Via menjalani hari-harinya sebagai istri kontrak Alan dengan sikap yang cukup santai. Pagi itu, suasana dapur dipenuhi aroma kopi segar. Alan sibuk menyiapkan sarapan sederhana. Via duduk di meja makan, mencerna surat kabar pagi ini sambil sesekali melirik ke arah Alan yang sibuk di dapur.
“Mas memasak apa ini?” tanya Via, mencoba mengalihkan perhatiannya. Sedikit heran karena Alan terjun sendiri ke dapur tanpa meminta bantuan asisten rumah tangganya seperti biasa.
Alan tersenyum, “Ini scrambled eggs dan toast. Sarapan pagi sederhana, tapi semoga enak.”
“Mas masak sarapan untuk kita berdua?” tanya Via keheranan.
“Iya, kenapa? Memangnya ada yang salah?” Alan mengerutkan keningnya.
Via hanya tersenyum tipis. Alan, seorang CEO perusahaan besar, mau repot di dapur memasak sarapan sendiri, itu hal yang cukup aneh, meskipun hati Via menghangat melihatnya.
“Nggak usah heran, Via. Aku sedang ingin saja memasak.” Via hanya mengangguk menanggapi ucapan Alan.
Mereka berdua duduk bersama di meja makan, mencicipi sarapan yang disiapkan Alan. Suasana hangat melingkupi mereka, dan Via merasa ada keakraban yang mulai tumbuh di antara mereka. Mereka saling berbagi cerita tentang rencana kerja, kegiatan sehari-hari, dan beberapa lelucon ringan.
Saat makan selesai, Alan mengajak Via untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah. “Gimana kalau kita menghabiskan waktu santai di taman, Via? Cuaca sedang bagus hari ini.”
Via setuju, dan mereka berdua berjalan bersama di bawah sinar matahari yang hangat. Terdengar tawa mereka bercampur dengan kicauan burung di taman. “Via, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” ujar Alan dengan serius.
Mata Via memandang Alan dengan keingintahuan, “Apa itu, Mas?””
Alan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Malam itu, saat bibir kita bersentuhan, aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kesepakatan. Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu tentang ini?”
Via merenung sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak tahu, Mas. Semuanya terasa begitu cepat dan tak terduga. Tapi entah kenapa, aku merasa ada ikatan yang aneh di antara kita.”
Alan mengangguk mengerti, “Aku juga merasakannya, Via. Mungkin kita bisa memberikan waktu pada diri kita sendiri untuk melihat bagaimana hubungan ini berkembang. Tidak perlu terburu-buru, kita bisa menjalani ini bersama-sama.”
Setelah percakapan itu, suasana di antara mereka menjadi lebih nyaman. Mereka berdua melanjutkan jalan-jalan mereka, berbagi tawa dan obrolan ringan. Via merasa ada kehangatan dalam setiap gestur dan pandangan Alan.
Saat malam tiba, mereka kembali ke rumah. Suasana rumah diisi aroma makan malam yang lezat. Alan memutuskan untuk mencoba masak hidangan pasta favorit Via. “Aku harap ini akan enak,” ucap Alan sambil tersenyum.
“Makasih, Mas. Aku yakin ini akan sangat lezat,” kata Via sambil mengamati Alan yang serius mengurus dapur.
Mereka berdua duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan malam yang disiapkan Alan. Pada saat dessert, Alan tersenyum dan mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. “Ini untukmu, Via,” katanya sambil memberikan kotak tersebut pada Via.
Ketika Via membuka kotak itu, terlihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. “Ini simbol dari momen tak terduga kita malam itu. Aku harap kau suka,” jelas Alan.
Via tersenyum, merasa hangat di dalam hatinya. “Terima kasih, Mas. Ini sangat indah.” Mereka saling berpandangan, dan saat itu Via merasa betapa berharga momen-momen seperti ini. Dalam perjalanan pernikahan kontrak yang tak terduga, terdapat keajaiban kecil yang mulai mewarnai kisah mereka.
Via merasa sepi di tempat tidurnya, ditemani hanya oleh suara desiran angin malam yang melalui jendela. Biasanya, Alan selalu ada di sampingnya pada saat-saat seperti ini. Malam ini terasa berbeda; Alan belum pulang dari kantor hingga larut malam.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat pintu rumah terbuka perlahan. Langkah kaki Alan terdengar di lorong menuju kamar tidur. Via, yang sejak tadi gelisah menunggu, mencium bau parfum yang berbeda saat Alan masuk.
“Mas pulang larut sekali. Ada apa?” Via bertanya dengan suara lembut, mencoba menyembunyikan kekhawatiran yang tumbuh di dalam hatinya.
Alan, terlihat lelah dan terkejut, menjawab, “Ada proyek mendesak di kantor, Via. Maaf jika aku membuatmu khawatir.”
Via tersenyum tipis, mencoba pura-pura tidak perduli, “Tidak masalah, Mas. Aku hanya khawatir saja. Bagaimana proyeknya?”
Alan duduk di sampingnya, “Proyeknya lumayan rumit, tapi aku berusaha menyelesaikannya. Bagaimana denganmu? Apakah kamu tidur dengan baik?”
Via mengangguk, “Iya, aku baik-baik saja. Tidur tanpamu hanya terasa sedikit aneh.” Dia menyembunyikan senyum malu-malunya. Sementara Alan hany tersenyum tipis.
Mereka berdua terdiam sejenak, suasana kamar dipenuhi oleh keheningan. Alan mencoba memahami perasaan Via, sementara Via berusaha menyembunyikan perasaannya yang campur aduk.
Tidak lama kemudian, Alan berkata, “Via, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Dia terlihat serius, membuat Via penasaran.
“Apa itu, Mas?” tanya Via.
Alan menjelaskan, “Aku menyadari bahwa kita mungkin tidak membahas secara mendalam mengenai batasan-batasan dalam pernikahan kontrak ini. Aku ingin memastikan bahwa kita berdua merasa nyaman dan jelas tentang peran masing-masing.”
Via mengangguk mengerti, “Aku setuju. Kita sebaiknya membahasnya dengan lebih rinci agar tidak ada kebingungan di antara kita.”
“Cuma itu yang ingin aku sampaikan,” ujar Alan sambil meletakan ponselnya ke atas nakas. Kemudian pria itu bergelung dalam selimutnya. Via merasa sikap Alan sedikit dingin malam ini. Lalu bau parfum berbeda yang membuatnya bertanya-tanya milik siapa, membuat hati Via tiba-tiba merasa cemas.
Apakah Alan baru saja bersama dengan seorang wanita, karena parfum itu sudah pasti milik seorang wanita. Via berusaha menepis pikiran-pikiran aneh yang bergelayut dalam benaknya. Lagi pula, apa haknya melarang jika Alan memang bersama dengan wanita lain. Bukankah pernikahan ini hanya pura-pura, meskipun rasa itu mulai tumbuh di hatinya terhadap Alan.
Saat Alan sudah terlelap, ponsel di atas nakas milik pria itu menampilkan pesan masuk. Entah kenapa Via merasa penasaran. Dengan hati-hati Via meraih ponsel itu dan membaca pesan yang baru saja masuk.
“Alan, makasih ya atas malam ini. Aku bahagia sekali bisa bersama kamu lagi. Aku kangen terus dan ingin bareng kamu terus. Kita ulangi lagi momen tadi besok, ya.”
Hati Via mencelos. Pesan dari seorang perempuan bernama Rena membuat jantungnya seakan diremas-remas. Rasanya begitu perih. Via buru-buru mengembalikan ponsel ke tempatnya semula.
Namun, Via berusaha menyadari kalau dia tidak memiliki hak untuk marah. Bukankah dirinya dan Alan hanya suami istri pura-pura. Mereka hanya terikat pernikahan kontrak. Mereka punya batasan privasi masing-masing. Tapi kenapa hati Via terasa begitu perih. Dia merasa akan kehilangan semua yang dia nikmati saat ini sebentar lagi.