19-Apartemen

942 Kata
Group chat Queensquad Luna, Anggi, You Luna : Aleaaa Luna : I'm sorry bbiee Luna : Gue beneran lupa lo phopia kembang apiii Alea membaca pesan grup dari Luna seraya naik ke atas tempat tidur. Setelah menyandarkan tubuh pada sisi ranjang, jarinya lantas menari lincah di atas keyboard. Luna : Im sorry bbiee Anggi : Gak usah dimaafin Al:v Anggi : Udah ayo kita musuhin aja:b Luna : Gak usah kompor deh bbie Alea : Hmm Alea : Gue juga sorry udah main cabut aja dari party kemaren Anggi : Sans aja bbie Luna : Gpp bbie gue ngerti kok Anggi : Btw lo pulang sama siapa kemaren Al? Anggi : Si Saga juga tiba-tiba ngilang aja kayak jelangkung Anggi : Oh jangan-jangan lo barengan sama Saga Al? Luna : What? Seriously? Luna : Gimana-gimana kronologinya? Alea tidak lagi membalas apalagi membaca pesan-pesan dari kedua teman sepergengannya yang sudah ia tebak betul ujung alurnya. Alhasil ia memilih keluar saja dari obrolan grup. Bicara soal Saga, Alea jadi teringat bagaimana cowok itu yang menenangkan dirinya. Disaat semua orang sibuk dengan pesta, hanya Saga yang sadar bahwa dirinya menghilang. Sudah tidak tau lagi bagaimana caranya menggambarkan kebaikan cowok itu. Terkadang Alea berpikir kembali, mengapa ia menjadikan Saga sebagai objek permainannya bersama kedua temannya? Mengapa tidak orang lain saja? "Argghh! Kenapa gue harus mikirin Saga coba?" Selang berapa detik pintu kamarnya dibuka. Mungkin cara orang itu membuka pintu terkesan tidak santai. Sehingga Alea sempat terkejut dibuatnya. Yudha, ayahnya, melengos masuk ke dalam kamarnya. Menuju ke meja belajar Alea dan segera mengambil charger milik cewek itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikit pun. "Ayah mau minjem cas Alea?" Yudha tidak menjawab. Hanya bergerak mencabut charger cewek itu dari stop kontak. "Cas ayah rusak?" "Ya, rusak gara-gata kamu yang selalu nyenggol." Alea menahan diri untuk tidak emosi. "Kenapa jadi Alea yang salah?" "Ya memang kamu selalu salah. Gak ada satu pun hal yang kamu kerjain itu bener." ketus Yudha dingin. "Kenapa sih ayah selalu nyalahin Alea? Gak semua hal yang Alea lakuin selalu salah kok. Alea juga pernah ngelakuin hal yang bener." "Apa? Benar kayak gimana? Buat rusuh, masuk BK, itu hal yang kamu anggap benar?" Alea bungkam. Melawan Yudha itu percuma saja. "Alea tau batasnya." gumamnya pelan. "Terserah kamulah. Toh kamu bisa mengurusi hidup kamu sendiri kan?" Yudha kemudian membanting pintu kamar Alea lagi. Menutupnya. Rasanya Alea ingin menangis saat itu juga, sebegitu bencinya kah Yudha padanya? "Aldo, kamu belum makan kan? Ayo kita makan di luar." suara Yudha terdengar dari luar, seperti sengaja memperbesar volumenya. "Gak perlu pedulikan yang satu itu. Dia bisa mengurus hidupnya sendiri." Alea tidak bisa lagi menahan tangisnya. Membiarkan matanya meneteskan air mata ketika perutnya meronta-ronta karena belum ada makan sejak siang tadi. Saga baru saja habis mandi seusai bermain gym diam-diam. Cowok itu lalu membuka laci, membuka tabung obat dan mengambil satu pil untuk ia minum. Ia lantas duduk di tepi kasur kemudian, seraya mengambil ponsel di atas nakas. Ada banyak spam chat dari Alea. Saga membaca semuanya. Namun karena ia sedang malas mengetik, ia memilih untuk video call dengan cewek itu saja. "Haiiiii seyengku!" sapa cewek yang memakai piama tidur hitam putih itu spontan. Saga hanya berdeham singkat. "Saga, kamu habis mandi? Hm, pantesan harumnya sampe kesini." "Kenapa Al?" tanya Saga to the point. Setidaknya cewek itu punya alasan kenapa mengechatnya malam-malam begini. Alea senyum-senyum penuh maksud. "Beliin aku makanan dong..." Saga menaikkan sebelah alis. "Beli sendiri." "Parah banget sih. Tau gak, ayah aku sama adek aku lagi makan di luar nih." "Ya terus?" "Saga ih!" Alea memberengut. "Ya aku gak diajak!" Saga hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Makanya ini aku laper banget. Mana dari tadi siang belum makan. Makin kurus nanti aku. Gak kasian kamu?" "Di rumah lo gak ada yang bisa dimasak?" Saga mengubah posisi dengan menaikkan kaki ke atas kasur. Duduk selonjoran. "Gak ada. Di rumah aku adanya cuma garem dapur, merica, bawang, ya cuma rempah-rempahnya doang. Terus kalo di dapur suka ada kecoa terbang lagi! Serem dong." Saga menghembuskan nafas pelan. "Kenapa gak ikut ayah lo aja? Nitip makanan apa kek?" "Ya menurut kamu aja. Ayah aku gak bakalan maulah. I have bad relation with him." "Kenapa?" Alea mengedikkan bahu acuh. "Kamu juga gak bakalan peduli kalau diceritain." "Gue bakal dengerin." ujar Saga menyanggah. "Yaudah ceritanya nanti aja, tapi kamu harus beliin aku makan dulu gimana?" Entah kenapa cewek itu begitu niat sekali memaksanya. Lagipula ini sudah hampir larut malam, akan sangat susah minta izin dari Wavi keluar rumah. Ditambah udara malam yang dingin tidak terlalu bagus untuknya. "Biar gue pesenin grab food aja kalo gitu." "Terserah kamu sih... Tapi aku lagi gak di rumah sebenernya. Jadi anterinnya ke apartemen aku aja ya." Saga menganggkat alis. "Apartemen?" Alea mengangguk anteng. "Yash, habis ayah sama adek aku pergi, ya aku juga ikutan pergi. Aku gak mau sendirian di rumah." Saga membulatkan bola mata agak kaget. Cewek itu pergi ke apartemennya sendirian malam-malam begini? "Di apartemen lo juga sendiri kan?" entah kenapa nada Saga malah berubah jadi cemas. "lo gak takut ada apa-apa emang? Gimana kalo ada yang bobol apartemen lo pas lo lagi tidur? Gimana kalo ada sesuatu dan lo gak sadar karena lo lagi tidur? Di luar sana sendirian bahaya, Al!" Alea mengernyitkan kening bingung. "Aku udah biasa kali sayang..." Saga menghembuskan nafasnya gusar. Ketika Alea mabuk hari itu saja Saga tidak tega meninggalkannya sendirian. Bahkan Saga rela menemani sampai pagi–meski hanya tidur di atas karpet– supaya bisa memastikan Alea tetap aman dan baik-baik saja. Mana mungkin sekarang ia bisa membiarkan cewek itu bermalam sendirian dengan perut lapar pula! Tentu Saga tidak akan tega. "Tunggu di apartemen lo. Gue anterin makanan buat lo sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN