"Gue bakalan bikin Alea jadi milik gue lagi."
Saga mendengus sinis. Setelah mengembalikan buku ke perpustakaan, cowok yang kini tengah berjalan menyusuri selasar menuju ke kelas itu memasukkan tangan ke saku celana. Berjalan santai seperti tidak membawa beban.
Padahal, ia masih memikirkan kalimat demi kalimat yang Gavin utarakan tadi. Bagaimana bisa setelah meninggalkan seorang cewek sesuka hati kini ia ingin menariknya kembali?
Baik. Jika itu rencana Gavin, maka Saga akan mengacaukannya dengan senang hati.
"AAAAWWW!!!"
Saga menurunkan tatapan. Memeriksa apa yang mengganjal di bawah sepatunya.
Ternyata ia memijak tangan seseorang. Dan itu tangan... Alea?
Alea yang tengah menjongkok kini mendongakkan kepalanya. Menatap Saga tajam. Kalau ini film animasi, maka sudah ada laser api yang muncrat-muncrat dari mata cewek itu. Membayangkan itu, Saga refleks bergidik ngeri.
"AAAAAA!!! SAGA! Kenapa lu mijek tangan gue?" hardik Alea galak, Saga buru-buru menjauhkan kakinya dan mengengir polos.
"Maaf, hehe." Saga terkekeh. "Lo juga ngapain coba jongkok-jongkok di tengah jalan. Nyari jangkrik?"
Alea berdiri, lalu mengibas rambutnya di udara. Baru saja hendak mengeluarkan sumpah serapahnya, cewek itu seketika mengingat petuah dari Anggi.
Ah iya, dia harus bersikap baik pada Saga. Agar Saga jatuh cinta duluan kepadanya.
Huft. Sabar Alea, sabar... Harus tetap cantik dan manis. Biar Saga suka.
Alea menghela nafasnya. Lalu tersenyum sok imut. "Aku tadi lagi ngambil lipstik yang jatoh." Alea menunjukan lipstiknya. "Yaudah gak papa, aku maafin kamu kok."
Saga sempat memiringkan kepala heran. Sejak kapan Alea berbicara aku-kamu dengannya?
"Kamu udah makan? Kantin yuk! Sekali-kali kan ke kantin istirahat kedua. Jangan baca buku terus kerjaannya. Prioritasin gue! Pacar lo buku apa gue sih?! Heoh. Kesel." Alea tersenyum sok manis kemudian.
Saga menggaruk kuping sambil memandang bingung. "Tapi entar lagi kan—"
"Ayok seyeng!" tanpa basa-basi, Alea langsung saja menarik lengan Saga. Menculik cowok itu untuk di bawa ke kantin.
"Lo mau makan apa?" Alea memikirkan kembali kalimatnya. "Eh, maksudnya kamu mau makan apa?"
Saga mengerjapkan mata. Alea benar-benar kaku mengatakan aku-kamu. Rasanya Saga ingin ketawa.
"Pake bahasa yang nyaman aja kali. Kalo gak biasa, yang ada lidah lo keseleo dipaksa ngomong aku-kamu." ujar Saga datar.
Gapapa Al. Gas terus! Kalo Saga udah keikut virus lo, itu artinya dia udah mulai kesemsem sama pesona lo.
Alea berdeham. "Kamu mau pesen apa?"
"Lo aja. Gue kenyang."
Kebanyakan makan buku sih lo. "Gapapa aku aja yang makan?"
Saga sempat melirik Alea dengan tatapan aneh. Lalu mengangguk kaku.
"Oke." Alea mulai mencari sasaran. Memanggil salah satu siswa berbadan tambun yang kebetulan lewat dihadapannya. "Eh lo! Sini-sini!"
"Kenapa kak?"
"Beliin gue nasi goreng pake telor ceplok. Gak usah pake bawang. Telornya setengah mateng. Jangan banyakin saos. Gak usah pake cabe. Terus minumnya... Emm... Jus mangga aja tapi mangganya jangan terlalu tua. Susunya banyakin. Udah itu aja." Alea lalu menyodorkan selembar uang merah pada siswa tadi.
Baru saja siswa itu ingin mengambil, Saga buru-buru mendorong tangan Alea kembali.
"Kenapa?" Alea seketika berbinar. "Oh kamu mau bayarin aku ya?"
"Enggak." sahut Saga polos. Cowok itu lalu menyuruh siswa tadi pergi.
Setelah mengusir siswa tadi dengan antengnya, Alea spontan memandang Saga gak percaya. "Kok disuruh pergi sih?"
Setelah mikir-mikir, Alea langsung memancarkan cahaya di matanya lagi. "Maksudnya biar kamu aja yang beliin aku ya? Unchhh sayang! gemesin banget sih!"
"Enggak." Sergah cowok itu polos. "Kalo mau beli, beli sendiri. Jangan nyuruh orang lain, lo masih punya kaki buat digunain."
Alea mendecak sebal. Alea pikir Saga akan bersikap manis padanya. Nyatanya, tidak sama sekali.
Alhasil ia mendecak dan memilih untuk membeli makanannya seorang diri. Ini pertama kalinya ia melakukan ini. Mendengarkan orang lain. Bahkan menurut oleh perkataan seorang Saga yang malah biasa-biasa aja. Biasanya ia selalu memerintah. Dan akan marah-marah jika permintaannya tidak dituruti.
Tapi kali ini berbeda.
Beberapa menit Alea kemudian kembali dengan sepiring mie goreng dan jus mangga di tangannya. Meskipun sebal dan ingin menggigit Saga sekarang juga, Alea tetap menyunggingkan senyuman sok manis seraya duduk.
"Tangan lo masih sakit?" Saga tiba-tiba menarik tangannya, meneliti tangan Alea yang agak memerah.
Nah gini dong, peka. Alea tersenyum senang. "Gapapa sayang. Perhatian banget sih, jadi makin sayang deh."
Seperti biasa, Saga tidak merespon gombalan mautnya Alea. Dan lebih memilih menatap kembali layar ponselnya.
"Ohiya, Temen aku malam minggu depan ulang taun. Jadi dia ngajak nginep di villa dia, tiga hari dua malam. Aku mau ngajak kamu."
"Hah? Masa ulang taun aja segala nginep di villa sampe tiga hari?"
"Iya kan acaranya disitu. Lagian kita disana buat bantu dekor. Makanya aku mau ngajak kamu juga. Kamu mau gak?" Alea memotong telur mata sapinya.
Mau! Mau! Mau Ga!
"Enggak deh mager."
Alea menjatuhkan bahunya lemas. "Yakin kamu gak mau ikut? Nanti kalo aku diapa-apain Gavin gimana? Kalo Gavin kdrt-in aku gimana?"
Saga mengerutkan pangkal hidung bingung. "Gavin?"
"Iya. Dia kan temennya pacar Luna. Ya pasti diajak lah. Tapi kalo kamu gak mau ya udah. Aku gak maksa. Cuma ya pengennya kamu ikut. Tapi kalo gak mau ya gimana. Tapi lebih bagus kalo ada kamu sih—"
Saga tidak lagi mendengarkan Alea. Mendengar nama Gavin, Saga jadi ingat apa yang cowok itu katakan. Ditambah lagi mereka akan menginap di villa yang sama selama beberapa hari. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan?
Bagaimana jika ternyata... Alea masih memendam rasa yang sama dengan Gavin?
Dengan yakin, Saga menatap Alea dengan lurus setelah memantapkan diri akan keputusannya kemudian.
"Gue ikut."