"Hanya ada satu pintu. Sekali masuk, tidak akan ada lagi pintu keluar."
"HWAAA! SAGA NGUTUK GUE!"
Luna yang sedang berkutat dengan cas portabelnya refleks berjengit kaget. Untung rambutnya tidak gosong. "Calm down kali, Al. Gausah ngegas. Kasian kuping mungil gue."
Anggi yang dari tadi fokus merapikan kuku, manggut-manggut setuju. Tukang sate juga bakal gagal nusukin sate kalau mendengar pekikan cempreng Alea barusan.
"Kalo dikutuk, ya kutuk balik dong. Ribet amat."
"Hooh. Emang dikutuk jadi apa Al? Jadi tobat ya?" cibir Luna sambil tertawa receh.
Alea memutar bola matanya malas. Teman-temannya bukannya membantu, malah mengolok-olok dirinya.
"Saga ngutuk gue. Masa dia bilang mau bikin gue jatuh cinta sama dia! Mana ngomongnya manis gitu pula, kan jadi baper."
Luna dan Anggi langsung tertarik dengan obrolan. Buru-buru mendekat dengan Alea.
"Wuih, udah jatuh dia sama lo?" terka Anggi antusias.
"Bagus dong! Tinggal lo putusin aja tuh." Seru Luna antusias. Turut memprovokator.
Alea hanya mengedikkan bahu frustasi. Bagaimana caranya dia memutuskan Saga begitu saja sementara cowok itu sudah tau niat busuknya?
Benar.
Alea memang berniat untuk tidak lagi memanfaatkan kebaikannya Saga. Segera menyudahi permainan konyolnya dengan kedua temannya hanya untuk mengembalikan citranya lagi.
Ditambah lagi, Saga sekarang entah kemasukan iblis apa tiba-tiba saja berubah jadi sosok yang manis. Sayang dong diputusin.
"Gak bisa gitu aja, nying. Lu kata anak orang apaan main diputusin gitu aja?"
Luna spontan membuka mulutnya syok. Langsung menempelkan telapak tangannya di jidat Alea. Berlagak mengecek cewek yang baru saja mengganti warna rambut itu.
"OMFG Al! Lo punya hati? Sejak kapan?"
Alea mendelik. Teman macam apa itu?
"b*****t lo."
"Eh duo devil, diem dulu deh." Anggi yang dari tadi berpikir keras spontan menengahi.
Anggi berlagak memperbaiki posisi duduknya. "Gini-gini, Kenapa gak lo kutuk balik aja Al?"
Alea spontan mengerutkan kening. "Kayak gimana?"
Anggi spontan menarik sudut bibirnya. Tersenyum penuh arti. Merasa jadi cewek terjenius diantara mereka bertiga.
"Lo harus kuasain hati dia sepenuhnya, sebelum dia berhasil nguasain hati lo duluan."
Saga sedang fokus membaca buku di tribun ketika seseorang ikut duduk di sebelahnya.
"Kerajinan dah lo."
Sahutan di sebelahnya membuat Saga menoleh. Melihat Gavin yang tengah memandang ke arah lapangan di bawah sana. Hanya sekilas, Saga lantas memilih kembali fokus pada bacaannya.
"Masih ada ternyata kutu buku di sekolah ini. Sukur lo gak culun-culun amat."
Bukannya merespon, Saga justru menarik nafasnya tenang. Mengubah posisi duduk jadi menyandar. Lalu nengangkat kedua kaki agaknya membuat posisi nyaman.
Gavin mulai kesal karena diabaikan. "Menang sekali bikin lo jadi songong ya,"
Saga menoleh bingung. "Lo ngomong sama gue ya?"
Gavin menatapnya tajam. Menahan geram dengan mengepalkan tangan. Namun cowok dengan aura dingin itu memilih untuk ikut menyandarkan diri pada kursi tribun.
Tangan Gavin kemudian bergerak mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Saga yang tidak sengaja meliriknya spontan berubah tegang. Gavin baru saja mengeluarkan sebuah pemantik api dari sakunya. Yang kini tengah ia mainkan hingga apinya mati hidup mati hidup. Seolah ada kenikmatan sendiri dalam memainkannya.

Sial. Kenapa harus api?
Saga benci karena tiap kali melihat api, dia tidak akan bisa melihat ke arah lain selain api itu. Nafasnya akan selalu berat, badannya seketika kaku, bahkan keringat dingin. Tidak peduli mau kecil ataupun besar api itu.
Saga akan selalu dibawa ke masa-masa menyeramkan yang pernah dialaminya dulu.
"Lo pasti ngira gua cowok berengsek yang udah ngecampakin Alea karena cewek lain kan?"
Dengan tubuh yang masih terasa kaku dan sedikit gemetar, Saga menoleh pada Gavin perlahan. Menatapnya datar.
Gavin menolehkan kepalanya. "Seberapa sayang lo sama Alea?"
Saga tidak menjawab. Hanya menatap Gavin datar. Jika ditanya soal perasaan, Saga sendiri bahkan tidak tau seperti apa yang ia rasakan. Dia hanya memasang prinsip yang sama sejak kecil kedalam hubungannya.
'Hanya ada satu pintu. Sekali masuk, tidak akan ada lagi pintu keluar.'
Alea sudah coba-coba masuk ke dalam dunianya, maka Saga tidak akan bisa membiarkan Alea pergi begitu saja.
"Bukan urusan lo."
Gavin masih terus bermain dengan apinya. "Gue peringatin lo, jangan coba-coba sakitin Alea."
Saga menaikkan sebelah alis. "Gue rasa lo lagi ngomongin diri sendiri."
Gavin terkekeh sinis. Tidak menyangka ternyata Saga cukup pandai menohok dirinya.
"Asal lo tau, gue gak bener-bener serius minta putus dari Alea."
Saga hanya menatapnya datar. Tidak ingin merespon.
"Gue punya alasan kenapa gue mutusin dia. Tapi gue gak pernah selingkuhin dia. Ayana itu sepupu gue. Alea salah menilai Ayana selama ini."
Saga sudah mulai bisa mengontrol dirinya sendiri. Lagipula Gavin sudah berhenti memainkan pemantiknya.
"Kenapa lo harus kasih tau itu ke gue?"
Gavin menyampingkan badannya sambil tersenyum sinis. "Karena gue masih sayang sama Alea."
Kali ini Saga mempertegas raut wajahnya. "Lo bakalan ngerebut Alea balik?"
Cowok yang memakai hoodie hitam itu tertawa. Saga cukup peka menafsirkan kalimatnya. Gavin menarik sudut bibirnya sinis.
"Gue bakalan bikin Alea jadi milik gue lagi."