17-villa 2

854 Kata
"Berbagi nyaman dahulu, Berjatuh cinta kemudian." Alea membuka engsel pintu pelan-pelan. Cewek dengan piama putih serta masker s**u di wajah itu kemudian menyundulkan kepalanya sedikit, mengecek situasi. Dirasa aman, barulah ia masuk ke dalam kamar– yang dihuni oleh dua laki-laki tampan plus menggoda– dengan langkah mengendap-endap seperti penyusup. Salahkan saja Saga yang pingsan tadi dan membuatnya jadi kepikiran. Yaa, kepikiran karena cowok itu pingsan gara-gara rela minum alkohol demi dirinya. Ehm—Atau karena tidak ingin kalah dari Gavin? Entahlah. Intinya Alea merasa tidak nyaman karena itu. Sudah tau tidak bisa minum begituan, kenapa nekat minum coba? Yah walaupun begitu, Alea akui sikap Saga tadi itu cukup manis. Cewek itu jadi merasa kalau masih ada orang yang peduli pada dirinya. Sekalipun itu orang secuek Saga. Duh, kenapa Alea jadi memuja Saga seketika? Dengan gerakan hati-hati, Alea menjongkok di samping ranjang Saga. Memperhatikan cowok yang matanya masih terpejam itu. Tadinya ia hanya berniat melihat bagaimana kondisi cowok itu, tapi tiba-tiba ia malah ingin mengusili Saga. Lumayanlah, memanfaatkan keadaan disaat cowok itu lagi tidur. Dengan smirk devil khasnya, Alea memegang bagian wajah cowok itu sambil sesekali terkikik pelan. "Gila, Ni idung apa perosotan anak tk dah mancung amat." Seru juga ya melihat Saga dari jarak sedekat ini. Ditambah cowok itu sedang tidur pula. Alea jadi makin mengakui kalau cowok itu memang ganteng luar dalam. "Gemes banget sih pengen cubit," gemas Alea sambil menusuk-nusuk wajah Saga. Lalu terkikik sendirian. Dasar Alea. Tiba-tiba Saga bergerak. Alea pikir Saga bangun karena gangguannya. Tapi melihat bagaimana reaksi tubuh Saga yang kelihatan gelisah serta keringat yang muncul di pelipis, sepertinya cowok itu sedang mimpi buruk. Alea jadi panik seketika. Saga membuka mata spontan. Langsung kaget begitu melihat Alea dan masker putihnya. Saga membuka mulut, ingin berteriak. Panik, Alea refleks membungkam bibir Saga dengan bibirnya seketika. Cowok itu membeliak, makin kaget. Ini terasa lebih seram daripada mimpi buruknya barusan. Bagaimana bisa cewek itu ada di kamar inapnya dan mencium dirinya? Sadar, Saga segera menjauhkan tubuh dari Alea refleks. "Gila lo!" "Sst!" Alea membungkam bibir Saga, kali ini dengan jari telunjuknya. Seketika Alea jadi merasa seperti tukang c***l yang ketahuan mau memperkosa anak perawan. "Jangan teriak-teriak kali mas, entar si Gavin bangun noh!" ujar Alea berbisik. Setelah Saga pingsan tadi, orang-orang memilih untuk berhenti bermain. Dan langsung saja tidur untuk beristirat. "Lo ngelanggar perjanjian!" hardik Saga berbisik. Tentu saja, barusan cewek itu menciumnya, tiba-tiba pula. "Namanya juga kaget coi. Kamu sih teriak-teriak. Sekalian aja panggil warga satu kampung." cibir Alea sarkastik. Saga tak menggubris, memilih mendudukkan badannya. Menunduk memperhatikan Alea lurus. "Lo jadi betulan mirip kuntilanak dengan dandanan kayak gitu." "Ih, gombalannya mah anti-mainstreem amat deh!" cengir Alea centil. "Lo ngapain di kamar ini?" serbu Saga bertanya. "Jongkok. Gangguin kamu. Gak sengaja nyium kamu. Eh!" Seloroh Alea asal lalu menutup mulutnya. Namun tetap tertawa. Saga melihat jam di ponselnya. Sudah pukul dua ternyata. Tunggu, jam segini cewek itu belum tidur juga? "Kamu juga lagian, ngapain sih sok-sokkan minum wyne? Udah tau tubuh kamu gak cocok minum gituan. Pasti gak pernah minum kan? Ditawarin minum waktu itu aja gak mau." "Mereka minta gue gantiin elo." Alea mendecak. "Mereka cuma nguji kamu doang kali. Gak ada yang maksa juga." "Tapi Gavin niat ngegantiin hukuman elo." Alea langsung membesarkan matanya. Menatap Saga curiga. "Wah wah wah!" Alea menarik sudut bibir jahil. "Cemburu ya? Cie cie!" godanya kemudian sambil mencoel-coel lengan Saga. Dengan raut wajah santai seperti tidak ada yang perlu disembunyikan, Saga menjawab. "Enggak. Gue cuma gak mau kalah doang dari Gavin." Alea mendecak tidak percaya. Tapi Saga terlihat biasa saja. Ah, tidak seru kalau begini. Lebih baik Alea balik ke kamarnya saja. Sudah kepergok juga kan? "Yaudah deh, aku balik ke kamar ya sayangku." Baru saja mau berdiri, Saga menuntun badan Alea untuk turun lagi. "Tanggung jawab dulu." "Hah? Tanggung jawab? Mau aku nikahin nih? Ayuk!" Saga mendelik. "Lo udah nyium gue. Jadi lo harus tanggung jawab." Seketika Alea jadi dag dig dug gak karuan. Mungkin karena Saga menatap bola matanya terlalu dalam. Atau karena cowok itu kelewat tampan? Saga berpikir sejenak, membuat Alea berdeham karena malas menunggu. Cowok itu lalu menghembuskan nafasnya santai. "Apa yang lo lakuin kalo habis mimpi buruk?" tanya Saga kemudian. "Tidur lagi." "Disaat perasaan lo lagi gak tenang?" Alea mikir-mikir. "Ngelakuin sesuatu yang bisa bikin nyaman kali ya?" ujar Alea asal. "Dulu waktu sering mimpi buruk biasanya aku di puk-puk-kin sebelum tidur sama kak Anin. Kalo enggak kak Anin suka genggamin tangan aku pas mau tidur." Tanpa sadar, Alea tersenyum. Mengingat kembali kenangan itu membuatnya merasa nyaman. Saga manggut-manggut paham. "Kayak gini?" Alea tersentak kaget. Cowok itu menarik tangannya tiba-tiba seraya membaringkan tubuh. Memeluk tangannya seperti memeluk bantal guling. "Kamu ngapain woi?" "Ngelakuin sesuatu yang bisa bikin nyaman." Jawab Saga anteng seraya memejamkan matanya perlahan. Astaga! Barusan itu pemandangan terindah yang pernah Alea lihat. Singkat lebaynya begitu. Saga terlihat sangat ganteng ketika memejamkan matanya. Dan sekarang, Alea bisa mendengar deruan nafasnya yang berangsur tenang. Tunggu, Saga sudah tidur. Secepat itu? Sejenak, Alea membiarkan tangannya berada dalam pelukan Saga. Merasakan kenyamanan itu sesaat sebelum kemudian menarik diri dan segera pergi dari sana. Menolak jauh-jauh perasaan aneh yang menerjangnya perasaannya kini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN