"Don't feel down. I'm holding your hand now."
"Waw!"
Saga yang duduk di sebelahnya hanya memasang muka datar. Sementara Zian masih terus membaca catatan pribadi cowok itu sambil berbinar-binar lebay.
"Sungguh visi dan misi yang mulia." celetuk Zian lagi, Saga buru-buru merampas kembali catatan miliknya.
"Gak usah lebay."
"Tenang! Gue bakalan milih lo kok nanti!" Saga hanya menatap Zian datar.
Afuk dan Kenta yang duduk di depan dua orang itu membalikkan badan. Menghadap mereka dengan tatapan mencurigakan.
"Eh dua perkedel! Bolos yok!" ajak Kenta yang berbadan gempal itu sambil menaik-naikkan alis.
"Hooh, pelajaran bu sejarah juga dah. Bosen gue membahas masa lalu. Jadi gagal move on deh daku." timpal Afuk memprovokator.
Zian mendelik. Lalu menimpuk dua setan tadi dengan kotak pensil. "Lah si dua kentang cina. Salah kelean pengen ngajakin calon ketua osis bolos."
"Aelah, sekali-kali juga."
"Keluar bentar dari zona nyaman. Ye gak?"
"Ah! Parah lu pada. Ck ck ck." Zian menggeleng tidak menyangka. "Yok lah kalo gitu."
Pada kenyataannya, Zian sama saja. Jadi Saga hanya memutar bola matanya malas. "Gue enggak deh. Kalian aja."
"Etdah gak asik lu sob! Ayolah!"
"Yok Ga! Keluar dari zona nyaman men! Move on!"
"Hooh Ga! Tanpa lo, dunia bolos jadi terasa biasa aja."
"Anjir."
Saga hanya memutar bola mata acuh merespon desakan setan teman-temannya. Belum saja Saga bernafas lega, sudah muncul saja keributan baru dari ujung sana.
"k*****t! Sejak kapan sih ni meja di letakkin disini?"
"Aelah, kak. Sejak tyrex masih dorong becak emang letaknya udah disini kali."
Saga menoleh ke sumber suara. Ternyata itu benar suara Alea. Cewek yang sedang mengibaskan rambutnya itu langsung saja bergerak menghampiri meja Saga sambil mengelus-elus lututnya.
"Saga! Gue mau ngomong empat mata!"
Alea langsung saja mengusir Zian dari tempat duduknya. Saga memandang cewek itu bingung.
"Wah! Kalo ada princess begini kagak jadi bolos dah gue." celetuk Afuk berbinar dengan mata sipitnya.
Saga mulai risih dengan tatapan teman-temannya yang terus mencuri pandang ke arah Alea. Cowok itu spontan mendecak kesal ketika salah satu dari mereka melirik ke arah bagian seragam Alea yang kancing atasnya terbuka itu.
"Ikut gue,"
Saga buru-buru menarik Alea. Mengajak cewek itu menuju ke koridor yang agak sepi. Setidaknya tidak ada orang lain yang dapat melihat-lihat gadisnya seenak jidat.
"Kenapa?"
Alea memperbaiki letak seragamnya sambil menetralisirkan salivanya.
"Kalo gue tadi malem ngomong ngelantur atau gaje atau aneh atau apalah, gak usah di dengerin ya! Namanya juga orang lagi mabuk ahahaha!"
Alea perlahan memudarkan tawanya menyadari ekspresi Saga yang biasa aja.
"Orang mabuk biasanya ngomong jujur."
"Dih! Teori dari mana itu? hahahah." Alea masih berusaha menghangatkan suasana. "Pokoknya Ga, gak usah di dengerin oke omongan gaje gue semalem."
"Emang lo inget apa aja yang udah lo omongin?" Saga malah menggoda cewek itu.
"Yaa inget! Inget kok." Baru kali ini Alea jadi gugup ditatap seinsten itu oleh Saga.
Saga tersenyum miring. "Emangnya lo ngomong apa?"
Alea refleks mundur. Sambil mengerjapkan matanya. "Yaa—ya itu pokoknya. Absurd pokoknya. Gak make sense lah. Pokoknya lo lupain aja deh!"
"Sayangnya gue gak bisa pura-pura lupa."
Alea menghembuskan nafas dalam hati. Sebenarnya dia tidak perlu serepot itu harus segala menjelaskan pada Saga agar cowok itu tidak marah. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa Alea melakukannya ya?
Alea tidak pernah sepeduli ini sebelumnya.
"Kak Saga,"
Kedua orang itu langsung menoleh ke sumber suara. Ada Ayana yang tengah menunduk sekilas sebagai bentuk kesopanan. Saga tersenyum sebagai respon. Membuat Alea mendelik sebal.
"Maaf ganggu. Tapi saya disuruh ngumpulin visi-misi dari para calon—"
"Calon apaan? Calon pemilik hati lo? Dih tolong ya, Saga udah jadi milik gue. Jangan ganjen deh." potong Alea blak-blakkan.
Daripada membuat keributan, Saga langsung saja menarik Alea, menyembunyikan cewek itu di belakangnya.
"Bukan, kak. Tapi calon ketua osis yang baru." sergah Ayana sopan.
"Ya kenapa harus elo bocah rawit? Emang elo siapa? Sekretaris osis juga bukan."
Saga memutar bola mata lelah. Sebelum menutup mulut Alea agar tidak berbicara lagi.
Ayana menunduk. "Saya disuruh sama kak Gavin, kak."
Alea hampir lupa kalau Gavin adalah seorang ketua osis. Karena itu ia memutar bola matanya malas di balik bungkaman Saga.
"Catatannya di kelas. Kalo nggak, ntar gue kirim fotonya ke elo aja di WA."
Alea refleks membulatkan bola matanya ka. "Jhadhi lho shamha nhi chabhe shering chathan hhah?"
"Oke kak."
Ayana menundukkan kepalanya sekali lagi, sebelum kemudian segera pergi meninggalkan keduanya.
Alea dengan paksa melepaskan tangan Saga dari mulutnya. "Gue kesel ya lo chatan sama si tukang tikung itu!"
"Kita cuma ngomongin soal osis doang."
"Gue juga kesel ya lo segala senyum-senyum sok ganteng ke ABG alay itu!"
Saga menghela nafasnya gusar. "Al—"
"Udah ah! Gue ngambek! Gak usah kejar gue!" Kesal Alea sambil balik badan. Hendak pergi meninggalkan Saga.
Saga memang tidak mengejar, namun buru-buru menahan lengan Alea. Meminta cewek itu untuk menatap matanya.
"Kalo lo gak suka gue senyum ke cewek lain, gue bakalan berhenti ngelakuin itu."
Saga menarik Alea lagi dengan satu hentakan. Menciptakan jarak yang rentan bagi keduanya.
"Gue milik lo. Cuma lo yang berhak atas senyum gue."