Keluarga Penuh Masalah
Hari itu menjadi begitu panjang dan melelahkan bagi Anastasya. Keputusan untuk memenuhi undangan menghadiri premier film baru yang dibintangi mamanya merupakan keputusan salah. Seandainya saja dia menolak datang, tentu dia tidak akan menjadi incaran reporter.
Menjadi anak seorang artis papan atas membuatnya ikut disorot media. Bahkan sedari dia masih dalam kandungan. Kemudian ketika lahir, foto pertamanya dijual dalam nominal yang tidak sedikit untuk dipublikasikan secara eksklusif oleh tabloid terkenal saat itu. Pun hingga dewasa, Anastasya masih terus mendapat sorotan.
Apalagi dia tumbuh dewasa dan menjelma bak dewi. Punya paras menawan—menuruni wajah mamanya—berhidung bangir, punya bibir tipis berwarna merah muda alami, matanya indah dan berbinar kala tersenyum. Lebih daripada itu, Anastasya juga punya postur tubuh ideal yang membuatnya terlihat luar biasa saat memakai baju apapun. Dan sekarang popularitasnya kian memuncak sejak bertunangan dengan Franz. Selebgram tampan yang sedang hype. Sekaligus pewaris gurita bisnis batu bara orang tuanya. Sungguh, menjadi Anastasya merupakan impian semua orang. Karena di mata mereka, hidup Anastasya sangat lah sempurna.
"Anastasya, bagaimana tanggapanmu atas film yang dibintangi mamamu?"
Seorang reporter muda, pria berkacamata yang memakai seragam salah satu stasiun televisi bertanya. Dia mendapat privilege untuk bertanya tanpa harus berebut dengan reporter lain yang memenuhi gedung bioskop tempat diadakan premier film baru mama Anastasya.
"Mama sangat luar biasa. Peran sebagai seorang pejuang wanita merupakan suatu hal baru untuk Mama. Tapi beliau bisa memerankannya dengan sangat baik."
Anastasya mendapat senyum simpul dari mamanya tatkala mereka saling toleh dan beradu pandang. Devina Tan, mama Anastasya kemudian menyenggol lengan manajernya yang kebetulan ada di sampingnya. Memerintah tanpa bersuara. Mama Anastasya menyuruh agar manajer memerintahkan reporter supaya fokus padanya saja.
Devina rupanya merasa tersaingi oleh putrinya sendiri. Merasa putrinya mencuri spotlight yang harusnya untuknya. Tapi bukankah seperti itu cara media bekerja? Mereka akan fokus pada orang yang lebih populer. Meskipun bukan artis tapi Anastasya punya reputasi yang lebih unggul dibanding mamanya. Apalagi Devina sudah hampir berusia setengah abad. Sinarnya mulai redup.
"Anastasya, mengenai hubunganmu dengan Franz. Apa kalian akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?"
Lagi, pertanyaan untuk Anastsya. Hal itu membuat Devina tidak senang. Anastasya kembali beradu pandang dengan mamanya. Dia melihat ada kekesalan dari sorot mata mamanya. Namun mereka berdua tidak bisa bertindak seenaknya sebab moncong kamera sepenuhnya menghadap mereka dan membidik gambar setiap detik.
"Well ... sepertinya belum untuk waktu dekat ini. Aku dan Franz masih sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing."
"Ya, Franz dan Anastasya sedang dalam proses membuka restoran baru. Selain itu Anastasya semakin fokus bekerja di perusahaan keluarga. Dia kelak yang akan menjadi pewaris utama perusahaan menggantikan ayahnya."
Mama Anastasya tiba-tiba menimpali pernyataan Anastasya dan tidak lupa menyombongkan diri. Mendengar itu Anastasya pun membenarkan dengan mengangguk dan membingkai senyum.
Dia makin gerah berada di sana. Masih dikerumuni reporter dan mendengar mamanya menjawab pertanyaan sambil menyombongkan diri atau berusaha menyerobot ketika reporter memberinya pertanyaan.
Hampir tiga puluh menit dia berdiri mendampingi mamanya, bersikap seolah mereka pasangan ibu-anak harmonis. Selesai sesi wawancara, Anastasya langsung memisahkan diri dari mamanya. Tanpa pamit Anastasya melenggang. Asistennya, Diana, membantunya memegangi ekor gaun satinnya yang berwarna salem cantik beraksen mutiara dan kristal.
"Kesel, ya, Mbak?" tanya Diana.
"Ada yang lebih kesel karena pertanyaan dari reporter lebih banyak ke aku daripada dia," jawab Anastasya.
Yang dia maksud adalah mamanya, yang memang keki sepanjang sesi wawancara. Kwalitas aktingnya yang lumayan itu berhasil menyembunyikan kekesalan yang dipendam. Padahal sebenarnya hampir meledak.
Sebelum benar-benar meninggalkan area premier film, Anastasya menoleh ke arah mamanya. Memerhatikan dari jauh mamanya yang bergaun hitam seksi dengan belahan d**a berbentuk V. Mamanya asyik mengobrol dengan lawan mainnya. Aktor muda bernama Jack yang berwajah indo. Mereka berdua terlihat sangat akrab, mama Anastasya bahkan tidak segan meletakkan tangannya di d**a Jack sambil tersenyum manja.
"Mereka kelihatan deket banget," cetus Diana.
"Mungkin ada affair," balas Anastasya. Wajahnya minim ekspresi. Seperti sudah maklum dengan hal itu.
Anastasya berlalu didampingi Diana. Keluar dari tempat premier film. Keduanya berlalu melewati rute khusus yang sudah disediakan panitia. Langsung menuju area parkir belakang sehingga tidak berpapasan dengan orang-orang.
"Langsung pulang, Pak. Aku capek," ujar Anastasya setelah masuk ke mobilnya. Sedan BMW keluaran terbaru.
Sopir Anastasya mengiyakan. Bapak paruh baya bernama Dirman itu bisa melihat raut lelah di wajah Anastasya melalui spion di dalam mobil. Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan area parkir.
"Di, aku mau tidur," kata Anastasya.
"Baik, Mbak. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai rumah."
"Terima kasih."
Diana pun memerintahkan agar Pak Dirman memerhatikan laju kendaraan supaya Anastasya bisa tidur nyaman selama perjalanan kembali ke rumah.
***
Bullshit kalau Anastasya punya hidup sempurna seperti yang media citrakan atau orang-orang gibahkan. Anastasya malah merasa sebaliknya. Ya, dia memang bergelimang materi, tapi selebihnya dia fakir. Cinta dan kasih. Dua hal penting dalam hidup itu tidak dia dapatkan. Anastasya bahkan lupa kapan terakhir kali dia merasakan cinta dan kasih yang hangat.
Orang tuanya? Mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Ayahnya, Febrian Hakim, seorang penguasaha yang punya perusahan hampir di segala bidang itu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan ambisinya. Sedang mamanya, Devina Tan yang artis cantik papan atas itu juga sibuk dengan dunianya, selain sibuk dengan brondong yang berganti-ganti dia pelihara. Mereka seperti lupa kalau di antara mereka ada Anastasya. Yang secara hukum dan legalitas merupakan anak mereka namun secara emosional tidak.
Sedangkan Franz. Anastasya tidak mau menggantungkan kebahagiaannya pada pria modelan Franz. Yang tidak memerdulikan Anastasya dan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Menghelat pesta-pesta di kelab malam. Flirting dengan banyak perempuan. Dan memposisikan Anastasya sebagai persinggahan pamungkas kala dia bosan dengan berbagai pesta dan perempuan-perempuannya.
Lalu mengapa mereka bertunangan? Apalagi kalau bukan karena kepentingan keluarga. Baik orang tua Anastasya maupun Franz menghendaki itu. Supaya gurita bisnis kedua keluarga semakin besar. Anastasya dan Franz hanya menuruti keinginan kedua orang tuanya. Lebih-lebih Anastasya yang beranggapan kalau dirinya cuma boneka yang sengaja dilahirkan untuk menjadi alat menguntungkan bagi orang tuanya. Kebahagiannya tidak penting.
Anastasya mendengar suara gaduh di lantai dasar rumahnya. Tentu saja itu mamanya. Yang pulang dari acara premier film saat hari sudah berganti. Mungkin dia baru pulang dari kelab malam dan tentu sekarang dalam keadaan mabuk.
Merasa tergelitik, Anastasya bangkit dari ranjangnya. Dia ingin tahu keributan macam apa yang mamanya buat. Terakhir kali mamanya pulang dalam keadaan teler berat tak lupa dia juga membawa brondongnya—salah satu dadi beberapa lelaki bayaran yang usianya lebih muda—pulang ke rumah. Kejadian yang baru saja terjadi minggu lalu tersebut menjadi malapetaka tatkala keesokannya ayah Anastasya muncul di rumah tanpa pemberitahuan. Ayah Anastasya murka mendapati istrinya membawa seorang lelaki muda masuk ke dalam rumah yang dia bangun dengan uangnya. Pertengkaran besar pun terjadi.
Dan kali ini Anastasya ingin tahu ulah macam apa yang mamanya ciptakan. Dari lantai dua Anastasya melihat mamanya kembali pulang dalam kondisi teler berat. Tatanan rambutnya yang semula rapi, dikeriting gantung indah, kini sudah tak berbentuk karena kusut dibanyak tempat. Gaun malamnya pun sudah compang-camping. Ada sedikit robekan di bagian bahu kanan. Mama Anastasya tidak pulang sendiri. Ada Jack di sisinya yang juga kelihatan berantakan. Jas yang saat premier film dia pakai sudah tanggal entah ke mana dan kancing kemejanya sudah terbuka dua baris. Membuat d**a berototnya menyembul dari balik kemeja.
Anastasya baru akan berbalik kembali ke kamarnya ketika dia mendengar mamanya meneriakinya keras.
"ANASTASYA!"
Anastasya memandang mamanya dari atas. Mamanya tetap teler. Anastasya tahu kalau mamanya ingin mengungkapkan sesuatu ... tepatnya meluapkan kesal dan amarahnya.
"Anastasya, harusnya kamu nggak dateng ke acara premier film, Mama. Kamu hancurin semuanya-" Kalimat Devina Tan terputus. Tubuhnya terhuyung-huyung efek alkohol. Beruntung ada Jack yang menyisiinya dan setia memeganginya agar tidak jatuh. "Kamu selalu menghancurkan kebahagiaan Mama. Mama menyesal sudah lahirin kamu."
Anastasya hanya diam. Dia sudah terbiasa mendengar mamanya mengata-ngatainya semacam itu.
Sebelum mamanya kembali meracau dan merusak mood-nya atau membuatnya tersulut dan ikut terbawa emosi, akhirnya Anastasya memilih segera kembali ke kamar. Dia tidak memperdulikan keberadaan Jack. Sebab pria itu pada akhirnya akan berakhir di kamar mamanya juga.
Anastasya membanting pintu kamar. Melangkah kesal ke ranjang dan menjatuhkan diri di sana. Anastasya melirik ponselnya. Dia ingin melaporkan kejadian dini hari kali ini pada ayahnya. Agar ayahnya pulang dan 'menghajar' mamanya. Tapi Anastasya memilih mengurungkan niat. Dia sudah lelah dengan segala carut-marut masalah keluarganya.
***