Bab 3. Pernikahan Kontrak.

1048 Kata
Alan memandang Via dengan senyum gugup, hatinya berdebar-debar. Mereka berdua berdiri di ruang tamu rumah kakek Alan, tempat yang penuh kenangan dan cerita keluarga. “Kakek, ini Via. Via, ini kakekku,” ucap Alan sambil menunjuk satu sama lain. Kakek Alan, seorang pria tua berwibawa dengan rambut putihnya yang lebat, menyambut mereka dengan ramah. “Selamat datang, Via. Akhirnya ada juga yang bisa memikat hati cucuku satu-satunya ini.” Alan dan Via duduk di sofa, berusaha mencairkan keadaan. Alan berbicara dengan penuh semangat tentang bagaimana dia dan Via bertemu, meskipun semua yang dikatakannya adalah kebohongan. “Segera sajalah menikah. Kakek sudah lama ingin melihat Alan memiliki pendamping.” Sang kakek tersenyum lebar. “Ah, akhirnya Alan. Kakek sudah lama ingin melihatmu menetap dan memiliki keluarga sendiri,” ucapnya kembali penuh syukur. Persiapan pernikahan dilakukan dengan sederhana. Semua diatur oleh orang kepercayaan Alan. Sore harinya setelah Alan memperkenalkan Via pada kakeknya, pernikahan pun berlangsung di rumah Alan yang mewah. Meskipun sang kakek merasa heran dengan pernikahan Alan yang sederhana dan tidak bermewah-newah serta mendadak, tapi pria tua itu tetap merasa bahagia. Malam pertama Via duduk di ujung ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang-layang di antara perasaan aneh dan rasa takut. Ini malam pertamanya sebagai “istri” Alan, meskipun pernikahan mereka hanya sebagai kesepakatan bisnis. Suasana kamar yang hening membuatnya semakin canggung. Alan keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama dan berusaha menunjukkan senyum penuh keramahan. “Semoga kamu nyaman di sini, Via. Aku ingin memastikan bahwa kita menjalani perjanjian ini dengan baik,” ucapnya sambil duduk di samping Via. Via mengangguk, mencoba tersenyum meskipun dalam hatinya ada kecanggungan yang sulit dihilangkan. Mereka berdua terdiam sejenak, menciptakan keheningan yang tak nyaman. Via merasa ada kekosongan dalam kamar itu, bukan hanya fisik tetapi juga emosional. “Saya akan pastikan kamu dan bayi dalam kandungan kamu tidak kekurangan suatu apa pun di sini.” “Kenapa mas Alan menolong saya? Mas bahkan tidak tahu siapa saya dan asal usul saya.” Alan terkekeh. “Ini pernikahan kesepakatan, Via. Tentu aku juga merasa diuntungkan dalam hal ini,” jawab Alan. Kakeknya mengancam jika Alan tidak segera menikah, maka perusahaan tidak akan diwariskan padanya. “Dan kamu juga butuh suami agar tidak digunjingkan orang, bukan?” Via tersenyum mendengar jawaban Alan. Ini memang jalan dari semua permasalahan peliknya. Sekarang, dia hanya harus fokus dengan bayi yang sedang dikandungnya. “Tidurlah, kamu pasti capek kan?” Via mengangguk. Sedikit canggung Via naik ke atas tempat tidur. “Kamu nggak keberatan kan aku tidur di sebelah kamu?” “Tentu nggak, Mas. Ini kan ranjang mas Alan, apa sebaiknya aku yang tidur di sofa?” “Jangan. Kamu kan perempuan. Masa tidur di sofa. Tidur di sini saja.” Setelah mengucapkan hal itu, dengan santainya Alan naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Via dan memejamkan mata. Sementara Via yang merasa canggung, tidak dapat memejamkan matanya. Terdengar suara hembusan napas halus dari Alan yang menandakan kalau pria itu telah terlelap. Via memperhatikan wajah tampan Alan yang terlihat begitu damai. Bahkan ketampanannya naik berkali-kali lipat saat pria itu tertidur. Hingga beberapa saat lamanya Via baru tersadar kalau pandangan matanya terus menelusuri wajah hingga leher Alan. Via buru-buru memutus pandangannya dan menatap langit-langit kamar yang tinggi. Saat Via terbangun jam dua malam karena merasakan sakit perut, Alan yang tidur di sampingnya langsung terbangun dengan khawatir. “Via, apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?” tanya Alan sambil duduk di sampingnya, matanya masih setengah tertutup oleh kantuk. Via mencoba tersenyum meskipun terlihat tidak nyaman. “Mungkin hanya perutku yang tidak enak. Tidak apa-apa, Mas,” jawabnya dengan pelan. Alan merasakan kecemasan yang mendalam. “Tidak apa-apa? Kamu kelihatan sakit,, Via. Aku harus membawamu ke rumah sakit atau apa?” Via mencoba menenangkan Alan, “Mas, mungkin hanya masalah kecil. Aku akan mencoba tidur lagi, aduh!” pekiknya sambil memegangi perutnya. “Apa yang kamu rasakan? Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, ya. Kalau terjadi apa-apa dengan bayi dalam kandungan kamu, bagaimana?” ujar Alan cemas. “Nggak usah, Mas. Aku nggak papa kok.” Meskipun Via mencoba memberikan penjelasan, Alan tetap merasa khawatir. Dia memutuskan untuk duduk di samping Via, menempatkan tangan di punggungnya sebagai bentuk dukungan. “Kalau begitu, jangan ragu membangunkanku jika kau butuh bantuan atau merasa lebih buruk.” Via mengangguk. Hatinya tiba-tiba menghangat dengan perhatian yang diberikan oleh Alan. Dia merasa Alan adalah suami sungguhan untuknya. Namun, Via buru-buru menepis perasaan aneh yang mulai menyelimuti hatinya. “Aduh!” pekiknya kembali saat sakit perutnya kembali datang. Alan pun seketika membuka mata. “Masih sakit?” tanya Alan cemas. Via mengangguk. Namun, tiba-tiba Alan menyentuh perutnya dan mengusapnya pelan. Aneh, tiba-tiba Via merasa sakitnya menghilang begitu merasakan kehangatan dari telapak tangan Alan. “Sudah nggak sakit?” tanya Alan saat melihat ekspresi wajah Via menjadi lebih tenang. “Nggak, Mas.” Alan tersenyum. Namun tangannya masih menempel di perut Via. Dua pasang mata mereka saling menatap. Via yang terlihat cantik malam itu membuat Alan tak berkedip memandangnya. Sedang Via pun menantang tatapan mata Alan meskipun dadanya berdebar kencang. Pelan Alan mendekatkan wajahnya ke wajah Via, lalu bibirnya tiba-tiba menyentuh bibir gadis itu. Detik-detik ketika bibir Alan menyentuh bibir Via, menciptakan gema keintiman di antara mereka. Malam yang penuh ketidakpastian dan kecemasan tadi berubah menjadi momen magis yang mengubah dinamika hubungan mereka. Via merasakan getaran emosi yang tak terduga, seperti sentuhan lembut yang membuka lembaran baru. Alan menarik diri dengan lembut, matanya penuh dengan rasa penasaran dan kehangatan. “Aku tidak tahu pasti bagaimana atau mengapa ini terjadi, Via. Tapi ada sesuatu yang membuatku merasa kita bisa lebih dari sekadar kesepakatan pernikahan.” Via terdiam, mata mereka bertemu dalam keheningan yang bermakna. Ada kekaguman dan kebingungan di mata Via, sementara Alan mencoba membaca ekspresi yang kompleks di wajah gadis itu. Mereka berdua berada di ambang suatu perubahan, melebihi batas kontrak yang awalnya mereka buat. Dalam suasana malam yang tenang, mereka membiarkan perasaan mereka berkembang. Entah itu cinta yang muncul dari keheningan atau hanya momen yang tak terduga, mereka memilih menjalani setiap langkah tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Bibir mereka mungkin baru saja bersentuhan, tetapi rasa penasaran dan ketidakpastian malam ini menjadi benih bagi kisah baru dalam hidup keduanya. Via merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan Alan, pria asing yang tiba-tiba telah menjadi suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN