"Yeayyy!!! Akhirnya aku bisa makan! Duh senangnya!" celetuk Alea riang dengan ekspresi berlebihan setelah membukakan pintu apartemen untuk Saga.
Saga menyodorkan paper bag yang berisi ayam goreng tepung ke tangan Alea. "Gue bukan kurir. Jadi jangan harap gue bakalan beliin lo lagi next time."
Alea masih memandangi Ayam gorengnya berbinar-binar. "Duhhh, jadi makan sayang deh aku sama kamu. Cium jangan?"
"Nggak."
"Oke. Ayo dong masuk, udah kayak office boy yang nagih tips aja kamu berdiri di luar."
Pergi keluar diam-diam tanpa sepengetahuan Wavi saja sudah seperti berada di ambang kematian, apalagi ketahuan berada di dalam apartemen perempuan. Saga betulan tidak bisa membayangkan lagi kedepannya jika hal itu betulan terjadi.
Saga lantas melangkah masuk ragu-ragu ke dalam apartemen Alea. Mengikuti cewek itu yang memilih makan di atas kasurnya.
"Kenapa makannya di kasur?"
Rasanya agak aneh berada di kamar perempuan. Katakanlah ini kedua kalinya Saga menginjakkan kaki di kamar Alea. Tapi kali ini terkesan berbeda. Tengah malam, Di kamar apartemen, Kasur, Alea yang memakai piama tidur tipis, astaga, Saga bisa gila kalau fantasi liarnya malah muncul disaat yang tidak tepat.
Wajar saja, dia laki-laki normal. Untungnya dia masih bisa menepis pemikiran kotor itu jauh-jauh.
"Suka aja. Kamu itu kenapa sih doyannya berdiri terus? Sini duduk sini," Alea menepuk-nepuk bagian kasur di sebelahnya. Mengujarkan cowok itu agar segera duduk.
Saga malah menatap Alea was-was. Memilih duduk di tepi kasur, agaknya menjaga jarak dari Alea yang tengah menyandar di kepala kasur dan mulai makan.
"Kenapa gak ikut ayah lo makan di luar aja?"
Alea mendecak sebal, tidak jadi menyuapkan nasi ke dalam mulut. "Kan udah dibilangin sih pas di telepon."
"Gue mau yang lebih jelas."
Alea menghembuskan nafas pelan. Sebenarnya ia enggan membahas soal keluarganya kepada orang lain. Terutama tentang hubungannya dengan ayahnya. Ia tidak terlalu suka orang lain mengetahui seberapa rapuhnya dia.
Alea menatap Saga sekilas, sebelum bersuara pelan. "Ayah benci sama aku."
Saga menaikkan sebelah alis. "Kenapa?"
Raut wajah Alea berubah samar. "Karena gara-gara aku, kak Anin meninggal."
Saga semakin mengerutkan kening tidak mengerti. Namun tetap diam mendengarkan.
"Kak Anin meninggal 13 tahun yang lalu. Kak Anin itu ibarat kata kayak hoki buat keluarga, aku juga gak ngerti sih soal ini. Intinya ayah sayang banget sama kakak. Bunda juga." Alea menghembuskan nafasnya gusar.
"Semuanya sayang kak Anin. Karena kak Anin itu selain baik, dia juga pinter banget. Gak kayak aku. Udah bandel, nakal, gak bisa dibilangin pula. Cuma kak Anin yang peduli sama aku."
Samar-samar bisa Saga liat kalau mata cewek itu kelihatan berkaca-kaca. Namun Alea masih tetap menyunggingkan senyumannya, sendu.
"Dan gara-gara kenakalannya aku, kak Anin yang jadi korbannya. Kalau aja waktu itu aku gak bandel, pasti insiden itu gak bakal terjadi. Bunda pasti gak bakal syok berat dan ujung-ujungnya juga meninggal. Semua gara-gara aku. Makanya ayah benci aku."
Alea malah tersenyum lagi, seolah ia baik-baik saja. Padahal Saga tau betul kalau ia terluka.
"Tapi aku udah biasa kok sama sikap ayah."
"Bokap lo bukan ngebenci lo, dia cuma belum bisa nerima kenyataan."
Alea mengedikkan bahu. Tidak tahu, dan tidak ingin tahu. "Udah ah kok jadi ngedongeng sih? Aku kan mau makan."
Saga mendengus, memandang cewek itu simpatis. "Yaudah makan dulu. Jangan sampe lo malah jadi sakit maag gara-gara telat makan."
Alea kembali tersenyum riang. Lalu memakan ayamnya dengan antusias.
"Btw, air minumnya mana ya?"
Saga menaikkan sebelah alis. "Emang di apartemen lo gak ada air putih apa?"
Alea menggeleng. "Nggak ada tau. Di apartemen bunda aku lagi kosong. Belum sempet beli." cengirnya.
"Gak ngerti lagi deh gue."
"Beliin minum dong!" pinta cewek itu memelas.
"Mager."
"Ih Saga mah! Jahat banget sih? Tega kamu ngeliat aku keselek tulang ayam gara-gara gak ada air minum?"
Saga mendelik datar. Ini kenapa dia malah terkesan jadi kurir tiba-tiba? Dengan mendengus malas, Saga akhirnya pasrah berdiri juga.
"Dimana ada warung di deket sini?"
Alea langsung saja memamerkan semua giginya, merasa menang.
"Di seberang apartemen ada kok. Cari aja. Makasih banget ya sayangku, jadi makin sayang deh..." Saga hanya mendelik malas sebagai respon.
Saga baru saja kembali dari membeli sebotol air mineral ketika orang-orang berseru panik dan berlarian keluar. Ia juga baru sadar kalau alarm kebakaran apartemen sedang berbunyi nyaring. Seketika Saga langsung keringat dingin. Ada kebakaran?
Saga langsung saja menghentikan salah satu orang yang tengah berlari. "Ada apa mbak?"
"Ada kebakaran di lantai 5!" setelahnya wanita itu langsung pergi menyelamatkan diri.
Ada kebakaran di lantai 5.
Tunggu, kamar Alea berada di lantai 5.
Itu artinya, kebakaran terjadi di lantai kamar apartemen Alea. Ini gawat.
Saga buru-buru berlari melawan arus. Dengan nekatnya mencari keberadaan Alea. Saga benar-benar panik kalau Alea ternyata terjebak di dalam kamarnya. Meskipun ia sendiri juga panik karena trauma masa lalunya, juga muncul disaat yang sama.
Nafas saga bahkan berderu cepat sekarang. Dadanya terasa sesak, namun ia tetap nekat menerobos orang-orang dan bersikeras menyelamatkan Alea. Tidak peduli entah apa yang akan terjadi padanya nanti.
Tapi ujung-ujungnya ia tetap tidak mampu melihat kobaran api yang membakar habis selasar. Membara dan melahap tiap kamar. Tapi tetap saja, ia harus mencari Alea. Harus.

"ALEAAA!!!"
"ALEA LO DIMANA?"
"ALEA JAWAB GUE!"
"Ngapain kamu disini? Turun! Apinya makin besar!" tegur salah satu petugas keamanan yang tiba-tiba muncul. Menariknya untuk segera menyelamatkan diri.
"Tapi pacar saya masih di dalam pak!"
Petugas itu bersikeras menariknya pergi. Membawanya turun kembali ke lantai dasar dan sama-sama pergi keluar apartemen.
Nafas Saga makin memburu. Ia tidak dapat menemukan Alea. Tidak tahu dimana cewek itu sekarang. Saga panik. Sangat panik. Dengan dadanya yang makin sesak sehingga benar-benar sulit bernafas. Kebakaran itu membuat kepalanya jadi pusing dan berputar-putar.
"Saga?"
Sampai kemudian suara orang yang ia kenal membuatnya segera menoleh ke samping. Melihat Alea yang sedang menyentuh lengannya, menatapnya bingung.
Detik berikutnya, Saga jatuh pingsan di pelukan cewek itu.