Membantu saya?”
“Iya, bagaimana kalau kita buat kesepakatan.”
“Kesepakatan apa, Tuan?”
“Kamu membutuhkan ayah untuk bayi kamu itu, kan? Sedang saya membutuhkan istri untuk menghentikan kakek saya menjodohkan saya dengan wanita-wanita pilihannya.”
Via mencoba mencerna ucapan Alan. “Jadi kesepakatannya?”
“Kita menikah kontrak selama satu tahun, atau sampai bayi kamu lahir.”
Via terkejut mendengar penawaran Alan. Menikah kontrak dengan pria tampan di hadapannya itu. Apakah ini adalah solusi dari permasalahannya yang pelik.
“Kalau kamu setuju, saya akan mengurus segala sesuatunya.”
Via berpikir sejenak. Mungkin memang ini jalan terbaik, menjadi istri kontrak pria asing yang baru dikenalnya.
“Ini akan menjadi pernikahan pura-pura karena kita memiliki kepentingan masing-masing. Tenang saja, saya tidak akan mengganggu hidup kamu, dan sebaliknya. Kamu juga akan tinggal di rumah saya ini sampai bayi kamu lahir.”
Via menghela napas dalam-dalam. Sepertinya Alan bersungguh-sungguh dengan kesepakatan ini. Dia bisa melihat adanya keputus asaan dalam sorot mata pria itu. Sepertinya, masalah yang tadi dia ceritakan begitu mengganggunya. Via merasa dirinya dan Alan memiliki masalah pelik masing-masing, yang hanya bisa diselesaikan dengan kesepakan pernikahan kontrak ini.
“Iya, saya bersedia, Tuan.” Via mengucapkan kalimat itu dengan mantap. Apapun yang terjadi nanti, Via akan memikirkannya nanti. Yang penting, saat ini dia memiliki tempat untuk berteduh. Tempat berteduh yang mirip dengan istana.
“Baiklah, saya akan mengurus segala sesuatunya dengan segera. Kita menikah besok.”