Berkat bantuan Daniel—teman Gavin yang juga ikut ke villa untuk bantu-bantu dekor pesta Luna—Karena cowok itu kalah taruhan dengan Saga pas main PS tempo hari, akhirnya Saga bisa terbebas dari beban pikiran menghadapi ayahnya untuk meminta izin. Mungkin jika Daniel tidak turut membantu, akan sangat sulit baginya menapakkan kaki di lantai teras villa Luna ini. Untungnya semua rencana berjalan lancar.
"Padahal kita kira lo gak jadi ikut tau gak sih. Denger-denger bokap lo kan galak." celetuk Luna yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Saga. Berjalan beriringan.
Bukan Saga yang menjawab, justru Alea yang mengambil alih sekaligus menepis Luna agar jauh-jauh dari pacarnya.
Luna mencibir seraya bergerak mendekati Bara yang dua tahun lebih muda darinya. Menggelayut lengan cowok kalem yang kelihatan lebih dewasa darinya itu.
"Saga pasti dateng dong, kan demi gue." sahut Alea percaya diri seraya mengibaskan rambut. Sengaja mengenai Ayana yang berjalan di sampingnya. Gavin menghela nafasnya gusar.
Ya. Ayana juga turut serta dalam kegiatan ini karena Gavin yang mengajak. Mengatakan kalau cewek cantik nan mungil itu cukup handal dalam hal dekorasi. Luna sendiri meskipun tidak terlalu suka dengan Ayana, tetap mengizinkan cewek itu ikut andil. Lumayan juga untuk dimanfaatkan.
"Wa to the ge to the la to the seh! Wagelaseh! Villa lu gedong juga ya, Lulu Cina Luna." seru Daniel sumringah seraya mengedarkan pandangan pada ruangan dalam villa milik keluarga Luna itu.
Villa pribadi bergaya klasik minimalis itu memiiki fasilitas yang lengkap di dalamnya. Ruangan yang luas serta desain interior yang juga minimalis menambah kesan nyaman di mata. Di sebelah timurnya ada kolam renang yang diduga bakalan menjadi lokasi untuk pool party nanti.
Setelah Luna memberi tahu letak kamarnya dimana, mereka segera berbenah untuk berisitirahat sejenak. Karena kamarnya cukup luas dan sengaja diletakkan dua kasur di dalamnya, jadi satu kamar akan disinggahi dua orang. Daniel dengan Bara, Saga dengan Gavin, Ayana dengan Anggi, dan Alea dengan Luna.
Padahal sebenarnya mereka bisa saja sekamar saling berpasang-pasangan, dalam artian laki-laki dan perempuan. Namun demi menghindarkan kehilapan, akhirnya niat itu tidak jadi diluncurkan.
"Lo jadinya mau make konsep pool party atau in-house-party?" tanya Anggi ketika mereka sedang ngumpul-ngumpul ruang santai.
"Apa ya?" Luna mikir-mikir sambil mencatok rambut. "Rencananya sih gue mau dua-duanya. Menurut kalian gimana?"
"Acc aja sih."
"Oke. Kalo gitu dua-duanya!" putus Luna final tanpa beban. Lalu kembali mencatok rambutnya. "Kita dekornya mulai besok aja. Kalian entar tenaga kalian gak fit kalo dipake sekarang."
Beberapa manggut-manggut setuju. Sementara Saga yang seperti biasa bersikap cuek hanya merespon seadanya. Tidak menimbrung dengan Gavin, Bara, dan Daniel yang sedang gila-gilaan bermain uno.
"Woi Ga! Gabung sini! Diem-diem bae lo kek jomblo kurang kasih sayang." ajak Daniel yang baru saja kalah. Gavin turut memandangnya, namun seperti biasa, Saga mendongakkan kepala dari layar ponselnya dan menggeleng singkat.
"Kalian aja."
Mungkin karena terlalu asik dengan permainan masing-masing, tidak ada yang sadar kalau Alea menghilang. Mereka baru sadar ketika lengkingan cewek itu terdengar dari dapur. Melenggang santai seraya membawa dua botol white wine hasil pencariannya sambil tersenyum riang.
"Woho man teman yang cakep-cakep dan cantik-cantik tapi masih cantikan gue! Daripada diem-diem bae yuk kita main GAAAMEEE—" pergelangan kaki Alea refleks terputar membuat ia kehilangan keseimbangan.
Gavin dan Saga langsung buru-buru bergerak sebelum gadis itu sukses terjerembab. Sialnya, Saga hanya berhasil menangkap botol wine-nya yang turut terlempar. Sedangkan Gavin tengah menahan pinggang cewek itu agar tidak jatuh.
Alea kaget. Orang-orang di dalam ruangan itu juga kaget. Sedangkan Saga hanya memberikan tatapan datar dengan tangan yang masih memegang botol wine. Menyembunyikan perasaan tidak senang di d**a.
Gavin sudah memulai aksinya ternyata.
"Hati-hati." Ujar Gavin singkat seraya melepaskan diri.
Alea mengusap tengkuk canggung. Menatap Saga sekilas yang kini tidak melihat kearahnya. Lalu langsung bersikap santai kembali. Seolah tidak ada yang pernah terjadi. Meskipun ia tengah mati-matian melawan pikiran menyebalkan yang menyelimuti otaknya saat ini.
"Em, gais! Gimana kalo kita main games aja sambil ngabisin malam ini?" ajak cewek itu kembali seraya mengangkat botol wine tadi, menggoyangkannya di udara. Sambil menyunggingkan senyuman lebarnya.
Tawa terdengar kemudian di meja makan sederhana namun minimalis ini. Semua orang menikmati permainan dan tertawa senang. Hanya satu yang terlihat tidak senang menikmati permainan. Siapa lagi kalau bukan Saga. Cowok itu bahkan terlihat malas dalam bermain, namun tidak terlalu di sadari oleh orang-orang itu.
Mereka memainkan permainan sejenis 'polisi-polisi numpang tanya' dimana mereka harus menyebutkan sesuatu yang berhubungan dengan clue. Dan yang tidak mampu menjawab atau jawabannya sudah pernah disebut dianggap kalah. Lalu mendapat hukuman yakni meminum segelas white wine yang Alea bawa tadi. Sejauh ini yang paling banyak kalah adalah Alea. Padahal cewek itu yang mengusulkan permainan.
"Guling."
"Kasur."
"Gorden."
"A-Aem-apa ya- Matras!" seru Alea asal. Pasrah karena semua jawaban udah keburu diambil.
"Apaan g****k sejak kapan matras jadi bagian dalam kamar?" cibir Anggi sambil tertawa.
"Ya siapa tau buat dipake rolling depan kan. Olahraga gitu." Ucap Alea masih membela diri sendiri.
"Eh kutu rebus, dimana-mana olahraga dalam kamar ya di kasur lah!" timpal Daniel percaya diri yang langsung dapat toyoran dari Bara. Cowok itu hanya terkekeh polos.
Alea berdecak tidak terima. Luna tersenyum semangat sambil menuangkan segelas wine lagi untuk cewek itu. "You lose, hun. Sekarang lo harus minum lagi!"
"Parah lu pada! Ini gue berasa dijebak biar kalah terus keknya deh. Ah curang kalian dasar people jelatha!"
"Bodo!"
"Kasian noh Ga si Alea! Bantuin dong, lo kagak ada kalah juga kan dari tadi. Sesekali jadi pahlawan kemaleman kek." cibir Daniel sambil menaik-naikkan alis menggoda.
"Nah iya tuh Saga! Lo aja yang minum bagiannya Alea. Kasian tuh dia kebanyakan minum." sambung Anggi menimpali.
Ayana yang tidak diperbolehkan Gavin ikut minum, turut memperhatikan Saga. Saga yang mulai diperhatikan orang-orang lantas melirik sekilas ke arah Alea. Cewek itu menampilkan smirk nelangsanya.
Saga sensitif pada alkohol, bagaimana caranya dia menggantikan cewek itu?
"Yaudah, biar gue aja yang gantiin Alea." sahut Gavin tiba-tiba yang sukses menarik perhatian semuanya.
Alea juga tentu saja. Ada apa dengan Gavin sebenarnya? Kenapa cowok itu bertingkah manis lagi seperti dulu?
Baru saja Gavin hendak mengambil gelas mini Alea, Saga sudah lebih dulu menariknya dan langsung meminum wine itu dengan sekali teguk. Sukses membuat semua orang terdiam sambil menatap cowok itu.
Saga mengangkat gelas Alea yang sudah kosong. "Done, gue udah gantiin hukumannya Alea. Gue tidur duluan."
Saga memilih berdiri, berniat meninggalkan ruang makan. Baru saja berjalan satu langkah, detik berikutnya cowok itu sudah jatuh tumbang. Seketika pingsan.