"Mobil gue gimana?" tanya Alea kala mobil Saga sudah berhenti di depan rumah Alea. "Besok kita ambil ke apart." Alea menghembuskan nafasnya sedih. "Padahal itu apartemen peninggalan nyokap gue. Sekarang gue gak punya lagi tempat pelarian. Terus gue bakal kemana entar kalo lagi sedih?" Saga menurunkan sebelah tangannya dari gagang kemudi, memegang tangan Alea. Menatapnya dalam. "Datang ke gue." Alea tersipu malu. Saga sukses membuatnya jadi baper sendiri. "Seyeng Saga mah! Jadi klepek-klepek cacing di usus gue." Saga tertawa singkat. Jarang-jarang Saga tertawa, melihatnya Alea jadi merasa semakin senang. Cowok itu makin tampan kalau ketawa. Alea lantas tersenyum. Tersenyum mencurigakan. "Kenapa gak turun?" "Lo ngusir?" salak Alea galak. Detik berikutnya ia mendecak. "Anterin nyampe

