18-Party

956 Kata
Seperti rencana, mereka yang menginap di villa langsung saja bersiap-siap mendekorasi ketika pagi tiba. Mengatur interiornya sedemikian rupa sesuai konsep yang sudah dirancang. Alea lantas merenggangkan tangan dan lehernya, bersiap memulai. "Okey, waktunya beraksi!" Seru cewek itu sebelum kemudian mendorong meja mengatur tata letak. "Heran deh gue, kenapa lo gak nyewa orang aja sih?" keluh Anggi pada Luna seusai menarik meja. Luna mengedikkan bahu. "Hemat duit lah," kekeh cewek itu polos. "Nyewa meja aja udah berapa, nyewa waiter, belum lagi kue, makanan, minuman, barang-barang keperluan dekor aja juga dibeli semua. Makin tekor tabungan gue nyewa lagi." "Itu sih... Derita... Lo." timbrung Alea ngos-ngosan seraya mendorong meja penuh penghayatan. Matanya lalu tidak sengaja bertemu tatap dengan Saga yang muncul dengan sekotak barang. Alea seketika salah tingkah, apalagi mengingat Saga yang sempat memeluk lengannya tadi malam. Duh, jadi baper kan. Baru beberapa detik terhenyak dengan kemunculan Saga, matanya langsung berubah sinis ketika melihat kemunculan Ayana. Lebih menyebalkan lagi, cewek itu malah coba-coba mendekati Saga. Bertanya sesuatu pada cowok itu. "Sorry kak, aku mau minta pendapat kakak. Lebih bagusan yang warna ini atau yang ini ya kak?" tanyanya seraya menunjukan dua buah kain beda warna. "Ini buat main place-nya ya?" Ayana mengangguk. Saga lalu menunjuk kain yang warna navy kerlap-kerlip di tangan kiri Ayana. "Oke kak, makasih ya." Baru mengucapkan kalimat itu, Alea yang entah sejak kapan muncul diantara keduanya langsung merampas kain pilihan Saga tadi. "Biar gue aja yang masangin. Udah lo nganuin meja aja sono, hush... hush..." usir Alea galak sambil mendorong-dorong pelan bahu Ayana. Setelah sebelumnya memberi senyum yang hanya dibalas anggukan singkat dari Saga, Ayana mengalah dan pergi. Alea tersenyum menang. Baru saja menoleh ke samping, sialnya Saga sudah keburu menghilang. Juga ikutan pergi. "Saga ih!" Alea cemberut masam. Padahal tadi dia ingin mencuri kesempatan untuk menggoda Saga perihal tadi malam. Tapi karena sudah terlanjur, alhasil Alea terpaksa harus betulan menempelkan kain itu di dinding. Cewek itu kemudian mengambil tangga, untuk memanjat supaya bisa memasang sedemikian rupa kainnya hingga membentuk nilai estetika. "Kak Alea, kayaknya kainnya agak miring deh." Alea menoleh ke bawah, memperhatikan Ayana yang baru saja selesai mengatur tata letak meja. "Bawel amat deh." Gerutu Alea datar. Namun tetap memperbaiki posisi. "Finally done! Yeay! Akhirnya gue berhasil juga hor-eh-ehh-EHH!!!" Alea refleks kehilangan keseimbangan dan langsung memeluk tangga. Tapi sialnya tangga itu malah menjauh dari dinding, turut tidak seimbang. "HWAAAA!!! Gue mau jatoh ini HWAA!!! TOLONG!!!" Alea refleks melepas diri dari tangga, spontan terhuyung ke bawah. BRUK! Alea mendarat dengan mulus. Tunggu, kenapa lantainya empuk? Cewek itu lantas membuka matanya pelan-pelan. Refleks berjengit kaget begitu melihat sosok Saga yang tengah ia timpa. Sial. Di jarak yang rentan seperti ini, jantungnya malah berdegup gak karuan. Mampus... Saga tiba-tiba membalikkan posisi setelah sebelumnya membulatkan bola mata. Membuat Alea jadi makin tersentak kaget karena kali ini dia yang berada di bawah. Makin tersentak lagi ketika tangga yang tadi bersamanya itu jatuh di atas Saga. Menubruk bagian punggung cowok itu. "Saga!" Sambil memejamkan mata dan meringis, Saga bersuara tenang. "Lo gak papa kan?" Alea terdiam beberapa saat. Saga baru saja melindunginya. Dan Alea seketika tidak bisa menahan perasaannya sendiri. Meskipun mereka tengah menjadi pusat perhatian orang-orang sekarang. Seperti Gavin yang kini tengah mengepalkan tangan, menahan rasa cemburu dalam diam. Beberapa orang mulai berdatangan dengan berbagai pakaian rapi dan elegan. Memenuhi acara ulang tahun malam ini. Pesta masih belum dimulai, karena orang tua Luna masih berada dalam perjalanan. "Ayo minum-minum, anggap aja rumah sendiri." tawar Luna sebelum kemudian menyambut tamu yang lain. Alea yang tengah meneguk soft drinknya masih berkelabut dalam lamunan. Cowok itu benar-benar begitu baik padanya. Terhitung dari semua perlakuannya selama ini. Sial. Jangan bilang kalau Alea sudah mulai jatuh cinta dengan Saga? "Al, entar elu ya yang nyalain kembang api." Luna menyerahkan pemantik ke tangan Alea tiba-tiba. "Pas acaranya dimulai nanti. Okey, bie?" "Kok gue sih?" Yang ditanya malah pergi. Menyambut orang tuanya yang baru saja datang. Acara sebentar lagi dimulai. Alea sudah berdiri di depan kembang api. Namun ia sungguh tidak yakin bisa menyalakannya. Luna sudah memberikan kode. Dengan ragu-ragu, Alea menyalakan pemantik. Bersiap menyalakan kembang api. Namun tangannya pada akhirnya hanya berhenti di udara. Dia tidak akan pernah bisa melakukannya. Alea menurunkan tangannya, lantas segera pergi dari sana. Menimbulkan raut wajah bingung diantara orang-orang yang kini tengah melihatnya. Bagaimana bisa ia berani menghidupkan kembang api lagi? Alea benci kembang api. Kembang api sudah membuat kak Anin pergi. Karena kembang api, ia kehilangan satu-satunya orang yang menyayanginya. Dan kembang api, hanya akan membuatnya kembali mengingat kejadian buruk yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Cewek itu kini meringkuk di bawah pohon rindang yang cukup jauh dari lokasi pesta. Langsung saja menumpahkan tangisnya disana. Disaat seperti ini, Alea sangat merindukan Anin. Dan disaat yang sama, Alea juga kembali merasa bersalah tentang insiden hari itu. Semua yang terjadi itu karena dirinya. Karena itu ayahnya membencinya. Bahkan Alea sendiri, juga sangat membenci dirinya sendiri. "Seharusnya gue yang masuk ke sana. Bukan lo kak..." isaknya sesenggukan. Biasanya ketika ia menangis seperti ini, akan selalu ada sosok Anin yang selalu memeluk dirinya. Menenangkan dirinya. Menggumamkan kalimat-kalimat indah yang menyemangatinya. Namun sekarang, dia hanya bisa menangis sendirian. Tanpa ada orang lain yang akan peduli entah dimana ia sekarang. "Seharusnya lo gak ninggalin gue. Dan gue gak bakalan sendirian kayak gini... Huee huee..." "Lo gak sendirian." Mendengar suara itu, Alea lantas mendongakkan kepala. Melihat sosok pembicara barusan dengan air mata yang masih mengalir di pipi. Saga menyusulnya. Bahkan kini tengah menjongkok di hadapannya. Menatap manik matanya lembut penuh kehangatan. Bukannya berhenti, tangis Alea justru semakin pecah. Saga spontan mengulurkan tangan dinginnya perlahan. Membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat. Membiarkan air mata gadis itu jatuh membasahi kemeja navy yang ia kenakan. "Lo gak sendirian. Gue ada disini, buat nenangin perasaan lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN