"Tuing! Tuing! Ihihi!"
Saga menghembuskan nafasnya sabar. Cewek yang tengah dia gendong di pundak karena masih dalam kondisi mabuk itu menusuk-nusuk pipinya jail. Sesekali tertawa aneh disaat Saga bersusah payah membukakan pintu apartemennya.
"Pipi lo elastis banget ya ahaha! Telunjuk gue sampe mantul!"
Saga langsung saja membaringkan Alea diatas kasur berseprai masha and the bear itu. Melepaskan high heels cewek itu dan menarik selimutnya hingga ke atas pinggang.
"Lo bawa tidur aja. Gue pulang ya," Saga baru saja mau balik badan, ketika mendengar suara rengekan dari belakang.
"Hueee... Kenapa semuanya ninggalin gue? Heuuuheuuu..." mendengar Alea yang tiba-tiba meraung, Saga lantas memandang cewek itu bingung.
Aish. Ternyata sesulit ini menghadapi orang yang sedang mabuk. Saga tidak yakin Alea hanya meminum satu botol alkohol saja tadi.
"Yaa gimana, masalahnya udah jam dua belas ini." Bingung Saga sambil garuk-garuk kepala.
Alea making meraung-raung. Membuat Saga kelimpungan.
"Hueee kak Anin pergi... Bunda pergi... Gavin pergi... Sekarang lo juga mau pergi? Heeuu heuu semua orang ninggalin Alea... Gak ada yang sayang sama Alea huhuhu,"
Saga mengusap wajahnya frustasi. Harus bagaimana dia?
Karena merasa simpatis, Saga memilih untuk duduk di tepi ranjang. Menatap Alea yang matanya masih berair itu intens.
"Gue... Gak jadi pergi. Gue... Temenin lo... Sebentar."
Bukan main cepat, Alea langsung menyengir senang. Lalu terkekeh garing lagi. Saga jadi curiga kalau ada roh gaib yang sedang mampir di tubuh Alea sekarang.
"Kenapa lo baik banget? Padahal gue kan lagi manfaatin elo doang ahaha." celetuk Alea tiba-tiba.
"Hah?" Saga spontan mengerjap polos.
Katanya, orang yang sedang mabuk itu biasanya berkata jujur. Itu artinya, barusan Alea mungkin tidak sengaja membocorkan rahasianya.
"Hehehe," Alea terkekeh geli. Lalu manggut-manggut. "Gue kan mau jadi pacar lo biar bisa bagusin nama gue lagi hehehe."
Alea berbicara lagi dengan gerakan tangan yang diikut sertakan. "Kalo gue udah bikin lo suka sama gue, gue tinggal putusin deh. Jadi, citra seorang Quenella bakalan balik lagi kayak dulu ahahaha!"
Saga refleks membulatkan bola matanya kaget. Jadi selama ini, Alea berencana memanfaatkan dirinya?
"Hahaha candaan lo gak lucu, Al."
Alea menggeleng. Saga masih cukup sadar kalau Alea masih dalam kondisi mabuk saat ini.
"Tapi lo baik banget... Gue jadi gak tega," Alea memanyunkan bibirnya, sedikit merasa bersalah. Saga masih speechless untuk merespon.
"Tapi tenang! Gue bakalan berhenti manfaatin lo kok! Gue janji! Gue gak bakalan gangguin lo lagi hehehe,"
"Jangan!" Sergah Saga refleks. Cowok itu memandang Alea dengan tatapan yang tidak bisa terdefinisi.
"Gue mau lo tetep gangguin gue."
Alea menatapnya polos. Lantas menyengir-nyengir tak berdosa . Matanya juga sudah cukup sayu. Tapi ia masih bisa tertawa receh sebelum kemudian benar-benar memejamkan kedua matanya. Tertidur.
Tunggu! Tidur? Secepat itu?
"Al! Al!" Saga melambai-lambaikan tangan di depan wajah Alea. Namun respon cewek itu hanyalah sebuah dengkuran halus.
Alea sudah benar-benar tertidur. Setelah mengatakan kalimat laknat barusan, cewek itu memilih untuk tidur begitu saja? Yang benar saja.
Saga lantas memperhatikan wajah lesu cewek itu. Wajah yang terlihat lebih cantik ketika cewek itu sedang diam. Refleks, Saga mencondongkan tubuhnya. Membelai lembut rambut Alea tanpa sadar.
"Gak semudah itu buat lepas dari gue, Al."
"Aneh. Gue ngerasa semalam gue kayak gak sendirian gitu di apart." celetuk Alea sambil berjalan menyusuri koridor.
Luna yang sedang berkutat dengan kipasnya menoleh. "Ih, jangan-jangan lo semalem ditemenin sama setan, Al!"
Anggi disebelahnya malah tertawa ngakak. "Kan Alea setannya sih."
Luna langsung terkikik setuju. Alea yang berada ditengah lantas memutar bola matanya 360 derajat. Sebelum kemudian mencubit pinggang dua cewek itu dengan gaya anggunnya seperti biasa. Sukses membuat dua orang itu terpekik dan meringis.
Alea kemudian memegang dagunya sendiri, berpikir keras. "Tadi malem gue ngapain aja ya?"
Yang terakhir kali dia ingat; dia pergi ke perpustakaan dengan Saga. Lalu setelahnya dia mampir ke nightjar favoritnya. Lalu dia minum banyak alkohol. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.
Luna mengedikkan bahu sebagai respon. "Gatau deh. Eh tapi kan lo mabuk tuh, jangan-jangan— lo dianuin lagi sama om-om..." tebak Luna asal. Anggi pun turut memprovokator sambil menakut-nakuti dirinya.
Alea mendecak sebal. "t*i lo pada. Ewh."
Mereka hanya tertawa renyah saja setelahnya. Lantas berhenti di lorong loker karena ingin mengambil sesuatu.
Ketika melihat adanya Gavin di loker, ketiga orang itu perlahan memudarkan tawanya. Luna dan Anggi saling lirik, sebelum kemudian memilih pergi meninggalkan Alea berdua dengan Gavin di depan loker. Alea mendecak sebal.
"Selamat ya, atas hubungan beneran lo sama pacar baru lo itu."
Alea tetap menarik sudut bibirnya sinis, meskipun tau kalau Gavin bukan memuji.
"Thanks. Ah dan lo— gak perlu lagi kepedean mikir gue masih ngarep sama lo, okey."
Gavin yang jarang tersenyum, mulai menunjukan gigi taringnya. "Gue harap kayak gitu." Cowok itu memajukan wajahnya, agak berbisik remeh. "Tapi gue gak yakin."
Alea mengeraskan rahang kesal dengan tangan yang mulai mengepal. Lalu cewek itu terkekeh sinis.
"Lo masih gak berubah, Al." tukas Gavin. "Termasuk perasaan lo ke gue. Iya kan?"
Alea melipat tangannya diatas perut. Sedikit kesal dengan pernyataan Gavin barusan.
"Gue prihatin deh sama lo. Selera lo habis dari gue jatoh banget. Malah belok ke Ayana p***n itu."
Kali ini Gavin yang melotot. "Gue udah bilang gak perlu bawa-bawa Ayana!"
Menyebalkan. Mengapa Gavin harus sebegitunya membela Ayana?
"Apa sih yang lo puja-puja dari si p***n itu? Karena dia lebih murah dari gue makanya lo belok ke dia?" sarkas Alea, sukses memancing emosi Gavin.
"Lo—"
Gavin mungkin saja sudah melemparkan tangannya untuk memberi mulut Alea pelajaran. Namun sebuah tangan tiba-tiba datang dan mencengkeram lengan Gavin. Mencegah cowok itu melampiaskan amarahnya.
"Jangan. Sentuh. Cewek. Gue." Tekan Saga seraya menatap Gavin datar.
Gavin balik menatap Saga datar. Mungkin lebih tepatnya menilik Saga dari atas sampai ke bawah. Lalu mendengus sinis setelah menggumamkan sesuatu di kepalanya.
Cowok itu lantas menepis cengkeraman tangan Saga. Menatap permusuhan kemudian.
"Lo cuma menang dari gue sekali. Jangan ngira lo lebih unggul dari gue selamanya." tekan Gavin sinis sebelum kemudian beranjak pergi. Setelah sebelumnya mendorong bahu Saga penuh emosi.
Alea yang masih bersidekap angkuh itu memutar bola mata. Berniat ingin pergi. Melihat cewek itu hendak pergi, Saga buru-buru menariknya kerah belakangnya dan menyudutkan cewek itu di dinding loker.
"Aduh, seyeng. Santai aja kali gausah ngegas." keluh Alea agak kaget.
"Lanjutin."
"He?"
"Kalo itu alasan lo deket sama gue, lanjutin." Saga tiba-tiba menumpu tangannya di sebelah kepala Alea, cewek itu terkejut lagi.
Saga menatapnya intens. Sukses nembuat jantung Alea dag-dig-dug dangdutan seketika.
"Lo gak perlu capek-capek bikin gue jatuh cinta, gue yang bakal bikin lo— jatuh cinta sama gue."
Setelah menyunggingkan senyum aneh, Saga langsung pergi. Meninggalkan Alea yang cengo kebingungan di depan loker sendirian.
"Gak jelas banget deh tu anak. Lanjutin, lanjutin. Emangnya mau ma—AAAAAAAA!!!!"
Alea ingat. Ia ingat sekarang. Ia ingat apa-apa saja yang ia ucapkan tadi malam.
Sial.
Boleh tidak Alea menyemplung ke dalam sungai ciliwung saja sekarang?